Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Dariah, maestro lengger lanang meninggal dunia

Dariah, maestro lengger lanang meninggal dunia Dariah. ©2018 Merdeka.com/Abdul Aziz

Merdeka.com - Maestro lengger lanang Banyumas, Dariah (98) berpulang dan dimakamkan di pekuburan Desa Plana, Kecamatan Somakaton, Kabupaten Banyumas, Senin (12/2). Sosok legendaris ini meninggalkan satu orang anak angkat dan tiga cucu.

Dedikasinya di dunia seni tradisional tak tergantikan. Kesetiaanya berkarya menari lengger dari satu panggung ke panggung lain sampai akhir hayat tak ada duanya. Maka tak berlebihan, pada 2011 silam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi anugerah kategori Maestro Seniman Tradisional pada Dariah.

Sebelum berpulang, Dariah jelas menunjukkan betapa cintanya pada dunia seni lengger yang ia jalani sepenuh hati. Pada keluarganya, ia berpesan agar tetap merawat peralatan pentasnya mulai dari konde, selendang, jarit, kebaya sampai peralatan make up.

Cucuh Dariah, Sirwan (35) mengatakan bahwa eyangnya belakangan ini memang menolak semua permintaan pentas termasuk rencana sejumlah mahasiswa yang ingin melakukan penelitian tentang lengger. Ia menganggap eyangnya itu seakan-akan sudah merasa bakal segera dipanggil Sang Khalik dan menjauhi keriuhan. Pada Jumat (9/2) lalu, eyangnya tiba-tiba meminta seluruh keluarga berkumpul dan berharap bisa ditemani setiap hari di kediamannya.

Di mata para seniman, sosok Dariah tak ayal sangat dihormati. Sukendar, penabuh kendang yang kerap mengiringi pentas Dariah mengatakan maestro lengger ini menyukai tembang Banyumasan Pangkur dan Sapa Nyana. Ia mengenang, Dariah bila mendengar gendingan calung Banyumasan dimainkan dimanapun pasti mendekat

"Dia selalu ingin ikut menari setiap dengar gendingan calung Banyumasan," kata Sukendar, Senin (12/2)

Sekilat riwayat Dariah, ia dilahirkan di Desa Somakaton, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Nama kecilnya, Sadam. Semasa kecil, ia sudah gemar berlenggak-lenggok seperti seorang lengger dan gemar pula nyindhen atau melagukan tembang-tembang Jawa.

Sebelum menjadi penari lengger, ia merasa seperti kerasukan indang lengger. Seperti dituntun oleh alam bawah sadar, ia memutuskan pergi dari rumah orang tuanya tanpa pamit tanpa tahu kemana tujuannya. Konon, ia sempat bersemedi di Panembahan Ronggeng, Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Banyumas. Di tempat inilah, dia mendapatkan wangsit untuk menjadi lengger.

Perjalanan kesenian yang ia lakoni sebagai lengger, membuat ia memilih melakoni hidup yang bisa dianggap tak lazim dalam pandangan umum. Sadam atau yang populer disapa Dariah, memilih hidup selayaknya seorang perempuan walau sejatinya terlahir sebagai laki-laki.

(mdk/rzk)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP