BPBD Jayapura Lakukan Normalisasi Sungai Kehiran Sepanjang 1.200 Meter, Antisipasi Banjir Permukiman
BPBD Kabupaten Jayapura mengambil langkah proaktif dengan melakukan normalisasi Sungai Kehiran sepanjang 1.200 meter. Upaya ini bertujuan mencegah banjir yang kerap melanda kawasan permukiman saat musim hujan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jayapura, Papua, saat ini tengah gencar melakukan upaya normalisasi Sungai Kehiran. Langkah strategis ini diambil untuk mengurangi risiko bencana banjir yang sering melanda sejumlah kawasan permukiman di wilayah tersebut. Normalisasi mencakup pembangunan tanggul sepanjang 1.200 meter guna meningkatkan kapasitas sungai.
Kepala BPBD Kabupaten Jayapura, Jan Willem Rumere, menjelaskan bahwa inisiatif ini sangat krusial menjelang musim hujan. Pembangunan tanggul dirancang untuk memastikan Sungai Kehiran mampu menampung debit air yang meningkat secara signifikan. Hal ini diharapkan dapat meminimalisir luapan air ke area penduduk.
Proyek normalisasi ini berfokus pada penanganan sedimentasi tinggi yang terjadi di sepanjang aliran sungai. Dengan demikian, kapasitas aliran air akan terjaga dan risiko banjir dapat ditekan secara efektif. Prioritas diberikan pada titik-titik paling mendesak sesuai kondisi keuangan daerah.
Upaya Mitigasi Banjir Melalui Pembangunan Tanggul
BPBD Kabupaten Jayapura memprioritaskan pembangunan tanggul di sepanjang Sungai Kehiran sebagai bagian integral dari program normalisasi. Tanggul ini dirancang untuk membendung dan mengarahkan aliran air, terutama saat volume air sungai meningkat drastis. Panjang tanggul yang direncanakan mencapai 1.200 meter, mencakup area kritis yang rentan terhadap luapan air.
Menurut Jan Willem Rumere, pembangunan tanggul ini menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah banjir. Sedimentasi yang tinggi di Sungai Kehiran telah mengurangi kedalaman dan lebar sungai, sehingga kapasitas tampungnya berkurang. Dengan adanya tanggul, diharapkan sungai dapat berfungsi optimal dalam menampung debit air.
Meskipun demikian, pelaksanaan proyek normalisasi Sungai Kehiran ini tetap disesuaikan dengan ketersediaan anggaran daerah. BPBD akan mengidentifikasi beberapa titik yang dianggap paling mendesak untuk segera dilakukan pembangunan tanggul. Prioritas ini penting untuk memastikan efektivitas penanganan banjir dengan sumber daya yang ada.
Pembangunan tanggul ini diharapkan tidak hanya mencegah banjir, tetapi juga mengurangi frekuensi dan dampak genangan. Warga di sekitar aliran sungai dapat merasa lebih aman dan terlindungi dari ancaman banjir yang selama ini menjadi momok tahunan.
Kawasan Terdampak dan Peran Serta Masyarakat
Beberapa wilayah di Kabupaten Jayapura kerap menjadi langganan banjir saat musim hujan tiba. Kawasan seperti BTN Griya Rofelle, area Gajah Mada, dan SD Mutiara Sion adalah contoh permukiman yang sering terdampak. Normalisasi Sungai Kehiran diharapkan dapat memberikan perlindungan signifikan bagi warga di lokasi-lokasi tersebut.
Jan Willem Rumere menegaskan bahwa keberhasilan upaya ini juga sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. BPBD Kabupaten Jayapura secara konsisten mengingatkan warga untuk selalu menjaga kebersihan sungai. Hal ini termasuk tidak membuang sampah sembarangan ke aliran sungai yang dapat mempercepat proses sedimentasi.
Sampah yang menumpuk di sungai tidak hanya memperparah sedimentasi, tetapi juga menyumbat aliran air. Kondisi ini secara langsung mengurangi efektivitas tanggul dan memperbesar potensi banjir. Oleh karena itu, kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan sungai menjadi kunci utama.
Pesan untuk bersama-sama menjaga sungai dan tidak menjadikannya tempat pembuangan sampah terus digaungkan. Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan Sungai Kehiran dapat berfungsi optimal sebagai jalur air alami. Ini akan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan aman dari ancaman banjir.
Sumber: AntaraNews