Cerita Mantan Santri kini Jabat Wagub, Pernah 'Ngalap' Berkah di Pesantren Bantu Ngecor Gedung
Mereka menyebut santri dilibatkan saat ada aktivitas pembangunan gedung Ponpes merupakan hal lumrah, biasa terjadi.
Peristiwa ambruknya musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo menyisakan pertanyaan. Bukan tanpa sebab, musala yang ambruk merupakan salah satu bangunan yang tengah dibangun. Saat itu, sedang dilakukan pengecoran gedung.
Sejumlah santri nyatanya ikut membantu. Terungkap dari beberapa kesaksian orang tua santri. Mereka menyebut santri dilibatkan saat ada aktivitas pembangunan gedung Ponpes merupakan hal lumrah, biasa terjadi.
Fakta ini menjadi ramai diperbincangkan, karena santri yang notabenenya tidak memiliki pengetahuan seputar kontruksi bangunan kenapa harus dilibatkan.
Menanggapi itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin yang juga mantan santri di Al Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah ini menilai bahwa keikutsertaan mereka umumnya bersifat membantu dan bukan sebagai tenaga ahli atau mandor bangunan.
"Jadi kalau itu pengalaman saya sendiri, santri ini sifatnya Ro'an hanya membantu. Ro'an itu dari kalimat ya tabarukan, tapi disikat menjadi berkah, 'ngalap' mencari berkah. Jadi mereka ini para santri yang mengikuti ini bukan menjadi mandor, mereka hanya pekerja saja seperti membawakan bata, semen, untuk percepatan pembangunan tapi yang memegang kendali mandor orang yang memiliki ilmu bangunan," kata Taj Yasin, Rabu (8/10).
Dalam proses pelibatan santri, biasanya dalam tahap proses pengecoran karena tidak semua pondok pesantren memiliki alat berat dan akses jalan belum tentu dapat dilintasi truk pengecor.
"Karena di pengecoran itu kan tidak semua pondok pesantren itu lokasinya bisa pakai alat berat sehingga mereka harus manual dan manual karena pengecoran tidak punya, waktunya panjang, harus selesai ketika santri-santri digerakkan untuk mempercepat itu," ungkapnya.
Antisipasi Insiden Ponpes Roboh
Sedangkan untuk mengantisipasi terulangnya insiden runtuhnya mushala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, pihaknya meminta semua pihak, mulai dari pengembang hingga mandor bangunan, untuk serius memperhatikan faktor-faktor yang tidak boleh dilanggar dalam ilmu pembangunan.
"Musibah ini harus menjadi pelajaran bersama, bukan hanya bagi lingkungan pondok pesantren, tetapi juga bagi mereka yang mengabaikan standar konstruksi dan ketertiban aturan pembangunan yang telah ditetapkan pemerintah," jelasnya.
Taj Yasin mengimbau seluruh pihak menaati kewajiban dalam izin bangunan berupa Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) agar insiden yang menelan puluhan korban jiwa ini tak terulang di manapun.
"Saya rasa ini sebuah musibah dan ini perlu menjadi pelajaran buat kita bersama bukan hanya untuk pondok pesantren. Tapi bagi pengembang atau yang menjadi mandor dan sebagainya untuk memperhatikan faktor-faktor yang tidak boleh dilanggar dalam ilmu pembangunan," ujarnya.
Pasalnya dia menyebut, kejadian serupa tidak hanya berisiko terjadi di lingkungan pesantren, tetapi juga pada bangunan-bangunan lain yang mengabaikan standar konstruksi. Ia menekankan pentingnya ketertiban terhadap aturan pembangunan yang berlaku.
"Ya, jadi inilah yang sering saya sampaikan. Ketertiban kita terhadap aturan-aturan yang disampaikan oleh atau yang diatur oleh pemerintah termasuk bagaimana bangunan-bangunan tersebut," ujarnya.
Pihaknya mewanti-wanti para pengasuh pondok untuk memperhatikan sistem kekuatan bangunan, terutama bagi pondok-pondok baru.
"Ketika memang bangunannya ini sudah tidak layak, sudah harus ada pembongkaran, itu pasti akan dilakukan pembongkaran. Apalagi ini kan pondoknya baru, jadi saya tidak tahu, apakah itu pembangunannya bagaimana? Saya belum tahu," pungkasnya.