Fakta Unik: 52% Sampah Organik! Poliban Siap Kolaborasi Wujudkan Banjarmasin Green City

Poliban berinisiatif kolaborasi inovasi penanganan sampah demi Banjarmasin Green City. Simak bagaimana kampus vokasi ini berencana atasi darurat sampah kota!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: 52% Sampah Organik! Poliban Siap Kolaborasi Wujudkan Banjarmasin Green City
Poliban berinisiatif kolaborasi inovasi penanganan sampah demi Banjarmasin Green City. Simak bagaimana kampus vokasi ini berencana atasi darurat sampah kota! (AntaraNews)

Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) Kalimantan Selatan menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dalam menciptakan inovasi penanganan sampah. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata mewujudkan visi "Banjarmasin Green City" yang bersih dan lestari. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dr. Reza Adhi Fajar, Ketua Jurusan Teknik Sipil dan Kebumian Poliban, di Banjarmasin pada Kamis, 23 Oktober.

Inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap kondisi darurat sampah yang kini dihadapi Kota Banjarmasin. Penutupan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Basirih oleh Kementerian Lingkungan Hidup sejak Februari 2025 menjadi pemicu utama masalah ini. Sebagai kampus vokasi, Poliban merasa terpanggil untuk berkontribusi aktif dalam mencari solusi inovatif.

Poliban berencana mengelola sampah menjadi produk bernilai seperti paving block atau komponen elektronik, tidak hanya sekadar mengumpulkan. Diskusi awal telah dilakukan dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin dan Bank Sampah Induk Banjarmasin untuk menyinergikan upaya ini. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat penyelesaian masalah sampah di kota menuju Banjarmasin Green City.

Inovasi Poliban untuk Penanganan Sampah Berkelanjutan

Sebagai institusi pendidikan vokasi, Poliban telah menunjukkan komitmennya terhadap pengelolaan sampah melalui bank sampah internal. Jika sebelumnya bank sampah kampus hanya berfungsi mengumpulkan dan menyerahkan sampah ke TPS, kini fokusnya bergeser pada pengolahan. Dr. Reza Adhi Fajar menjelaskan, "Jika sebelumnya kami hanya mengumpulkan sampah dan menyerahkannya ke TPS Banjarmasin, kini kami berupaya mengelolanya menjadi produk bermanfaat seperti paving block, komponen elektronik atau produk bisnis lainnya."

Langkah progresif ini merupakan bagian dari upaya Poliban untuk tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menciptakan nilai tambah. Proses inovasi ini diharapkan dapat menjadi model bagi pengelolaan sampah yang lebih luas di kota. Pihak Poliban sangat terbuka untuk berdiskusi lebih lanjut dengan pemangku kepentingan terkait.

Untuk mewujudkan kolaborasi yang lebih besar, Poliban telah mengadakan diskusi dengan Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Bank Sampah Induk Banjarmasin. Pertemuan ini bertujuan untuk mendapatkan masukan dan menyelaraskan strategi. "Kami sangat mengharapkan masukan dari Pemerintah Kota Banjarmasin dan Bank Sampah Induk terkait pengelolaan sampah yang lebih baik," tegas Reza.

Diskusi tersebut mengusung tema "Inovasi dan Kolaborasi Pengelolaan Sampah Menuju Banjarmasin Green City", menunjukkan fokus utama pada sinergi. Melalui kolaborasi ini, diharapkan akan lahir solusi konkret yang dapat diterapkan secara efektif. Poliban berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi dalam penanganan sampah.

Tantangan Sampah Organik dan Dukungan Pemerintah Kota

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin, Alive Yoesfah Love, menyambut baik inisiatif Poliban dan menyatakan dukungan penuh terhadap kolaborasi ini. Sinergi antara akademisi dan pemerintah diharapkan mampu melahirkan teknologi tepat guna. Teknologi ini krusial untuk mengefisiensi pengelolaan sampah, khususnya dalam konteks Banjarmasin Green City.

Alive menyoroti permasalahan utama yang belum terselesaikan, yaitu pengolahan sampah organik, terutama dari sektor pertanian. "Permasalahan yang belum banyak terselesaikan adalah pengolahan sampah organik, khususnya di bidang pertanian," ujarnya. Sampah organik merupakan komponen terbesar, mencapai 52 persen dari total sampah di Banjarmasin, sehingga penanganannya menjadi kunci.

Proses pengomposan sampah organik secara konvensional membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan bisa mencapai satu bulan. Hal ini menjadi kendala dalam skala besar. Alive menambahkan, "Ini menjadi PR kita bersama untuk menemukan cara mencacah dan mengeringkan sampah agar prosesnya lebih cepat." Solusi cepat dan efisien sangat dibutuhkan untuk mengatasi volume sampah organik yang besar.

Selain itu, keterbatasan tempat penampungan sampah juga menjadi tantangan serius bagi kota. Oleh karena itu, diskusi dengan Poliban diharapkan dapat menghasilkan solusi inovatif untuk mempercepat pematangan sampah organik menjadi pupuk atau produk lain yang bermanfaat. DLH Kota Banjarmasin menegaskan keterbukaannya terhadap berbagai masukan dan siap merencanakan anggaran bersama demi keberhasilan program Banjarmasin Green City.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi