Cerita Haru Tukang Becak, Petani dan Pemulung Pergi Haji

Kamis, 18 Juli 2019 06:20 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
Cerita Haru Tukang Becak, Petani dan Pemulung Pergi Haji Jemaah haji di Mekah. ©2018 REUTERS/Zohra Bensemra

Merdeka.com - Jemaah haji asal Indonesia yang tergabung dalam kloter pertama mulai terbang ke Arab Saudi. Di antara banyaknya jemaah pergi ke Tanah Suci, ada cerita-cerita haru dari para jemaah.

Ada tukang becak, pemulung dan petani yang bisa menunaikan ibadah haji hasil jerih payah mereka. Menabung bertahun-tahun agar bisa menunaikan rukun Islam kelima. Berikut kisah mereka:

1 dari 5 halaman

Menabung Rp20 Ribu Tiap Hari

Tipah, warga asal Probolinggo, Jawa Timur, berhasil mewujudkan impiannya mencium tanah suci hanya dengan menabung Rp20.000 setiap hari selama 9 tahun. Uang tersebut ia dapat dari hasil berdagang nasi untuk anak-anak sekolah dan sang suami memulung kardus bekas.

Namun dari hasil kerja keras itu mereka mampu menyisihkan uang Rp20.000 setiap harinya. "Pokoknya waktu itu berpikirnya cuma harus bisa menyisihkan uang Rp20.000 saja. Bagaimana pun caranya," ujarnya.

Ia mengaku, ketika terkumpul uang sebesar Rp5 juta, ia pun memberanikan diri untuk mendaftar haji dengan masa penantian 9 tahun.

Meski masa penantian cukup lama, ia mengaku tidak mempermasalahkannya. Sebab, sepanjang perjalanan waktu, ia harus menabung agar dapat melunasi biaya haji tepat waktu. "Ya kita berikhtiar, kalau ada niat pasti ada jalan," tambahnya.

2 dari 5 halaman

Menyimpan Uang di Kamar Sejak 1965

Haki (92) bersama istrinya, Satuni (70), mendapat ucapan selamat dan doa setelah berkesempatan menunaikan rukun Islam kelima menuju Tanah Suci. Ia menjadi calon jamaah haji (CJH) tertua asal Kota Malang tahun ini.

Impian untuk naik haji akhirnya tercapai berkat menabung sejak tahun 1965 atau sekitar 54 tahun. uang tabungannya ia dapat dari hasil berjualan pakaian secara keliling dari pasar ke pasar. Profesi itu dijalani sejak masih muda dan hingga saat ini masih menjadi penopang hidupnya.

Haki dengan kesederhanaannya rajin menyisihkan hasil kerjanya. Walaupun dengan jumlah tidak besar, tetapi setiap pulang berdagang selalu menyisihkan untuk ditabung.

"Tergantung hasil dagang, terkadang Rp10 ribu, kan hasil dagang tidak mesti laku," katanya.

Haki yang lahir 1 Januari 1927 mengaku tidak pernah mengenal bank. Tabungannya cukup diselipkan di sebuah tas dalam kamarnya.

"Nabungnya di rumah, ditaruh di tas," tegasnya.

Bahkan lantaran terlalu lama disimpan, uang itu sampai lusuh, menjamur dan bau apek. Beberapa tidak laku karena sudah ditarik peredarannya. Keluarga baru menyetorkan ke bank untuk pendaftaran pada tahun 2013 sejumlah sekitar Rp60 Juta.

"Setelah setor ke bank baru 6 tahun kemudian bisa berangkat," tegasnya.

3 dari 5 halaman

Menabung Selama 22 Tahun dari Hasil Mengayuh Becak

Matnazu Mucari Bungkas (71) akhirnya berhasil mewujudkan impian naik haji. Matnazu menjadi calon jemaah haji asal kota Surabaya.

Untuk mewujudkan impian itu, Matnazu sampai harus menabung selama 22 tahun. Uang tabungannya ia dapat dari hasil jerih payahnya mengayuh becak.

