Buntut penggusuran paksa di lahan pembangunan NYIA, kantor Angkasa Pura I didemo
Merdeka.com - Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Tolak Bandara Kulon Progo mendatangi kantor Angkasa Pura I Bandara Adisutjipto, Yogyakarta pada Rabu (6/12). Mereka mengecam tindakan petugas mengamankan 15 relawan saat pembersihan lahan yang akan dibangun Bandara NYIA.
Koordinator aksi, Fandi Atmajaya, mengatakan 15 relawan yang bersama warga Palihan, Kecamatan Temon, Kulon Progo menjadi korban represivitas petugas keamanan yang mengamankan proses pembebasan lahan. Sebanyak 15 relawan yang ditangkap, lanjut Fandi, dituduh menjadi provokator dan ditangkap tanpa ada alasan yang jelas.
"Ada tiga orang yang kemarin ditangkap oleh aparat mengalami luka. Mereka diinjak dan dipukuli aparat," tegas Fandi di sela-sela aksi.
Fandi menuding penyebab memanasnya kondisi di Temon, Kulon Progo karena kebijakan Angkasa Pura yang memaksakan kehendak melakukan land clearing. Padahal lahan yang dilakukan land clearing masih berstatus milik warga dan tidak pernah dijual ke Angkasa Pura.
"Setidaknya sampai saat ini masih ada 38 rumah dan pekarangan warga yang menolak bandara. Mereka saat ini terancam oleh aksi penggusuran paksa yang dilakukan Angkasa Pura," tegas Fandi.
Dalam aksinya, puluhan orang aktivis Aliansi Tolak Bandara Kulon Progo ini meminta agar pihak Angkasa Pura menghentikan penggusuran paksa di tanah milik warga. Selain itu, massa juga menuntut ke pihak kepolisian untuk mengusut tuntas anggotanya yang melakukan kekerasan pada 15 relawan pada Selasa (5/12) kemarin.
"Negara harus bertanggung jawab. Kita tuntut kejadian kemarin diusut tuntas, dari perobohan paksa bangunan warga yang menolak bandara hingga tindakan represif oknum aparat yang dilakukan tidak sesuai prosedur," tutup Fandi.
Menanggapi aksi pendemo, Project Manager NYIA, Sujiastono membantah adanya penggusuran dalam proyek tersebut. Menurutnya, setiap langkah yang dilakukan Angkasa Pura untuk mengosongkan lahan sudah sesuai dengan prosedur.
"Sampai hari ini kita tidak ada pengosongan bagi orang yang menolak yang masih di dalam rumah. Bisa dicek di lapangan. Bagi yang masih berpenghuni, tidak kita robohkan," ujar Sujiastono, kepada wartawan di kantor Angkasa Pura I (AP I) Yogyakarta, Rabu (6/12).
Sujiastono menuturkan, pihak Angkasa Pura lebih mengedepankan upaya persuasif dalam pengosongan lahan di lokasi Bandara NYIA. Langkah-langkah persuasif ini terus dilakukan selama proses pengosongan lahan.
Sujiastono mencontohkan ada satu rumah di lokasi pembangunan Bandara NYIA yang semestinya sudah dirobohkan. Tetapi saat ini hanya sebatas dicopot daun pintu dan jendelanya saja oleh petugas.
"Kita masih berniat baik, mestinya dirobohkan itu, sesuai surat peringatan kami. Baru kita congkel pintunya dan kita taruh di depan rumahnya," urai Sujiastono.
Sujiastono juga membantah jika pada Selasa (5/12) kemarin pihaknya bersama aparat kepolisian melakukan tindakan intimidasi dan penggusuran paksa. Justru, klaimnya, ada pihak yang memprovokasi saat proses pengosongan lahan.
"Saya tidak melihat intimidasi aparat, yang saya lihat (massa) yang memprovokasi aparat dan warga, saya tahu karena saya di lapangan. Saya justru berterimakasih aparat tidak terpancing dengan provokasi mereka. Setahu saya tidak ada intimidasi, kita harapkan semua damai," jelas Sujiastono. (mdk/lia)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya