Cerita eks napiter di Medan, tobat usai tak dikenali buah hati

Kamis, 27 September 2018 22:02 Reporter : Nur Habibie
Cerita eks napiter di Medan, tobat usai tak dikenali buah hati Thomas Muslimin Hasibuan. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Thomas Muslimin Hasibuan mantan napi teroris yang ditangkap pada 2013 lalu. Ia ditangkap karena pernah melakukan perampokan Bank CIMB Niaga di Medan dan penembakan polisi di Polsek Hamparan Perak.

Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, menjadi tempat pertama ia huni saat ditangkap. Setelah itu, ia pun dipindahkan ke Lapas Kuningan tahun 2015 dan Lapas terakhir yang ia huni di Lapas Sentul, Bogor, Jawa Barat pada tahun 2017 selama 7 bulan.

Warga Pelabuhan Belawan ini menjelaskan, awal mula ia mulai mengalami perubahan mencintai NKRI karena keluarga. Saat itu mulai ingin kembali menjadi warga NKRI pada tahun 2017.

"Perubahan saya sih karena keluarga sama anak-anak paling besar kelas dua SD. Anak yang kecil dua tahun. Kalau ngobrol dan sharing itu sering. Tapi punya kisah sendiri. Saya menjalani hukuman di LP setelah empat tahun baru bertemu. Saat itu terasa perubahan dan ditambah saya 2017 ketemu istri dan anak pertama kali bulan sepuluh," jelas Thomas saat ditemui di Medan.

Ia mulai 'tobat' karena keluarga, pada saat bertemu dengan anaknya di Lapas Sentul, Bogor, anaknya seakan lupa atau tak mengenali dirinya sebagai seorang bapak. Terlebih, pada saat ia ingin menggendong anaknya justru malah menangis anak tersebut.

"Faktanya begini, anak saya karena masih kecil. Belum tanda (mau) dengan ayahnya. Saat saya tinggal itu usia besar dua tahun. Yang kecil baru lahir. Nah anak pertama saat nangis. Enggak mau digendong," katanya.

"Enggak mau, saya paksa gendong dan cium. Dia malah nangis. Saat itu saya sadar. Itulah konsekuensinya. Saya berpikir kedepan saya harus punya kedekatan dengan anak. Istri saya ketawa. Istri bilang enggak kenal dengan ayahnya. Ya begitulah, saya ketawa juga," tambahnya.

Saat di Lapas Sentul, banyak yang diceritakan oleh isterinya hampir seharian penuh. Mulai dari tingkah laku anaknya hingga sang isteri bekerja untuk mencari nafkah.

"Diceritain anak, ya lucu, sering begaduh atau ribut. Kakak sama adik berantem. Itulah yang membuat saya terhibur juga dengar cerita. Istri kerja dan anak ditinggal mandiri jadinya. Terhibur juga," ujarnya.

Meskipun ia merasa terhibur dengan cerita istrinya, tapi ada yang bikin ia merasa sedih saat mendengar jika buah hatinya menginginkan punya sepeda seperti teman-temannya.

"Temen-temen anak itu punya sepeda. Jadi anak saya meminta beliin sepeda. Istri saya bilang begitu. Ceritanya, anak saya karena enggak punya sepeda lari-lari ngejar. Dan kadang jatuh ketabrak. Ya itu itu pasti karena ketidakhadiran saya, ekonomi keluarga terpengaruh," katanya.

Bapak anak dua itu pun berjanji akan lebih dekat lagi dengan keluarga, ketika keluar nanti. Dan itu ia buktikan setelah baru dua bulan keluar pada Juli 2018.

"Saat nanti saya akan pulang, cita-cita, saya ingin dekat dengan keluarga dan membangun usaha. Supaya ekonomi tercukupi. Alhamdulillahnya belum bisa beliin sepeda. Usaha rintis, baru dua bulan ini bebas. Masih usahalah, masih membangun. Saya juga bersyukur pada baik tetanggaa. Kami sering dikasih sayur, tetangga baik," ungkapnya.

Selain itu, ia mengaku bisa dapat berubah kembali mencintai NKRI karena adanya masukan dari pihak Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT). Beruntung, selain memberi masukan terkait NKRI, juga telah mengajarkan cara berwirausaha.

"Yang pertama saya kenal BNPT di sentul. Mendatangkan anak istri. Pembinaan di Lapas Sentul saya akui berpengaruh juga. Membantu saya ada pelajaran di sana. Usaha ini dan itu. Karena memang ada materi wirausaha, kebangsaan dan agama," ucapnya.

"Dan memang enggak pernah diskusi yang berat juga. Apa yang disampaikan hampir semua itu benar. Saya sadari saja cara pandang saja yang berbeda, materi yang disampaikan soal agama umum. Kayaknya enggak ada yang harus saya bantah," sambungnya.

Sudah dua bulan ia berdagang di warung kelontongan. Thomas mengaku masih belum ada banyak pembeli di tempatnya. Namun, ia tak lantas menyerah dan berencana membuat koperasi dengan meminta bantuan dari pemerintah juga aparat penegak hukum setempat.

"Saya jualan masih merintis masih bisa diputar-putar. Kendalanya tempat jualan. Kalau orang melihat jualan saya ecek-ecek. Kemungkinan pelanggan belum banyak," tuturnya.

"Saya ingin buatlah semacam koperasi. Untuk temen-temen semua mantan napiter, saya inginkan seperti itu. Karena saya dulu kerja tukang. Kalau saya atau kita bentuk koperasi dalam bidang pembangunan. Kita cari anggota, teman-teman yang belum dapat kerjaan kita salurkan. Tapi ya kemampuan terbatas. Pemerintah kita mohon dukungan," tutupnya. [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini