Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah Keluarga Pemberani yang Tinggal di Kampung Mati Tengah Hutan Cilacap, Hidup Berdampingan dengan Babi Hutan

Kisah Keluarga Pemberani yang Tinggal di Kampung Mati Tengah Hutan Cilacap, Hidup Berdampingan dengan Babi Hutan

Kisah Keluarga Pemberani yang Tinggal di Kampung Mati Tengah Hutan Cilacap, Hidup Berdampingan dengan Babi Hutan

Saat musim hujan tiba, kampung itu benar-benar terisolir karena jalan ke sana terhalang aliran air sungai yang deras

Kampung Mati Nagog berada di Desa Sidamulya, Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap. Kampung itu memang sudah ditinggalkan hampir semua penduduknya.

Namun berdasarkan informasi yang beredar ternyata masih ada satu keluarga yang bertahan tinggal di kampung itu. 

Kisah Keluarga Pemberani yang Tinggal di Kampung Mati Tengah Hutan Cilacap, Hidup Berdampingan dengan Babi Hutan

Akses menuju kampung mati itu sangatlah ekstrem. Pengunjung harus berjalan kaki sejauh 1,5 km dari desa terdekat. Beberapa rumah tampak kosong tak ada penghuninya. Di salah satu halaman rumah itu terdapat kuburan.

Dilansir dari kanal YouTube Sang Penjelajah Amatir, warga di Kampung Nagog pindah rumah karena akses jalan ke tempat mereka yang sulit. Letaknya yang terpencil membuat mereka sulit untuk pergi ke manapun. Belum lagi mereka harus tinggal di dekat hutan yang masih terdapat banyak babi hutan di sana. 

Di kampung itu tinggal pasangan suami istri Pak Wartoyo dan Ibu Sarmini. Pak Wartoyo mengatakan, warga di kampung itu mulai pindah pada tahun 1972.

Selain itu, lahan di kampung itu tidak bisa digunakan untuk bertani karena banyak babi hutan yang biasanya mengincar hasil tani.

Setelah penghuninya meninggal dunia, anak-anak pewaris rumah tidak mau tinggal di kampung itu karena lokasinya yang terpencil. Belum lagi untuk menuju ke sana harus melewati sungai dan tak ada jembatan untuk melintasi sungai itu. Jadi pada saat arus sungai deras, terutama saat musim hujan, akses menuju maupun dari kampung Nagog lumpuh.

Kisah Keluarga Pemberani yang Tinggal di Kampung Mati Tengah Hutan Cilacap, Hidup Berdampingan dengan Babi Hutan

Tak jauh dari Kampung Nagog, tepatnya di bagian bawah kampung itu, ada sebuah sungai yang biasa digunakan keluarga Pak Wartoyo untuk mandi.

Pak Wartoyo menyebut tempat ia mandi itu dengan nama Curug Dendeng. Tempat itu berupa kolam alam yang cukup lebar dan di salah satu sisinya ada air terjun kecil yang airnya keluar dari celah-celah bebatuan. Air di kolam alami itu terlihat sangat jernih.

“Dulu sekitar tahun 1976 pernah anak sekolah ke sini dengan gurunya tapi anak sekolah itu hilang. Dia ditemukan di dalam lubang ini,” kata Pak Wartoyo sambil menunjuk ke balik bebatuan yang ada di kolam alami itu.

Kisah Keluarga Pemberani yang Tinggal di Kampung Mati Tengah Hutan Cilacap, Hidup Berdampingan dengan Babi Hutan

Pak Wartoyo mengatakan kalau curug itu dalamnya mencapai 16 meter. Di balik keindahannya, kolam alam itu sebenarnya juga lokasi yang dipercaya angker. 

Kisah Keluarga Pemberani yang Tinggal di Kampung Mati Tengah Hutan Cilacap, Hidup Berdampingan dengan Babi Hutan

“Saya pernah lihat ada kepala keluar dari situ sekitar jam 3 siang. Rambutnya panjang, nggak ada badannya. Itu namanya Srenggini, penghuni tempat ini,” kata Pak Wartoyo dikutip dari kanal YouTube Sang penjelajah amatir.

Sementara itu ibu Sarmini, harus berjalan kaki sejauh satu kilometer untuk mengambil bantuan beras di balai desa. Walau masih banyak dijumpai babi hutan, namun Bu Sarmini tak takut berjalan sendiri.
“Babinya itu takut sama orang,” ujarnya.

Kisah Keluarga Pemberani yang Tinggal di Kampung Mati Tengah Hutan Cilacap, Hidup Berdampingan dengan Babi Hutan

Rumah keluarga Pak Wartoyo cukup sederhana. Rumah itu terdiri dari ruang tamu yang menjadi satu dengan tempat tidur suami istri itu, satu kamar anak mereka, dan ruang dapur yang berada di bagian paling belakang.

Kisah Keluarga Pemberani yang Tinggal di Kampung Mati Tengah Hutan Cilacap, Hidup Berdampingan dengan Babi Hutan
Kisah Keluarga Pemberani yang Tinggal di Kampung Mati Tengah Hutan Cilacap, Hidup Berdampingan dengan Babi Hutan

Sementara halaman rumah yang cukup luas mereka digunakan sebagai tempat kendang kambing. Pak Wartoyo mengatakan bahwa dia punya sembilan ekor kambing.

Pak Wartoyo mengatakan pada awalnya warga di kampung itu ada sembilan orang. Tapi satu per satu mereka pindah ke tempat lain karena lokasinya yang terisolir.

“Pantangannya itu sungai besar. Kalau kebutuhan di rumah nggak bisa beli di warung. Karena pantangannya banjir. Selain itu rumahnya di tengah-tengah hutan. Mau ke mana-mana jauh,” kata Pak Wartoyo dikutip dari kanal YouTube Sang penjelajah amatir pada 13 November 2023 lalu.

Keluarga di Temanggung Ini Nekat Tinggal Sendiri di Kampung Mati, Dikelilingi Rumah-Rumah Kosong Terbengkalai
Keluarga di Temanggung Ini Nekat Tinggal Sendiri di Kampung Mati, Dikelilingi Rumah-Rumah Kosong Terbengkalai

Akses menuju kampung itu cukup sulit. Pengunjung harus berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang terjal dan berbatu.

Baca Selengkapnya
Kisah Kehidupan Warga di Desa Terpencil di Wonogiri, Cari Rumput Harus Jalan Naik Turun Bukit
Kisah Kehidupan Warga di Desa Terpencil di Wonogiri, Cari Rumput Harus Jalan Naik Turun Bukit

Mayoritas warga di sana merupakan petani yang menggarap lahan tadah hujan. Kalau musim kemarau lahan itu dibiarkan kosong.

Baca Selengkapnya
Dulu Hutan Belantara yang Tak Dilirik Orang, Ini Kisah di Balik Berdirinya Kabupaten Pacitan
Dulu Hutan Belantara yang Tak Dilirik Orang, Ini Kisah di Balik Berdirinya Kabupaten Pacitan

Orang-orang pertama yang berjasa mengubah hutan jadi permukiman penduduk merupakan para pendakwah Islam

Baca Selengkapnya
Kamu sudah membaca beberapa halaman,Berikut rekomendasi
video untuk kamu.
SWIPE UP
Untuk melanjutkan membaca.
Kisah Gereja Tua Kaliceret, Bangunan Kayu Tanpa Paku yang Telah Berusia Ratusan Tahun
Kisah Gereja Tua Kaliceret, Bangunan Kayu Tanpa Paku yang Telah Berusia Ratusan Tahun

Bangunan ini dulunya sempat miring karena tertiup angin, namun bisa tegak kembali karena tertiup angin dari arah yang berbeda

Baca Selengkapnya
Kisah Umat Islam Tanah Air di Balik Agresi Militer Belanda I, Perang saat Puasa sambil Dihujani Timah Panas dan Bom
Kisah Umat Islam Tanah Air di Balik Agresi Militer Belanda I, Perang saat Puasa sambil Dihujani Timah Panas dan Bom

Pada 1947, umat islam Tanah Air berperang melawan Belanda pada hari ketiga puasa.

Baca Selengkapnya
Asyiknya Berkemah di Bukit Kanaga Cikijing, Pemandangan Kabut dan Hutan Pinusnya Bikin Nagih
Asyiknya Berkemah di Bukit Kanaga Cikijing, Pemandangan Kabut dan Hutan Pinusnya Bikin Nagih

Bukit ini berada di atas ketinggian, dengan hamparan pohon pinus yang berjajar rapi.

Baca Selengkapnya
Fakta-Fakta Mengerikan Jalan Hutan Sawit Bikin Satu Keluarga Tewas: Warga Saja Tak Berani Melintas
Fakta-Fakta Mengerikan Jalan Hutan Sawit Bikin Satu Keluarga Tewas: Warga Saja Tak Berani Melintas

Warga heran keluarga tersebut nekat melintas di jalan tersebut

Baca Selengkapnya
229,54 Ha Hutan dan Lahan di Jambi Terbakar, Jenderal Bintang Satu Tuding Ini Penyebabnya
229,54 Ha Hutan dan Lahan di Jambi Terbakar, Jenderal Bintang Satu Tuding Ini Penyebabnya

Sebanyak 229,54 hektare hutan dan lahan di Jambi terbakar dalam delapan bulan terakhir. Kebakaran itu paling banyak dipicu ulah masyarakat.

Baca Selengkapnya
Kisah Desa di Pesisir Karawang Hampir Hilang Ditelan Abrasi, Warga Pilih Tetap Bertahan
Kisah Desa di Pesisir Karawang Hampir Hilang Ditelan Abrasi, Warga Pilih Tetap Bertahan

Jalan setapak, bangunan sekolah sampai lapangan bola kini berubah menjadi lautan.

Baca Selengkapnya