Dari 111 Pasien di RS Jiwa Jabar, Hanya Tiga Orang yang Nyoblos Pemilu 2019

Rabu, 17 April 2019 13:31 Reporter : Aksara Bebey
Dari 111 Pasien di RS Jiwa Jabar, Hanya Tiga Orang yang Nyoblos Pemilu 2019 Ilustrasi Pasien Penderita Gangguan Jiwa ikut nyoblos Pemilu 2019. ©2019 Merdeka.com/Erwin Yohanes

Merdeka.com - Pencoblosan Pemilu 2019 yang berlangsung di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jabar diikuti tiga orang pasien. Ratusan pasien lain tidak mendapat rekomendasi dokter dan terkendala administrasi.

Pemungutan suara itu dilakukan di gedung Rumah Sakit Jiwa, Jalan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Petugas dari TPS 37 di Desa Jambudipa membantu dalam hal teknis.

Kepala Plt Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jabar, dr. Riza Putra menjelaskan, tiga orang yang bisa memilih di Pemilu 2019 adalah pasien yang masuk kategori sudah tahap penyembuhan. Pemilihan tiga orang itu pun ditentukan oleh dokter yang menanganinya.

Para petugas pun sudah bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk melakukan sosialisasi sebelum masa pencoblosan.

"Tipe pasien kita di sini, pertama pasien intensif kondisinya tidak stabil, yang baru datang ada yang diam, ada yang ngamuk-ngamuk. Lalu kategori kedua adalah pasien yang rawat tenang. Nah di sini yang menentukan oleh Dokter penanggungjawab pasien atau DPJP," katanya.

Sementara itu, Kepala Perawatan RSJ Provinsi Jabar Nining Meriam mengatakan, jumlah total pasien di RSJ Jabar ada 111 orang. Ada beberapa faktor yang jadi pertimbangan memilih tiga orang yang boleh menyalurkan hak pilihnya.

Selain mayoritas pasien masih di bawah umur, sisanya masih dalam kategori penanganan intensif. Selain itu, tak sedikit yang terkendala dengan masalah administrasi.

"Jadi, yang bisa menyalurkan hak pilihnya ada tiga orang satu perempuan dan dua orang laki-laki," kata Nining.

Nining mengatakan sebelum dilakukan pencoblosan, ada assement yang dilakukan oleh dokter kepada para pasien. Hasil assement ini yang menentukan siapa yang dinyatakan dapat menggunakan hak pilihnya.

"Ada tesnya ada assement yang dilakukan oleh dokter psikiater, apakah sudah boleh atau tidaknya (memilih)," imbuhnya.

Untuk jumlah pegawai yang turut memilih dalam Pemilu ini, Nining mengatakan ada 11 orang. Mereka terdiri dari delapan orang pegawai dan tiga konselor atau pembimbing para pengguna narkoba.

"Untuk pasien rehabilitasi itu ada lima orang, tiga orang di bawah umur dan dua lainnya tidak memiliki KTP, jadi tidak dapat memilih," ucapnya. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini