Firli Seorang Dinilai Tak akan Mampu Melumpuhkan KPK

Jumat, 13 September 2019 17:07 Reporter : Merdeka
Firli Seorang Dinilai Tak akan Mampu Melumpuhkan KPK Firli Bahuri. ©2019 Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Kekhawatiran sejumlah kalangan atas terpilihnya Irjen Firli Bahuri sebagai ketua KPK yang baru ditepis Peneliti senior LIPI Syamsuddin Haris. Dia menilai tidak ada yang bisa melumpuhkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jika hanya satu pemimpin KPK yang melakukannya.

Menurut dia, sistem kepemimpinan di KPK adalah kolektif kolegial, di mana ada lima pimpinan yang mempunyai suara yang sama terkait suatu kebijakan di internal lembaga antikorupsi itu.

"Akan ditentukan oleh empat wakil pimpinan. Kalau empat pimpinan itu di jalan yang benar mungkin Firli akan berhadapan dengan mereka," kata Syamsuddin di Jakarta, Jumat (13/9).

Di samping itu, lanjut Haris, akan sulit pula melawan resistensi dari internal pegawai di KPK yang sudah terbangun budaya antikorupsi.

Selain itu, Syamsuddin juga meminta Presiden Joko Widodo atau Jokowi guna mengawal revisi undang-undang KPK supaya tidak sebagaimana yang dikehendaki oleh DPR. Menurutnya, jika UU KPK itu direvisi sebagaimana sesuai dengan keinginan DPR, maka siapa pun pimpinannya KPK tetap tidak bisa berkutik.

Namun, kata dia sejauh ini Jokowi sudah dengan baik tidak menurut kemauan DPR yang hendak merevisi poin penting dalam UU KPK. Dalam konteks ini, dia juga mengapresiasi langkah Jokowi tersebut.

"Firli pun tidak bisa berbuat apa-apa kalau undangan-undangnya secara substansi masih sama," ucapnya.

Sebelumnya, terpilihnya Irjen Firli Bahuri rupanya memicu pro dan kontra. Hal itu lantaran dirinya sempat diduga melakukan pelanggaran berat kode etik.

Komisioner KPK Saut Situmorang menegaskan, terdapat dugaan pelanggaran berat yang dilakukan oleh mantan Deputi Bidang Penindakan KPK, Irjen Firli Bahuri.

"Perlu kami sampaikan hasil pemeriksaan direktorat pengawasan internal adalah terdapat dugaan pelanggaran berat (terhadap Firli)," kata Saut.

Firli sebelumnya diduga telah melanggar kode etik dengan bertemu Tuan Guru Bajang (TGB) yang saat ini berkapasitas sebagai saksi dalam kasus dugaan suap PT Newmont. Namun, dia telah mengeluarkan bantahan atas tudingan tersebut.

"Saya tidak melakukan itu tapi kalau bertemu, iya. Saya bertemu pada 13 Mei 2018," jelas Firli saat menjawab pertanyaan Tim Pansel Capim KPK, di Kantor Sekretariat Negara, Jakarta.

Firli mengaku, tujuannya pergi ke Nusa Tenggara Barat karena ada keperluan serah terima jabatan yang harus dihadiri.

Dia mengklaim sudah meminta izin ke pimpinan KPK untuk hal itu. Sesampainya di lokasi, Firli diajak bermain tenis bersama petenis nasional bernama Panji. Secara kebetulan, menurut dia, TGB datang menghampiri.

"Saya dateng 06.30 (WIT), dan 09.30 (WIT) TGB dateng. Saya tidak mengadakan pertemuan tapi bertemu iya, dan masalah ini sudah diklarifikasi ke pimpinan," jelas Firli.

Reporter: Yopi Makdori

Sumber: Liputan6.com [bal]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini