Pemerintah Kota Yogyakarta secara serius menggarap upaya penurunan angka stunting di wilayahnya. Fokus utama kini beralih pada pencegahan stunting baru, sebuah strategi proaktif yang dinilai lebih efektif. Langkah ini diambil setelah Kota Yogyakarta berhasil mencatatkan penurunan prevalensi stunting yang signifikan.
Strategi pencegahan ini menjadi krusial mengingat keberhasilan intervensi sebelum terjadinya stunting jauh lebih tinggi. Berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan sektor swasta, bersinergi untuk mengedukasi masyarakat. Tujuannya adalah memastikan setiap anak mendapatkan nutrisi optimal sejak dini.
Kolaborasi multisektor ini terwujud dalam berbagai kegiatan edukatif yang melibatkan orang tua dan calon orang tua. Harapannya, kesadaran akan pentingnya gizi seimbang dan deteksi dini tumbuh kembang anak dapat meningkat. Upaya ini diharapkan mampu mewujudkan generasi penerus yang sehat dan bebas stunting di masa depan.
Advertisement
Advertisement
Strategi Jitu Pencegahan Stunting di Yogyakarta
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan komitmen pemerintah kota dalam menekan angka stunting. Ia menyatakan, "Di Kota Yogyakarta, kita bersyukur karena prevalensi stunting telah menurun menjadi 10,49 persen. Fokus kami dalam menurunkan stunting dengan mencegah angka stunting baru." Penekanan pada pencegahan stunting baru ini menjadi fondasi utama kebijakan kesehatan anak di Kota Gudeg.
Hasto menjelaskan bahwa fokus pencegahan stunting sangat efektif karena tingkat keberhasilannya mencapai 70 persen jika ditangani sebelum kondisi stunting terjadi. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan penanganan setelah stunting, yang hanya sekitar 20 persen. Oleh karena itu, investasi pada program pencegahan dianggap lebih efisien dan berdampak.
Pencegahan stunting harus dimulai sejak fase pranikah dengan prakonsepsi yang matang. Pemenuhan nutrisi seimbang juga sangat penting, khususnya bagi ibu hamil dan anak di atas dua tahun. Hasto mencontohkan, "Minum susu merupakan hal penting termasuk mendapatkan nutrisi penting." Edukasi mengenai gizi ini terus digalakkan di berbagai lapisan masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Kolaborasi Multisektor Wujudkan Generasi Bebas Stunting
Pemerintah Kota Yogyakarta mengapresiasi kolaborasi multisektor yang diinisiasi oleh K24 dan Sarihusada. Kolaborasi ini terwujud melalui kegiatan edukatif bertajuk "Festival Sehat Ceria si Kecil" yang diadakan di Taman Pintar, Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya bersama mewujudkan Generasi Maju Bebas Stunting.
Founder & CEO K-24 Group, Gideon Hartono, menjelaskan bahwa festival ini bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua. Edukasi yang diberikan mencakup pentingnya deteksi dini tumbuh kembang serta pemenuhan gizi seimbang dalam mencegah stunting. "Kolaborasi semacam ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk terlibat," harap Hasto Wardoyo.
Sebagai wujud nyata, Apotek K-24 juga memberikan Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) bagi anak di atas satu tahun yang terindikasi stunting. Bantuan ini diberikan sesuai resep dokter dan berjalan selama tiga hingga enam bulan. Program ini memastikan dukungan gizi berkelanjutan bagi anak-anak yang membutuhkan.
Advertisement
Advertisement
Edukasi dan Deteksi Dini: Kunci Utama Atasi Stunting
Sales Director Sarihusada, Rizki Imam Ardhi, menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci untuk memperluas jangkauan edukasi dan layanan nutrisi. Sarihusada mendukung acara ini melalui skrining dan edukasi nutrisi sebagai bagian dari kampanye "Generasi Maju Bebas Stunting" dan "3 Langkah Maju" yang telah berjalan sejak 2023.
"Kami ingin terus membantu orang tua memahami pentingnya tiga langkah sederhana," kata Rizki. Tiga langkah tersebut meliputi memantau pertumbuhan anak, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, dan memberikan nutrisi yang tepat. Ini merupakan upaya konkret dalam pencegahan stunting di tingkat keluarga dan masyarakat.
Dokter Spesialis Anak dari RS Bethesda Yogyakarta, Devie Kristiani, menambahkan bahwa stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Dampaknya tidak hanya pada tinggi badan, tetapi juga perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas di masa depan. "Pencegahan dan deteksi dini menjadi hal yang krusial untuk dilakukan," ujarnya. Pemantauan tinggi dan berat badan anak secara rutin serta konsultasi dengan tenaga kesehatan adalah langkah awal yang vital.
Advertisement
Sumber: AntaraNews