BRIN Ungkap 93% Habitat Paus dan Lumba-lumba Sumatera Barat Berada di Luar Kawasan Konservasi

Penelitian terbaru BRIN menunjukkan bahwa mayoritas habitat paus dan lumba-lumba di perairan barat Sumatera, mencapai 93%, masih berada di luar kawasan konservasi. Temuan ini menyoroti urgensi perlindungan yang lebih luas untuk Habitat Paus dan Lumba-lumb

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BRIN Ungkap 93% Habitat Paus dan Lumba-lumba Sumatera Barat Berada di Luar Kawasan Konservasi
Penelitian BRIN, Konservasi Indonesia, dan OceanX menemukan 93% habitat paus dan lumba-lumba Sumatera Barat berada di luar area konservasi, menyoroti urgensi perlindungan laut. (AntaraNews)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Konservasi Indonesia, dan OceanX telah menyelesaikan survei penting mengenai habitat paus dan lumba-lumba di perairan barat Sumatera. Hasil mengejutkan dari survei tersebut menunjukkan bahwa 93 persen dari habitat vital mamalia laut ini berada di luar kawasan konservasi yang telah ditetapkan. Temuan ini menggarisbawahi adanya kesenjangan signifikan dalam upaya perlindungan ekosistem laut yang krusial.

Direktur Pengelola Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hananto, menyatakan bahwa ketersediaan data ilmiah yang kuat sangat penting untuk mendukung upaya pemerintah. Data ini diperlukan dalam merancang intervensi konservasi yang efektif dan tepat sasaran. Penelitian ini menjadi landasan penting untuk kebijakan perlindungan Habitat Paus dan Lumba-lumba Sumatera Barat di masa depan.

Ekspedisi ini, yang melibatkan peneliti dari BRIN, Konservasi Indonesia, dan universitas, menggunakan kapal riset RV OceanXploration milik OceanX. Kolaborasi ini telah menghasilkan temuan penting dengan implikasi signifikan bagi konservasi keanekaragaman hayati laut Indonesia, khususnya di perairan barat Sumatera.

Misi OceanX Indonesia, yang berlangsung antara Mei dan Juli 2024, menempuh jarak survei sejauh 15.043 kilometer. Selama ekspedisi ini, tercatat 77 penampakan dari 10 spesies cetacea yang berbeda. Penemuan ini termasuk konfirmasi udara pertama kali untuk orca (Orcinus orca) dan paus pembunuh kerdil (Feresa attenuata) di perairan barat Indonesia.

Hasil ekspedisi ini baru-baru ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in Marine Science. Dengan mengintegrasikan data historis, jumlah total spesies cetacea yang terdokumentasi di wilayah tersebut kini mencapai 23 spesies. Angka ini merepresentasikan 68 persen dari seluruh spesies cetacea yang diketahui di perairan Indonesia.

Hotspot kepadatan tinggi, yang didominasi oleh lumba-lumba spinner (Stenella longirostris) dan lumba-lumba bergaris (Stenella coeruleoalba), sebagian besar teridentifikasi di luar kawasan konservasi yang ada. Studi ini menemukan bahwa 93 persen dari hotspot ini terletak di luar kawasan lindung laut yang saat ini ada atau yang diusulkan.

Para peneliti mengidentifikasi temuan ini sebagai bukti ketidaksesuaian antara jaringan kawasan lindung yang ada dan distribusi sebenarnya dari habitat cetacea utama. Ketidaksesuaian ini sangat terlihat di perairan lepas pantai, di mana sebagian besar Habitat Paus dan Lumba-lumba Sumatera Barat ditemukan. Pemodelan spasial juga mengungkapkan adanya tumpang tindih signifikan antara habitat cetacea dengan aktivitas penangkapan ikan intensif dan lalu lintas maritim.

Tumpang tindih ini meningkatkan risiko bagi beberapa spesies, termasuk orca, paus Omura (Balaenoptera omurai), dan paus sperma (Physeter macrocephalus), yang semuanya diklasifikasikan sebagai spesies terancam punah. Kondisi ini menuntut perhatian serius dari pihak berwenang untuk memastikan perlindungan yang memadai bagi spesies-spesies rentan ini.

Iqbal Herwata, Manajer Senior Konservasi Spesies Fokus di Konservasi Indonesia dan penulis utama studi, menyatakan, “Survei ini mengisi kesenjangan data kritis yang telah lama membatasi pengelolaan cetacea di laut lepas Indonesia.” Ia menambahkan, “Skala dan kualitas data memungkinkan perencanaan konservasi berbasis bukti yang sesungguhnya.”

Konservasi Indonesia, yang berkolaborasi dengan OceanX dan BRIN dalam ekspedisi ini, menilai bahwa temuan tersebut menekankan perlunya perlindungan spasial yang ditargetkan. Selain itu, diperlukan perencanaan ruang laut adaptif dan langkah-langkah mitigasi spesifik spesies untuk melengkapi upaya perluasan kawasan konservasi laut Indonesia menuju target 30x45. Target ini bertujuan untuk melindungi 30 persen wilayah laut pada tahun 2045.

Hasil penelitian ini juga mendukung implementasi inisiatif nasional Blue Halo S. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat tata kelola perikanan, melindungi habitat laut yang kritis, dan mempromosikan ekonomi biru berkelanjutan di perairan barat Sumatera. Dengan demikian, data yang dihasilkan oleh BRIN dan mitranya memiliki peran krusial dalam membentuk kebijakan konservasi laut Indonesia yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi