Fenomena cewek bispak jajakan diri via media sosial
Merdeka.com - Kasus RA, mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Gunung Djati Bandung, yang mengunggah foto seksi dan menjajakan diri melalui Twitter merupakan bagian dari praktik prostitusi terselubung yang sudah lama eksis di media sosial selama ini. Entah akun itu palsu atau asli, namun media sosial sudah lama dimanfaatkan bagi sebagian pemiliknya untuk menjajakan dirinya.
Buka saja Twitter dan Facebook dan gunakan kata pencari bispak (bisa dipakai) atau cewek seksi, ribuan akun akan muncul dengan foto-foto seronok. Mereka menawarkan berbagai layanan. Dari sekadar foto bugil, video panas, hingga menerima ajakan berkencan dengan tarif ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Bahkan, untuk mengefektifkan promosi agar menjadi viral, ada yang membuat semacam grup atau fanspage yang saling mempromosikan akun-akun cewek bispak. Isinya berupa daftar akun-akun dengan menggunakan tanda pagar (hashtag) tertentu dan foto yang menggunakan watermark (tanda khusus) yang menandakan sebagai bagian dari akun bispak. Dengan bergabung dalam grup itu, dijamin akun asli.
Pengamat sosial yang juga lulusan S2 Kriminologi UI, Chazizah Gusnita mengatakan, fenomena akun-akun bispak di media sosial sebenarnya merupakan kelanjutan dari model sejenis berupa SMS yang berisi penawaran cewek-cewek.
"Dulu kan pernah ada juga SMS yang berisi penawaran-penawaran seperti itu. Sekarang teknologi berkembang, ya dimanfaatkan sebagai cara marketing yang ampuh," ujarnya saat dihubungi merdeka.com, Senin (16/2).
Bagi dia, fenomena akun bispak agak sulit diberantas sebab polisi baru bisa mengusut jika ada aduan. "Untuk kasus seperti ini masuknya delik aduan. Selama tidak ada yang dirugikan dan tidak ada aduan, polisi tidak akan mengusutnya," pungkasnya.
(mdk/tyo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya