Cerita Versi 3 Nakes Soal Wanita Hamil Meninggal Diduga Ditinggal Bidan Tidur
Merdeka.com - Dinas Kesehatan Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, membentuk tim investigasi terkait dugaan penelantaran wanita hamil oleh tenaga kesehatan hingga meninggal dunia. Dalam waktu dekat, hasilnya akan diumumkan.
Plt Kepala Dinkes Muratara Tasman Majid menjelaskan, tim tersebut berasal dari beberapa ahli di bidang masing-masing. Ada yang bertugas mendalami penyebab kematian pasien, tim dengan tugas mendapatkan keluarga pasien, dan ada juga tim yang menginterogasi tiga tenaga kesehatan Puskesmas Pauh yang bekerja saat kejadian.
"Secara umum informasinya sudah dapat, tinggal beberapa lagi yang mesti didalami. Besok hasil audit kita laporkan ke pimpinan dan selanjutnya diambil keputusan," ungkap Tasman, Selasa (30/5).
Dari keterangan keluarga, Tasman menyebut sesuai dengan keluhannya yang viral di media sosial. Sementara keterangan tiga nakes, ada beberapa hal yang berbeda dan menjadi pembelaan ketiganya.
Saat kejadian, ada lima nakes yang bertugas di puskesmas dengan layanan rawat inap itu. Sementara yang menangani pasien, ada tiga nakes, yakni seorang bidan dan dua perawat.
Dari keterangan yang didapat ketiga nakes, mereka sudah melayani pasien dengan baik, mulai sejak penanganan saat pasien tiba hingga dibawa ke Rumah Sakit AR Bunda Lubuklinggau.
Terkait dengan tudingan keluarga pasien yang menyebut ditinggal tidur, Tasman mengaku berbeda dengan keterangan ketiga nakes yang menangani. Namun diakui terdapat miss komunikasi antara keluarga pasien dan bidan yang dimaksud.
"Bidannya bilang tidak tidur. Dia bilang mau istirahat, bukan tidur, karena menunggu dari pembukaan lengkap. Ini ada miss komunikasi," ujarnya.
"Soal pengusiran juga tidak ada. Saat kejadian ibu pasien histeris saat melihat anaknya, maka nakes meminta keluar dulu, bukan diusir," sambung dia.
Tasman menyebut keluarga terkesan memaksakan diri membawa pasien ke Puskesmas Pauh. Padahal sepekan sebelumnya, bidan telah menyarankan pasien agar melahirkan di fasilitas yang lebih lengkap karena kemungkinan menjalani persalinan khusus.
"Sudah disuruh melahirkan di klinik atau rumah sakit dengan fasilitas lengkap, tapi keluarga tetap membawa pasien ke sana karena nyeri. Jadi nakes memberikan pelayanan sesuai prosedur," ujarnya.
"Untuk persalinan normal, peralatan di Puskesmas Pauh sudah memadai," kata dia.
Saat kondisi pasien menurun, nakes segera merujuk ke RS AR Bunda Lubuklinggau yang berjarak empat jam perjalanan. Di jalan, ambulans yang ditumpangi bermasalah sehingga dipindahkan ke mobil pribadi yang melintas sebelum menggunakan ambulans dari puskesmas lain hingga tiba di rumah sakit.
"Tiga nakes itu sudah maksimal memberikan pelayanan," tuturnya.
Meski demikian, pihaknya tidak serta merta memberikan pembelaan terhadap ketiga nakes. Hasil audit akan menentukan keputusan yang diambil dan mengetahui nasib mereka.
"Secepatnya kami umumkan hasilnya karena kasus ini sudah viral," tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, seorang pria, LK, harus dibuat bersedih dan kesal seumur hidupnya lantaran ditinggal istrinya meninggal dunia saat melahirkan. Ironisnya, kejadian itu akibat kelalaian bidan yang menanganinya.
Kisah ini ia tuangkan dalam media sosial dan menjadi viral. Seperti akun Instagram @palembang_bedesau.id yang turut memposting ulang curahan hati LK, Senin (29/5).
Dalam akun IG tersebut, LK menerangkan secara jelas kronologis kejadian hingga istrinya, TK, meninggal dunia. Cerita itu ia tulis dalam bahasa daerah.
"Min tolong viralkan ataupun bagikan, supaya diliat pemerintah daerah supaya ada tindak lanjutnya," tulis LK mengawali.
Ceritanya, istrinya hendak melahirkan dan ia bawa ke Puskesmas Pauh, Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, Selasa (9/5) sekitar pukul 22.00 WIB. Pukul 01.30 WIB, ketuban pecah namum hingga pukul 03.00 WIB belum juga melahirkan.
Beberapa menit kemudian, mereka ditinggal bidan puskesmas untuk tidur. Otomatis mereka tidak didampingi oleh seorang pun tenaga kesehatan di ruang bersalin.
Sontak, pria itu kesal dengan sikap bidan tersebut. Lantas ia mengedor pintu ruang bidan yang tidur dengan maksud menanyakan tindakan yang harus dilakukan karena kondisi istrinya sudah lemah.
"Awak marah, awak gedur lawang. Awak bicara sama bidan (apo kamu tu dak nak ngurus apo dak nak muat rujukan kondisi tika mulai lemah). (Saya marah, saya gedor pintu dan bicara sama bidan. Apa kamu tidak mau mengurus, apa tidak mau bikin surat rujukan karena Tika mulai lemah)," ujarnya.
Kemudian bidan keluar dan bicara dengan mertua LK di ruang bersalin. Mereka tersinggung dengan ucapan LK barusan sehingga bidan itu mengusir mertuanya dengan kata-kata kasar.
"Pas nak masok lagi takunci pintu, ngapo bidan ngunci pintu dakte kuargo yang nemani Tika di dalam dakte utak nian bidan puskesmas pauh jangan mentang-mentang mereka bidan jangan sakendak kenda mereka."
(Waktu mau masuk pintu sudah terkunci, kenapa bidan mengunci pintu, tidak ada keluarga yang menemai Tika di dalam. Tidak ada otak/pikiran bidan Puskesmas Pauh, jangan mentang-mentang mereka bidan maunya sendiri).
Empat jam setelah ketuban pecah atau pukul 05.00 WIB, bidan barulah merujuk istrinya ke RS Ar Bunda Lubuklinggau. Namun, istri dan calon bayi pertamanya tak bisa diselamatkan tak lama setelah tiba di rumah sakit.
Kejadian itu membuat LK kecewa berat. Ia menyayangkan kelalaian bidan membuat dua nyawa yang ia sayangi pergi untuk selamanya. Padahal, hal itu bisa dicegah jika bidan segera mengambil tindakan untuk merujuk ke rumah sakit. Lebih kecewanya lagi, saat istrinya berjuang justru ditinggal tidur oleh bidan yang mengaku mengantuk.
"Kejadian ko sebuah kelalaian bidan puskesmas. Memang ajal dakte yang tau tapi perawatan bidan tu muat idak puas. Allah tulah yang tau."
(Kejadian ini adalah sebuah kelalaian bidan puskesmas. Memang ajal tidak ada yang tahu tapi perawatan bidan itu membuat pelayanan tidak puas. Allah saja yang tahu)," tutupnya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya