Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, secara aktif mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa menjaga dan melestarikan kerukunan serta kedamaian. Imbauan ini bertujuan krusial dalam memperkuat fondasi persatuan dan kesatuan bangsa di tengah keberagaman yang ada. Kepala Dinas Kesatuan Bangsa dan Politik (Diskesbangpol) Kabupaten Lebak, Sukanta, menegaskan pentingnya harmoni ini.
Masyarakat di daerah yang dikenal sebagai "seribu pondok pesantren" ini telah menunjukkan teladan dalam hidup rukun dan damai. Keberagaman suku, agama, bahasa, budaya, dan sosial tidak menjadi penghalang, melainkan kekayaan yang dijaga bersama. Kondisi kondusif ini menjadi modal utama bagi pembangunan daerah.
Untuk mendukung upaya ini, pemerintah daerah terus mengoptimalkan berbagai kegiatan sosialisasi kebangsaan. Kegiatan tersebut melibatkan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), Forum Pembauran Kebangsaan (FKB), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Badan Kerja Sama Antar-Gereja (BKSAG). Kolaborasi ini diharapkan dapat mempersatukan perbedaan di Kabupaten Lebak.
Advertisement
Advertisement
Peran Pemerintah dan Organisasi dalam Memupuk Harmoni
Kepala Dinas Kesatuan Bangsa dan Politik (Diskesbangpol) Kabupaten Lebak, Sukanta, menyatakan apresiasinya terhadap kerukunan dan kedamaian yang telah dilestarikan di masyarakat. "Kami mengapresiasi kerukunan dan kedamaian kini dapat dilestarikan di masyarakat," ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung inisiatif kerukunan umat beragama Lebak.
Sosialisasi kebangsaan yang diinisiasi oleh pemerintah daerah menjadi wadah penting untuk dialog dan pemahaman antar sesama. Dengan melibatkan berbagai forum keagamaan dan kebangsaan, pesan tentang pentingnya persatuan dapat tersampaikan secara luas. Upaya ini memastikan bahwa nilai-nilai toleransi terus tertanam kuat di setiap lapisan masyarakat Lebak.
Partisipasi aktif dari FKUB, FKB, MUI, dan BKSAG membuktikan sinergi yang kuat antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan. Mereka bekerja sama dalam merancang dan melaksanakan program-program yang mendukung kerukunan. Kolaborasi ini menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga stabilitas sosial dan keagamaan di Kabupaten Lebak.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Masyarakat dan Inisiatif Kerukunan Umat Beragama Lebak
Sekretaris BKSAG Kabupaten Lebak, Halson Nainggolan, memberikan testimoni langsung mengenai kondisi kerukunan di Lebak. Ia menyebutkan bahwa selama hampir 30 tahun tinggal di Lebak, kehidupan tetap rukun, damai, dan kondusif. "Kami terus menjaga dan melestarikan kerukunan umat beragama dan kebangsaan agar terwujud kehidupan yang sejahtera, kondusif, damai dan rukun," kata Halson.
Testimoni ini memperkuat gambaran bahwa kerukunan umat beragama Lebak bukan hanya slogan, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat secara mandiri memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga toleransi. Ini tercermin dari interaksi sosial yang harmonis dan minimnya konflik berbasis perbedaan.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Lebak, H. Haerudin, juga menegaskan peran FKUB dalam memelihara harmoni. Pihaknya kerap melakukan dialog kerukunan dan kedamaian antarumat beragama. Dialog semacam ini sangat efektif untuk memperkuat persatuan kebangsaan dan menjembatani potensi perbedaan.
Advertisement
Advertisement
Kampung Moderasi: Wujud Nyata Toleransi dan Gotong Royong
Salah satu inisiatif konkret yang dilakukan FKUB bersama Kementerian Agama (Kemenag) Lebak adalah mendirikan kampung moderasi antarumat beragama. Kampung-kampung ini didirikan di tiga wilayah, yaitu Kecamatan Rangkasbitung, Maja, dan Leuwidamar. Proyek ini menjadi simbol komitmen Lebak terhadap kerukunan umat beragama.
H. Haerudin menjelaskan tujuan pendirian kampung moderasi tersebut. "Kami mendirikan kampung moderasi itu agar melestarikan kerukunan umat beragama hingga terbentuk saling tolong menolong dan gotong royong tanpa perbedaan keyakinan yang dianut masyarakat," ujarnya. Ini menunjukkan bahwa moderasi beragama diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar konsep.
Keberadaan kampung moderasi ini diharapkan dapat menjadi model bagi wilayah lain dalam mengelola keberagaman. Di sana, masyarakat dari berbagai latar belakang keyakinan dapat hidup berdampingan, saling membantu, dan bergotong royong. Inisiatif ini memperkuat fondasi persatuan di Kabupaten Lebak dan menjadi contoh praktik terbaik dalam menjaga kerukunan umat beragama Lebak.
Advertisement
Sumber: AntaraNews