Boediono Kenang Pertama Kali Dihubungi Megawati untuk Jadi Menkeu

Rabu, 23 Januari 2019 19:00 Reporter : Merdeka
Boediono Kenang Pertama Kali Dihubungi Megawati untuk Jadi Menkeu Boediono bersama Megawati. ©Liputan6.com/Putu Merta Surya Putra

Merdeka.com - Wakil Presiden era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Boediono ternyata pernah menjabat Menteri di Kabinet Gotong Royong era Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden.

Dia pun bercerita, bagaimana mengenal Megawati. Hal ini disampaikannya, dan ditulis dalam buku yang berjudul The Brave Lady. Buku yang ditulis oleh para menteri Kabinet Gotong Royong untuk kado ulang tahun Megawati yang ke 72 tahun.

"Agustus Tanggal 7, 2001, sekitar jam 8 malam, di rumah saya berdering telepon, saya ambil. Di sebelah sana suara Presiden Megawati Soekarnoputri. Suatu kejutan. Beliau tanpa basa-basi langsung menawarkan posisi sebagai Menteri Keuangan di kabinet beliau, yang baru akan dibentuk," ucap Boediono saat memberikan testimoni di HUT Megawati, Hotel Grand Sahid, Jakarta, Rabu (23/1/2019).

Dia menegaskan, sebetulnya belum pernah sama sekali bertemu dengan Megawati. Dirinya pun menarik kesimpulan, pasti mendapatkan masukan dari seseorang.

"Ini menunjukkan satu hal dalam gaya kepemimpinan beliau. Bahwa kalau ada orang yang dipercaya, kalau ada trust, beliau akan langsung mengambil ini sebagai landasan keputusannya. Jadi saya ingin menggarisbawahi, dalam kepemimpinan beliau selama Kabinet Gotong-Royong, beliau mengentalkan kepemimpinannya pada trust. Kepercayaan, saling kepercayaan antara Presiden dan anggota-anggota kabinetnya," ungkap Boediono.

Menurut dia, ini sangat penting, karena disanalah kekuatan dari satu tim. Dimana kerja sama itu akan terjadi jika ada yang saling percaya.

"Trust ini mempunyai implikasi bagi Menteri. Di satu pihak, kita merasa ada trust dari beliau, di lain pihak beliau juga merasakan ada trust beliau dari kami. Ini artinya bahwa dalam keadaan yang kompleks mengambil keputusan, itu Menteri mendapatkan otonomi untuk mengambil keputusan sesuai apa yang dia pikirkan sebagai yang terbaik untuk mencapai sasaran bersama kabinet," tutur Boediono.

Dia menuturkan, Megawati sama sekali tidak intervensi. Semua sesuai apa yang diproses di APBN.

"Dan ini terjadi, kadangkala memang terjadi, Menteri atau anggota kabinet meminta tambahan. Tapi saya merasa senang bahwa Bu Mega selalu mengandalkan pada prinsip rencananya bagaimana, APBN-nya bagaimana, ya itu. Saya mohon maaf pada rekan-rekan saya pada waktu itu, yang minta tambahan dan sebagainya, hampir semuanya saya tolak karena uangnya belum cukup. Tidak cukup bahkan untuk memenuhi kebutuhan yang rutin saja," jelas Boediono.

Pada saat itulah kabinet bisa membawa situasi dari yang tidak normal atau negara yang tidak normal ke keuangan negara yang cukup normal. Kata Boediono, pada waktu serah terima kepada kabinet yang berikutnya, ekonomi lumayan. Kurs stabil, defisit juga sudah mulai menyusut.

"Dulunya berapa persen pada waktu itu, saya lupa. Akhirnya menyusut pada tingkat sekitar 3% yang sesuai dengan undang-undang keuangan negara. Utang pemerintah dulu awal Kabinet Gotong-royong itu 100% dari PDB. Akhir pada 2004, turun menjadi 60%. Masih berbahaya, dan ini ternyata dilanjutkan prestasinya oleh pemerintah-pemerintah selanjutnya," beber Boediono.

Pasar saham juga melipatgandakan indeksnya. Suku bunga turun dari 13 persen menjadi 6,5 persen yang bagus bagi dunia usaha. Inflasi turun dari 13,5 persen menjadi 6 persen.

"Jadi intinya, kita menyerahkan ekonomi Indonesia kepada pemerintah berikutnya in relatively good order. Tidak sempurna memang, karena masih banyak yang harus diperbaiki," ujarnya.

Dari situ, dia memiliki pemahaman bahwa setiap estafet pemerintahan yang berjalan lima tahun, harus bisa memberikan kondisi lebih baik bagi pemerintahan berikutnya. Sebab tidak mungkin pelari estafet bisa menyelesaikan lomba hingga finish dengan sendirian saja.

"Ini adalah esensi pembangunan suatu bangsa. Estafet satu memperbaiki yang lain. Moga-moga ini pelajaran sejarah yang kita bisa ambil ke depan. Proses berkelanjutan. Tidak mungkin pembangunan suatu negara diselesaikan dalam 5 tahun, bahkan dalam 10 tahun," ungkap Boediono.

Di tempat yang sama, Megawati membenarkan cerita tersebut. Ada yang mengeluhkan Boediono sedikit pelit.

"Ya bagus saya bilang. menteri Keuangan harus pelit, apalagi dalam krisis begini," pungkasnya. [ded]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini