Datang ke Malang untuk Magang Jadi Pemulung Sampah

Sabtu, 11 Januari 2020 00:07 Reporter : Darmadi Sasongko
Datang ke Malang untuk Magang Jadi Pemulung Sampah Pelajar SMA asal Yogya Magang di Bripka (Purn) Seladi Jadi pemulung sampah. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Tangan Nicolas Jasen (16) meraih salah satu karung dari tumpukan yang menggunung. Tali pengikatnya berusaha dibuka, sementara rekan-rekannya menunggu sambil mengobrol ringan tentang tidurnya yang tidak nyenyak semalam.

Karung itu berisi aneka sampah, dengan dominasi botol dan gelas bekas air mineral. Namun juga ditemukan sendok plastik dan kotak kardus nasi berikut sisa makanan dengan bau yang menyengat.

Saat itu, Jasen dan teman-temannya mendapat tugas memilah dan mengenali sampah di depannya. Jenis gelas dikumpulkan di tempat tersendiri begitupun untuk botol, sambil sisa air di dalamnya dikeluarkan. Sendok plastik dan kardus nasi kotak pun ditempatkan di karung tersendiri.

"Ini kegiatan sekolah kayak magang gitu. Biar dapat pengalaman hidup. Bagaimana hidup menjadi orang susah, biar tahu hidupnya orang susah," kata Jasen.

1 dari 2 halaman

Jika selama ini tugas magang selalu dilakukan di perusahaan besar, kantor pemerintahan bahkan di perusahaan bonafit di luar negeri, tetapi mereka justru ditempatkan di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang kumuh dan becek karena musim hujan.

Di tempat itu, lalat dengan jumlah tidak terhitung, bahkan ukurannya lebih besar, beterbangan mengerubungi sampah yang dihadapi Jasen dan kawan-kawan. Saat berjalan melalui sampah itu, lalat berterbangan dari tempatnya.

Ketika tangan dan kaki dikibaskan sejenak, lalat dengan ukuran lebih besar itu beterbangan, tetapi selalu saja lalat itu kembali ke tempatnya semula. Suara dengungnya pun tidak juga berhenti mengganggu bagi yang tidak biasa.

Sementara di sisi yang lain, terlihat Chistopher Adhif Primova (16) juga bersama teman-temannya melakukan kegiatan serupa. Remaja asal Serang, Banten itu mengais botol dan gelas mineral bercampur tumpukan sampah di depannya.

Tangannya cekatan memasukkan botol-botol plastik yang ditemukan ke dalam sebuah karung. Lalat yang hinggap di tubuhnya pun sesaat diabaikan, walaupun sesekali diusir dengan kibasan tangan saat membuatnya risih.

"Belajar melihat pekerjaan dari prespektif berbeda. Kan orang-orang melihatnya sampah enggak ada duitnya, tapi dari sini saya belajar ternyata bisa dapat uang untuk kehidupan kita," jelas Adhif.

Jasen dan Adhif adalah siswa sekolah SMA swasta favorit di Yogyakarta. Tentu dari sisi penampilan fisik, mereka memiliki kulit dan tubuh bersih dan terawat, termasuk dari pakaian yang dikenakan.

2 dari 2 halaman

Keduanya bersama 28 siswa yang lain sedang 'belajar hidup' di tempat pengelolaan sampah Lowokdoro, Kota Malang dengan didampingi Bripka (Pur) Seladi. Total 30 anak tersebut hidup dan tinggal selama lima hari di area tempat sampah dengan makan dan minum ala kadarnya.

Seladi membaginya dalam tiga kelompok dengan tugas di tempat yang berbeda di sekitar TPS Lowokdoro, Kota Malang. Mereka mengikuti aktivitas Seladi sepanjang hari dari pukul 07.00 WIB hingga 16.00 WIB, walaupun Seladi sendiri sudah berkeliling sejak pukul 03.00 WIB.

Bripka (Pur) Seladi adalah sosok yang pernah populer sebagai polisi sederhana dan menjunjung kejujuran. Namanya pada tahun 2017 sempat viral, karena kegigihannya yang selalu menolak suap dan memilih hidup apa adanya.

Seladi tidak malu menjadi seorang pengumpul sampah sebagai sumber pendapatan, dibandingkan menerima suap. Atas dedikasinya itu, Seladi banyak menerima penghargaan, di antaranya dari Kapolri yang saat itu dijabat Jenderal Tito Karnavian.

Sejak tiga tahun lalu Seladi sudah pensiun, tetapi aktivitasnya sebagai pengais sampah tetap ditekuni. Sesekali, Seladi masih diundang menjadi narasumber guna memberi motivasi sekaligus sharing pengelolaan sampah.

"Katanya pihak sekolah itu menemukan nama saya dari berita di internet, kemudian datang dua guru, sebelum kemudian menitipkan anak-anakanya ke sini," kisah Seladi.

Bagi Seladi pantang menolak tamu, apalagi untuk menuntut ilmu, asal mau menerima seadanya. Anak-anak itu ditempatkan dalam satu ruangan ala kadar yang digunakan untuk tidur. Alasnya disediakan tikar dan sebagian menggunakan kardus.

Penutupnya pun papan dan atapnya dari seng yang dikumpulkan dari buangan masyarakat. Tempat itu sudah dibuat beberapa tahun dan berada kompleks area tempat sampah. Butuh sedikit permak agar kuat untuk tempat tidur bersama-sama.

"Sehari-hari yang saya lakukan, saya berikan. Tentang kesabaran berusaha, kejujuran, yang menguji mental. Karena sampah-sampah itu baunya luar biasa, apalagi tidak biasa. Mereka akhirnya juga tahu bahwa sampah itu bisa diuangkan, tidak dibuang begitu saja," jelas Seladi.

Seladi dengan kerendahan hatinya selalu bercerita tentang nilai kebaikan dalam hidup, selain menyampaikan pengetahuan teknis pemanfatan sampah. Kata-katanya sederhana, mudah dicerna, tetapi memang wujud dari kehidupannya sehari-hari.

Kisah hidup Seladi bisa menjadi ladang belajar tentang kehidupan. Kosistensinya, seperti sebuah mutiara yang berarti meski di antara tumpukan sampah. Tergantung masing-masing bisa menyerap ilmunya. [cob]

Baca juga:
Kisah Inspiratif Ibu Rumah Tangga yang Hasilkan Rp60 Juta dari Main Game
Pria Ini Gratiskan Makanan Setiap Hari untuk Semua Orang, Alasannya Bikin Haru
Driver Ojol Ini Rela Tempuh 200 KM untuk Kembalikan Dompet Mahal Penumpang
Bikin Haru, Kisah Penjual Keset Rawat 130 Anak Asuh di Bandung
Kisah Jos Orange, Mantan Office Boy yang Kini Miliki 5 Perusahaan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini