Bina Napi Teroris di Lapas, BNPT Samakan Persepsi dengan Ditjen PAS

Rabu, 14 November 2018 16:17 Reporter : Mardani
Bina Napi Teroris di Lapas, BNPT Samakan Persepsi dengan Ditjen PAS Ilustrasi penjara. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Menangani napi teroris tidak bisa disamakan dengan pelaku tindak kriminal biasa. Butuh kewenangan, penanganan, dan kebijakan khusus dalam upaya penanggulangannya termasuk dalam menjalankan program pembinaan pelaku.

"Inilah yang selalu disalahpahami oleh masyarakat bahwa deradikalisasi dianggap sebagai proses instan mengubah seseorang yang radikal menjadi tidak radikal," kata Deputi I BNPT Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis dilansir Antara, Rabu (14/11).

Karena itu, dia mengatakan diperlukan sinergitas bersama antara BNPT dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) dalam menangani napi teroris tersebut.

"Perlu sinergi bersama antara kami dari BNPT dan petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) melalui Ditjen Pemasyarakatan dalam menangani napi terorisme yang sedang menjalani masa pembinaan di lapas," kata Deputi I BNPT Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis saat membuka rakor tersebut.

Dia mengatakan banyak tantangan dan permasalahan dalam pelaksanaan deradikalisasi mulai dari persoalan koordinasi, identifikasi, penempatan, fasilitas hingga persoalan lemahnya kapasitas SDM dalam menangani program pembinaan ini.

"Saya kira inilah urgensi dari kegiatan ini sebagai wadah koordinasi, sinergi, dan penyamaan persepsi antara BNPT dengan petugas lapas, khususnya pamong yang merupakan garda terdepan yang bersentuhan langsung dengan narapidana terorisme agar napiter tersebut bisa berubah menjadi lebih baik," katanya.

Sementara itu Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami mengatakan terorisme adalah kasus khusus dan luar biasa sehingga pembinaannya pun khusus.

"Intinya para narapidana dan tahanan yang ditempatkan di lapas dan rutan dalam menjalani masa pidananya adalah agar ada perubahan untuk menjadi lebih baik, sadar, tobat yang kemudian melakukan hal-hal baik. Pada saat menjalankan tugas yang tidak ringan seperti ini, tentunya jajaran kami harus dikuatkan kapasitasnya," ujarnya.

Dia mengakui dalam menangani pihaknya tidak bisa bekerja sendiri karena memasyarakatkan napiter juga ada pilar-pilar lain yang ikut terlibat, di antaranya BNPT, Densus 88, serta pihak terkait lainnya yang peduli akan adanya keretakan sosial yang dialami oleh warga binaan.

Menurutnya, BNPT yang menjadi ujung tombak di bidang penanggulangan terorisme perlu untuk mempersiapkan suatu metode ataupun strategi khusus dalam menangani napiter yang nantinya akan dijalankan oleh petugas lapas ataupun rutan.

"Tentunya butuh satu kesepahaman juga dari berbagai pihak ketika ada keberhasilan adalah keberhasilan bersama. Ini sungguh satu pekerjaan yang tidak ringan buat kami. Kami berharap untuk saling memberikan kontribusi supaya teroris tidak ada lagi di Indonesia," katanya.

Rapat koordinasi antara BNPT dan Ditjen PAS digelar Selasa (13/11) dan diikuti 93 kepala lapas, 112 pamong, dua kepala rutan, dan 18 orang dari Ditjen Pemasyarakatan. Hadir dalam pembukaan rakor antara lain Sekretaris Utama BNPT Marsda TNI Asep Adang Supriyadi, Deputi III bidang Kerja Sama Internasional BNPT Irjen Pol Hamidin, serta pejabat eselon II dan III BNPT. [dan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini