Dokter ahli nyatakan jantung Novanto tidak bermasalah usai kecelakaan

Senin, 9 April 2018 11:44 Reporter : Yunita Amalia
Dokter ahli nyatakan jantung Novanto tidak bermasalah usai kecelakaan Wakil ketua MPR jadi saksi Setnov. ©Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Dokter spesialis jantung di Rumah Sakit Medika Permata Hijau (RSMPH) Toyyibi menyatakan tidak ada permasalahan pada jantung Setya Novanto usai mengalami kecelakaan tunggal. Pernyataan itu dia sampaikan saat menjadi saksi dalam sidang perintangan penyidikan korupsi e-KTP atas terdakwa Bimanesh Sutarjo.

"Saya periksa pasien atas nama Setya Novanto pagi harinya karena itu jam praktik saya sekitar 10.30 WIB saya periksa pasien di lantai 3 kemudian saya periksa pasien ini tidak ada masalah pada jantungnya," ujar Toyyibi di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (9/4).

Toyyibi mengatakan pemeriksaan terhadap Novanto didahului atas permintaan Dokter Bimanesh melalui supervisor RSMPH. Kamis (16/11) malam sekitar pukul 22.30 WIB. supervisor mengirim pesan melalui Whatsapp yang isinya adalah surat permintaan pemeriksaan oleh Bimanesh Sutarjo, dokter spesialis penyakit dalam dan hipertensi pada RSMPH, terhadap pasien atas nama Setya Novanto.

Sebelum ia menerima pesan tersebut, sekitar pukul 19.00 WIB ia menuturkan sudah mengetahui ada kecelakaan yang menimpa Novanto, melalui siaran langsung televisi.

Keesokan harinya, Jumat (17/11) pukul 10.30 WIB ia mendatangi RSMPH untuk menindaklanjuti permintaan Bimanesh memeriksa Novanto. Selama pemeriksaan terhadap mantan Ketua DPR itu, tidak terlihat benjolan ataupun luka sebagaimana semestinya terjadi ada korban kecelakaan. Meski ada beberapa luka lecet namun tidak membutuhkan perawatan khusus.

Usai memeriksa Novanto sekitar 7 menit, Toyyibi keluar kamar inap dan langsung didatangi dokter pada KPK yang kebetulan berada di lantai 3, tempat Novanto dirawat.

"Setelah periksa, saya keluar ruangan ada dokter dari KPK, dok apakah pasien ini transportable atau tidak? Saya jawab bisa karena jantungnya tidak bermasalah," tukasnya.

Usai memberi pernyataan tersebut kepada dokter pada KPK, ia meninggalkan rumah sakit untuk bersiap Salat Jumat. Saat kembali, Toyyibi mengaku terkejut lantaran rumah sakit kelas B tersebut sudah ramai oleh awak media dan sejumlah petugas keamanan.

Setelah mencari tahu, ia baru mengetahui keramaian tersebut karena KPK akan memindahkan Novanto ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

"Setelah selesai saya balik lagi ambil mobil, (RSMPH) sudah penuh. Pasien Setya Novanto katanya mau dipindah ke RSCM di pelataran sudah banyak orang," ujarnya.

Diketahui, 14 November 2017 Setya Novanto akan diperiksa oleh di KPK namun tidak hadir. Kemudian pada Kamis, 16 November 2017, pukul 21.00 WIB tim KPK mendatangi rumah Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran baru dan menggeledah dan membawa surat perintah penangkapan.

Namun Novanto tidak ada di tempat, pencarian pun dilakukan hingga 02.50 WIB namun tetap nihil. Pagi harinya, KPK imbau Novanto menyerahkan diri. Di hari itu juga KPK menerbitkan DPO, dan menyurati Polri melalui Interpol.

Malam harinya, usai KPK menerbitkan DPO, Novanto diketahui mengalami kecelakaan tunggal dan dilarikan ke RSMPH. Tim KPK bergerak ke rumah sakit tersebut namun tidak dapat menemui dokter jaga dan Novanto. KPK menduga ada upaya menghindari penyidikan yang dilakukan oleh kuasa hukum Novanto saat itu, Fredrich Yunadi. Sementara Bimanesh, diduga turut serta dalam upaya Novanto menghindari proses penyidikan.

Sempat mengalami kendala, KPK berhasil menemui Novanto dan melakukan pemeriksaan. Hasilnya, Novanto dinilai cakap menjalani pemeriksaan dan menyatakan ada upaya merintangi penyidikan oleh Fredrich Yunadi, selaku kuasa hukum Novanto saat itu, dan Bimanesh Sutarjoselaku dokter yang merawat Novanto.

Keduanya pun saat ini didakwa melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. [eko]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini