Ganjil-Genap Kembali Berlaku, Ini Analisa Potensi Penambahan Cluster Baru Covid-19

Minggu, 2 Agustus 2020 23:00 Reporter : Rifa Yusya Adilah
Ganjil-Genap Kembali Berlaku, Ini Analisa Potensi Penambahan Cluster Baru Covid-19 ganjil genap. ©2018 liputan6.com

Merdeka.com - Kebijakan Ganjil Genap di DKI Jakarta akan kembali diberlakukan mulai Senin, 3 Agustus 2020. Langkah itu dinilai kurang tepat atau keliru. Ditakutkan berdampak pada penularan virus Corona yang semakin meningkat sehingga menciptakan cluster baru, yaitu cluster transportasi umum.

"Kebijakan ini keliru. Akan terjadi pemenuhan. Di mana physical distancing-nya? Saya khawatir justru akan muncul cluster baru di transportasi umum," kata Pengamat Kebijakan Publik, Trubus Rahardiansyah saat dihubungi merdeka.com, Minggu (2/8).

Trubus menambahkan, sebelum diberlakukannya ganjil genap, jumlah pengguna transportasi umum sudah banyak. Apalagi jika ganjil genap kembali diterapkan. Ia melihat, penumpukan penumpang bukan hanya terjadi di dalam transportasi umum saja. Namun akan ada antrean panjang di halte dan stasiun. Bahkan, akan semakin banyak warga yang menggunakan ojol untuk ke halte atau stasiun. Menurutnya, perlu pertimbangan yang serius karena titik penularan akan semakin banyak lagi.

"Dengan ganjil genap ini, akan terjadi penularan yang tinggi. Orang berkerumun, antre di halte, stasiun. Mereka naik ojol, pakai helm ojol. Kan bisa menular lewat helm,” ujarnya.

Jika Pemprov DKI tetap memaksa menerapkan ganjil genap, maka ia meminta Pemprov DKI Jakarta untuk menyediakan bus gratis. Armada yang disediakan juga harus banyak. Walaupun Pemprov DKI akan menambah 25 ruas jalan dan 551 armada Transjakarta, Trubus menilai jumlah tersebut masih kurang. Pasalnya, setelah diberlakukan ganjil genap, ia yakin akan terjadi penambahan jumlah penumpang transportasi umum.

"Akan terjadi penumpukan, ini harus diantisipasi oleh Pemprov. Harus disediakan bus gratis. Meskipun akan ada penambahan 551 busway, tapi masih tidak akan cukup," ujarnya.

Cluster perkantoran yang sudah diakui oleh Pemprov DKI Jakarta sebenarnya tidak murni berasal dari kantor saja. Trubus melihat, cluster ini juga berasal dari transportasi umum. Hal ini dikarenakan tidak semua karyawan memiliki kendaraan pribadi. Jam pulang kantornya pun reatif sama, apalagi pegawai kementerian-kementerian dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

"Cluster di perkantoran itu kan berasal dari OTG, tapi juga menular di transportasi umum. BUMN dan kementerian kan jam pulangnya sama. Terjadi kepenuhan," pungkasnya. [did]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini