Bukan Sekadar Latihan Fisik, Siswa SPN Polda Gorontalo Berbaur Warga: Rasakan Hidup Susah Petani dan Nelayan
Terobosan SPN Polda Gorontalo mengirimkan siswa untuk hidup berbaur warga prasejahtera. Program 'live in' ini bertujuan membentuk karakter dan empati calon Bhayangkara, menjauhkan arogansi kekuasaan.
Sekolah Polisi Negara (SPN) Kepolisian Daerah (Polda) Gorontalo membuat terobosan maju dalam pendidikan karakter calon anggota Polri. Mereka mengirimkan siswa Bintara Polri untuk hidup berbaur bersama warga prasejahtera di Gorontalo. Program 'Hidup Bersama Warga' ini bertujuan menanamkan nilai empati dan kepekaan sosial pada calon Bhayangkara.
Pendidik Utama SPN Polda Gorontalo, Komisaris Besar Polisi Agus Widodo, menyatakan kegiatan ini berlangsung selama dua hari. Melalui inisiatif 'live in' ini, puluhan siswa diterjunkan langsung untuk tinggal dan bekerja bersama keluarga prasejahtera. Mereka berinteraksi di lingkungan rumah warga, tempat ibadah, dan panti sosial, memahami kehidupan sosial, budaya, serta permasalahan setempat.
Selama program, para siswa dilepas dari atribut dan fasilitas kedinasan, merasakan langsung denyut nadi kehidupan masyarakat. Kombes Agus Widodo menegaskan bahwa tujuan utama bukan sekadar latihan fungsi teknis kepolisian yang penting. Lebih penting lagi, program ini dirancang untuk membentuk hati dan karakter para calon anggota Polri.
Membentuk Karakter dan Jiwa Melayani
Program "Hidup Bersama Warga" merupakan kegiatan pembelajaran intensif yang dirancang untuk memperkaya pengalaman siswa Bintara Polri. Konsep 'live in' memungkinkan mereka berinteraksi langsung dengan realitas kehidupan masyarakat. Hal ini bertujuan menanamkan nilai empati, kepekaan sosial, dan jiwa melayani yang tulus dalam diri setiap calon Bhayangkara.
Kombes Pol Agus Widodo menjelaskan bahwa siswa harus merasakan langsung kesulitan hidup masyarakat. "Tujuan utama kita bukan sekadar latihan fungsi teknis kepolisian yang memang penting, namun jauh lebih penting adalah membentuk hati dan karakter mereka," ujarnya. Ini adalah fondasi penting bagi calon Bhayangkara agar tidak hanya gagah dalam seragam, tetapi juga rendah hati dalam pelayanan.
Para siswa Bintara didorong untuk memahami perjuangan sehari-hari warga. Mereka harus merasakan bagaimana sulitnya seorang petani bekerja di kebun, seorang nelayan berjuang di laut, atau pedagang sayur mencari rezeki. Pengalaman ini diharapkan membuat mereka lebih menghargai masyarakat yang kelak akan dilayani.
Pengalaman Hidup Tak Ternilai Bersama Warga Asuh
Dalam pelaksanaannya, setiap siswa dititipkan kepada satu keluarga yang menjadi orang tua asuh mereka selama dua hari. Siswa diwajibkan mengikuti seluruh ritme kehidupan keluarga tersebut. Ini mencakup bangun pagi, bekerja membantu profesi kepala keluarga, hingga makan dengan menu yang sama tanpa perlakuan istimewa.
Salah seorang siswa yang ditempatkan di keluarga petani di wilayah Kabupaten Gorontalo membagikan pengalamannya. Ia mengaku mendapatkan pelajaran hidup yang tak ternilai dari program ini. "Di sini saya baru benar-benar paham arti kerja keras dan rasa syukur," kata siswa tersebut, mengutip pernyataan yang disampaikan Agus Widodo.
Siswa tersebut melanjutkan, "Biasanya kami makan selalu tersedia, di sini kami harus ikut ke kebun dari pagi hingga sore untuk bisa makan. Ini membuka mata saya." Pengalaman langsung ini memberikan perspektif baru tentang perjuangan hidup dan menumbuhkan rasa syukur yang mendalam.
Mewujudkan Polisi Presisi dan Dicintai Rakyat
Kombes Agus Widodo menambahkan bahwa program ini adalah implementasi nyata dari arahan Kapolri. Tujuannya adalah mewujudkan polisi yang presisi dan dicintai rakyat. Menurutnya, seorang polisi tidak akan bisa menjadi pelindung dan pengayom sejati jika tidak pernah memahami kesulitan yang dihadapi warganya.
Arogansi kekuasaan, kata Agus Widodo, seringkali muncul dari adanya jarak antara aparat dan masyarakat. "Program ini kami rancang untuk memangkas jarak itu," tegasnya. Inisiatif ini berupaya membangun kedekatan dan kepercayaan antara calon polisi dan komunitas yang akan mereka layani.
Program live in ini mendapat apresiasi positif dari masyarakat yang terlibat. Mereka merasa dihargai dan melihat sisi humanis dari para calon anggota Polri. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi model pendidikan karakter berkelanjutan untuk melahirkan personel Polri profesional, berintegritas, dan menjadi abdi utama nusa dan bangsa.
Sumber: AntaraNews