Dapat Pemberdayaan Program Desa BRILian, Dua Desa ini Tumbuh dengan Memaksimalkan Potensi Lokal
Melalui Program Desa BRILian, BRI tidak hanya menghadirkan pembiayaan, namun juga mendorong pendampingan dan penguatan ekosistem usaha secara menyeluruh.
Program Desa BRILian yang digagas oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) telah memberikan banyak manfaat bagi pengembangan desa-desa di seluruh Indonesia. Desa Pajambon di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dan Desa Hendrosari, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, merupakan dua contoh desa yang berhasil memaksimalkan potensi lokal berkat program Desa BRILian.
Di Desa Pajambon, integrasi lintas sektor pertanian, peternakan, dan pariwisata memberikan nilai tambah bagi masyarakat setempat. Berbagai komoditas unggulan seperti sayur mayur, jambu merah, kopi, hingga tanaman hias menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi masyarakat. Potensi itu diperkuat melalui pengembangan destinasi wisata yakni Curug Lembah Cilengkrang dan Agrowisata Pakuon yang dirintis pada tahun 2022.
Kepala Desa Pajambon, Nani Ariningsih menjelaskan bahwa pengembangan klaster menjadi pendekatan utama dalam mengoptimalkan potensi desa. Melalui penguatan klister, setiap sektor dapat tumbuh secara lebih terarah dengan dukungan pemerintah desa.
“Dengan adanya klaster-klaster ini, pemerintah desa memberikan dukungan agar dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujar Nani, dikutip Merdeka.com dari laman Bri.co.id pada Senin (27/4).
Sementara di Desa Hendrosari, pertumbuhan ekonomi semakin meningkat sejak hadirnya Wisata Edu Lontar Sewu pada tahun 2019. Kehadiran wisata itu menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal yang terintegrasi dengan pengembangan UMKM dan pemberdayaan masyarakat.
Selama ini Desa Hendrosari dikenal sebagai sentra produksi legen, minuman tradisional yang dihasilkan dari getah bunga lontar. Di desa itu terdapat 3.600 pohon lontar yang siap menjadi sumber baku produksi legen. Potensi ini dimaksimalkan oleh warga. Di satu sisi, produksi getah bunga lontar yang melimpah bisa diolah menjadi legen yang menjadi sumber pendapatan. Di sisi lain, ciri khas keberadaan pohon lontar dan legen itu bisa “dijual” dari aspek pariwisata.
Direktur BUMDes Hendrosari, Aristoteles, mengatakan bahwa kehadiran wisata di desanya telah memicu tumbuhnya berbagai usaha baru di tengah masyarakat.
“Perkembangan Edu Wisata Lontar Sewu mendorong munculnya banyak warung dan usaha mandiri yang semakin memperkuat desa,” ujar Aristoteles dikutip Merdeka.com dari laman resmi BRI pada Rabu (29/4).
Keberadaan desa wisata itu juga dirasakan langsung oleh petani. Sebelumnya, para petani harus berkeliling dari pasar ke pasar untuk menjual legen. Namun sekarang pembeli-lah yang datang langsung ke desa mereka.
Dalam pengembangan kedua desa tersebut, BRI turut berperan dalam memberikan dukungan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta bantuan sarana lainnya. Pengembangan yang terus-menerus membuat Desa Pajambon dan Desa Hendrosasi mendapat program pendanaan dari Program Desa BRILian.
“Program Desa BRILian berfokus pada empat pilar utama, yaitu penguatan kelembagaan desa seperti BUMDes dan koperasi, digitalisasi layanan keuangan melalui BRImo dan Agen BRILink, pengembangan ekonomi berkelanjutan, serta inovasi desa. BRI secara konsisten melakukan pendampingan agar desa mampu mengoptimalkan potensinya secara mandiri,” ujar Direktur Mikro BRI Akhmad Purwakajaya, dikutip Merdeka.com dari laman resmi BRI.
Akhmad menambahkan hingga kini Program Desa BRILian telah menjangkau lebih dari 5.200 desa di seluruh Indonesia. Baginya melalui program tersebut, BRI tidak hanya menghadirkan pembiayaan, namun juga mendorong pendampingan dan penguatan ekosistem usaha secara menyeluruh.