"Saya selama ini menabung untuk bisa berangkat haji. Saya sisihkan sebagian dari penghasilan mengayuh becak," ujar warga Simo Hilir Sukomanunggal.

Matnazu mengaku, selama puluhan tahun bekerja, ia tidak tertarik untuk membeli perabotan mewah. Menurut kakek dari 20 cucu ini, yang sangat berharga ialah becak tua yang bersandar di depan rumahnya. "Ya cuma becak itu harta yang paling berharga di rumah," ungkapnya tersenyum.

Menarik becak ia jalani mulai tahun 1997, meski penghasilannya tidak seberapa, namun pada bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Upayanya meraih mimpi bukannya tanpa halangan. Sebab, dalam kurun waktu tahun terakhir ini, penghasilannya dari mengayuh becak mengalami penurunan yang cukup drastis. Jika pada tahun-tahun sebelumnya ia dalam sehari bisa mengumpulkan uang Rp50.000 hingga Rp100.000, namun kini ia hanya mampu meraup rejeki antara Rp30.000 hingga Rp50.000 saja perhari.

4 dari 5 halaman

Petani Asal Sumut Menabung 8 Tahun Demi Naik Haji

Abdul Salam bin Abdullah (71), seorang petani karet di Mandailing Natal, Sumatera Utara yang akhirnya bisa menjalankan rukun Islam ke 5 tersebut. Impiannya menginjak Tanah Suci sudah didambakan sejak 8 tahun lalu.

Abdul Salam Bin Abdullah (71) tergabung dalam Kelompok Terbang 05 Embarkasi Medan yang terbang menuju Tanah Suci pada Selasa malam sekitar pukul 21.30 Wib.

"Alhamdulillah, delapan tahun menabung dari hasil menjual karet, akhirnya berangkat juga ke Tanah Suci," kata Abdul.

Abdul mengatakan dalam mengumpulkan uang untuk biaya haji tersebut, ia menyisihkan sedikit penghasilannya dari menjual karet. "Jadi, saya menabung selama delapan tahun untuk pergi haji," katanya.

5 dari 5 halaman

Sisihkan Upah sebagai Satpam untuk Naik Haji

Mansur, seorang satpam perumahan di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, menyisihkan upahnya untuk naik haji.

Bergaji Rp900 ribu sebulan, warga Kampung Kejawanan, Kecamatan Socah ini nekat mendaftar haji tahun 2011. Tak sendiri, Mansur juga mendaftarkan istrinya.

Tiap kali terima gajian dari pengelola Perumahan Griya Abadi, uang itu langsung disimpan ke tabungan naik haji. Untuk kebutuhan dapur, bayaran sekolah juga aneka kebutuhan hidup lain keluarga ini bergantung dari hasil jualan jamu tradisional yang ditekuni istrinya sejak lama.

Jika kebutuhan primer sudah terpenuhi dan masih ada sisa, maka uang sisa tersebut ia tabung untuk naik haji.

Konsistensi pasutri ini berbuah manis. Delapan tahun kemudian, mereka bisa melunasi seluruh biaya perjalanan haji yang ditetapkan Rp36,5 juta per orang.

Selama menabung, Mansur sering mendapat godaan. elalu muncul situasi mendesak yang membutuhkan uang banyak dan jumlah tabungan haji cukup menutupi kebutuhan itu. Namun, Mansur selalu menepis keinginan memakai uang tabungan haji dan mencari jalan lain untuk menutupinya.

"Alhamdulillah, saya dan istri, bisa berangkat tahun ini, minta doanya semoga menjadi haji mabrur," kata dia. [has]

Baca juga:
Depresi, Seorang Jemaah Haji Asal Mataram Batal Berangkat
Senyum Kakek Matnazu Naik Haji Usai 22 Tahun Sisihkan Penghasilan Mengayuh Becak
Kisah Petani Karet di Mandailing Natal Naik Haji Setelah 8 Tahun Menabung
Jemaah Haji Asal Pacitan Meninggal Dunia di Madinah
Alami Penyakit Pikun Berat, Dua Jemaah Haji Embarkasi Surabaya Dipulangkan

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini