Gerindra Klarifikasi Dugaan Ketua DPC Aniaya PAC Sindang Jaya Hingga Meninggal

Rabu, 31 Juli 2019 21:18 Reporter : Kirom
Gerindra Klarifikasi Dugaan Ketua DPC Aniaya PAC Sindang Jaya Hingga Meninggal Ilustrasi Penganiayaan. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kabupaten Tangerang, mengaku telah mendengar dugaan kasus penganiayaan yang dialami Ketua Pimpinan Anak Cabang Partai Gerindra Sindang Jaya, Tasikin Doni hingga meninggal dunia oleh salah satu petinggi DPC Gerindra Kabupaten Tangerang.

Sekretaris DPC Partai Gerindra Kabupaten Tangerang Imam Turmuji mengaku, secara pribadi, pernah mengkonfirmasi langsung informasi tersebut kepada RGS, terduga pelaku. Namun yang bersangkutan tidak mengakui adanya dugaan penganiayaan. Bahkan menurut RGS, dugaan tersebut adalah berita hoaks.

"Saya sudah klarifikasi kepada yang bersangkutan, bahwasanya informasi itu tidak benar alias hoaks," terang Imam Turmuji, Rabu (31/7), dikonfirmasi.

Diterangkan dia, secara struktur partai memang belum ada pembahasan terkait informasi tersebut. Pihaknya, juga akan memintai keterangan secara resmi terhadap RGS dan keluarga korban.

"Informasi ini sebenarnya sudah menyebar hampir ke seluruh pengurus DPC dan PAC se-Kabupaten Tangerang. DPD Banten juga sudah mendengar. Tapi saat diklarifikasi, menurut yang bersangkutan berita ini hoaks. Kita akan coba klarifikasi kembali," jelas Imam.

Dihubungi terpisah, sekretaris DPD Partai Gerindra Provinsi Banten Andrasoni mengaku, informasi ini memang sudah pernah mendengarnya. Bahkan kedua belah pihak sudah pernah coba dikonfirmasi oleh DPC dan hasilnya nihil alias tidak ada dugaan penganiayaan itu.

Namun menurut Andrasoni, jika pihak keluarga sudah membuka informasi ini kepada awak media, tentu harus dibuktikan kebenarannya. Bila perlu pihak keluarga juga membuat laporan ke polisi dengan bukti-bukti lengkap.

"Secara aturan, jika ada kasus hukum yang menimpa pimpinan partai politik, tentu harus diselesaikan secara hukum. Di internal parpol akan menunggu keputusan pasti dari proses hukum itu," terangnya, melalui sambungan telepon selularnya.

Andrasoni menjelaskan, karena secara internal belum mengkonfirmasi masalah ini, maka DPD belum mau menanggapinya. "Karena belum ada terkonfirmasi, artinya kita belum bisa menyikapi masalah ini di internal," tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, Salah satu kerabat korban, yang tidak mau disebutkan namanya menjelaskan, kematian pria yang akrab disapa Doni itu, sangat janggal. Mengingat korban tidak pernah mengalami sakit parah sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di RS Anisa, pada Mei 2019 lalu.

Kerabatnya itu, bahkan menduga kematian almarhum Tasikin Doni, karena aksi penganiayaan yang dilakukan seorang petinggi Gerindra di Tangerang berinisial RGS. Mereka baru berani bicara ke media tiga bulan kemudian setelah korban meninggal karena takut.

"Kami dapat keterangan dari almarhum sebelum meninggal. Jadi satu hari pasca pencoblosan, tanggal 18 April, korban mengumpulkan form C1 dari TPS, tapi karena terjadi salah komunikasi, korban membawa berkas form C1 ke kantor DPC. Atas kesalahan itu, diduga pelaku penganiayaan, RGS meminta korban datang ke rumah untuk menyerahkan form C1 tersebut," terangnya, Selasa (30/7).

Di rumah RGS ini, kemudian korban mendapat perlakuan tak wajar, mulai dari caci maki, dimarahi hingga dipukul dan dicekik sampai terjatuh.

"Korban sempat menceritakan masalah ini ke saya dan teman-teman PAC lainnya. Bahkan masalah ini sudah pernah dibahas di DPC. Pasca kejadian, korban juga enggan melapor kepada pihak berwajib dengan alasan keamanan keluarga, padahal banyak pihak ingin membantu membuat laporan Polisi saat itu," terangnya dihadapan sejumlah wartawan.

Sementara keterangan dari rekan korban lainnya, Cahyo mengungkapkan, kalau dirinya baru mengetahui adanya aksi penganiayaan itu, setelah korban dirawat di RS Anisa Kota Tangerang.

"Berdasarkan keterangan rekan-rekan korban yang saya temui di RS, menyebutkan Doni memang dipukuli oleh ketua DPC Partai Gerindra di rumah pelaku. Saya sempat mengajak keluarga korban untuk melapor ke polisi, tapi keluarganya takut. Keluarga hanya berharap pelaku meminta maaf secara langsung," bilangnya.

Cahyo menjelaskan, sesuai keterangan dari istri korban, setelah terjadi penganiayaan, Doni sering mengeluh sakit.

Padahal menurut keterangan dokter, semua organ tubuh seperti ginjal dan jantung tidak ada masalah. Hanya saja lambung korban bocor dan gas yang dihasilkan dari lambung tersebut menyebar ke seluruh organ tubuh sehingga korban mengalami sesak napas.

"Kejadian itu diceritakan semuanya baik ke orang-orang terdekat maupun ke ketua RT yang ada di perumahan tempat korban tinggal. Tapi korban tidak mau melapor," terang dia.

Dihubungi terpisah, Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Tangerang RGS membantah, informasi yang menyebutkan dirinya telah melakukan penganiayaan terhadap salah satu pengurus partai tersebut.

"Tidak benar, itu berita hoaks, ada yang ingin menjatuhkan saya secara politik. Kalau ada saksi, ya sudah lapor saja ke polres, nanti saya tangkap dia. Saya tangkap dia nanti, lapor saja semuanya," jawab RGS.

Dirinya, dengan tegas bahkan menyebutkan bahwa kematian korban, karena sakit yang diderita.

Hal itu diperkuat dari hasil pemeriksaan medis rumah sakit yang menyebutkan korban mengidap penyakit lambung, bukan karena pemukulan.

"Kalau terkait luka lebam pada korban, harusnya ada laporan ke polres. Inikan tidak ada laporan atau BAP," terang RGS. [rnd]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini