Partai Komunis China (PKC) baru-baru ini menggelar sidang pleno yang sangat krusial di Beijing, menegaskan arah kebijakan utama negara untuk lima tahun mendatang. Sidang yang berlangsung pada 20-23 Oktober 2025 ini secara resmi mengesahkan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) ke-15 China periode 2026-2030.
Dalam Repelita tersebut, dua agenda strategis menjadi sorotan utama, yakni komitmen untuk mendorong Reunifikasi Taiwan secara damai dan percepatan Modernisasi Pertahanan China. Keputusan ini diambil oleh 168 anggota Komite Sentral dan 147 anggota pengganti Komite Sentral, dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal PKC sekaligus Presiden China, Xi Jinping.
Langkah ini menandai upaya berkelanjutan China dalam mencapai tujuan pembangunan jangka panjangnya, termasuk mewujudkan modernisasi sosialis pada tahun 2035. Repelita ke-15 ini diharapkan menjadi cetak biru yang memandu pembangunan nasional di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global yang kompleks.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Kuat untuk Reunifikasi Taiwan
Dalam komunike resmi yang dirilis oleh media pemerintah China, sidang pleno PKC secara tegas menyatakan komitmennya terhadap masa depan hubungan lintas selat. Dokumen tersebut menekankan pentingnya memajukan perkembangan damai hubungan antara China daratan dan Taiwan.
Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk melaksanakan reunifikasi dan mendorong pembentukan komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia. Komitmen ini juga mencakup upaya untuk menjaga kemakmuran dan stabilitas jangka panjang di Hong Kong dan Makau.
Pernyataan ini menggarisbawahi posisi China yang tidak berubah terkait isu kedaulatan dan integritas teritorialnya. Reunifikasi Taiwan tetap menjadi prioritas utama dalam agenda nasional, yang kini terintegrasi dalam kerangka Repelita ke-15.
Advertisement
Advertisement
Percepatan Modernisasi Pertahanan China
Selain isu Taiwan, sidang pleno juga menyoroti kebutuhan mendesak untuk memajukan modernisasi sistem dan kapasitas keamanan nasional. China bertekad membangun negara yang lebih aman dengan level yang lebih tinggi, mengimplementasikan konsep keamanan nasional secara menyeluruh.
Pemerintah akan menyempurnakan sistem keamanan nasional serta meningkatkan kapasitas keamanan di berbagai bidang utama. Hal ini termasuk memperbaiki tata kelola keamanan publik dan sistem tata kelola sosial secara keseluruhan untuk memastikan masyarakat tetap dinamis sekaligus tertib.
Komunike tersebut juga menegaskan perlunya mewujudkan target 100 tahun pembangunan militer, mendorong Modernisasi Pertahanan Nasional serta militer dengan kualitas tinggi. "Harus melaksanakan pemikiran Xi Jinping tentang penguatan militer, melaksanakan pedoman strategi militer pada era baru," demikian disebutkan dalam komunike.
Advertisement
China akan memajukan pembangunan militer berbasis sains dan teknologi, mempercepat integrasi mekanisasi, informatika, serta inteligensia (smart warfare). Peningkatan kemampuan strategis ini bertujuan untuk menjaga kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunan nasional.
Advertisement
Repelita China: Sejarah dan Tantangan Ekonomi
Sistem Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) bukanlah hal baru bagi China, yang telah menggunakannya sejak tahun 1952. Hingga saat ini, China telah melalui 14 Repelita, dengan setiap rencana menjadi panduan strategis bagi pembangunan ekonomi dan sosial.
Setelah reformasi dan keterbukaan pada 1978, China mengadopsi sistem ekonomi pasar sosialis, namun tetap mempertahankan pendekatan terencana. Repelita ke-14 (2021-2025) berbeda karena tidak menetapkan target kuantitatif PDB, melainkan menekankan kualitas pertumbuhan.
Repelita ke-15 (2026-2030) dianggap sebagai langkah krusial dalam serangkaian tiga periode rencana yang bertujuan "mewujudkan modernisasi sosialis" pada tahun 2035. Rencana ini menjadi jendela penting bagi negara lain untuk mengamati kebijakan China.
Advertisement
Di tengah ambisi besar ini, China menghadapi sejumlah tantangan ekonomi yang signifikan. Tantangan tersebut meliputi perang dagang dengan Amerika Serikat, penurunan bisnis di sektor properti, dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang melambat, mencapai 4,8 persen pada September atau menjadi yang terendah sepanjang tahun.
Sumber: AntaraNews