Pemerintah China secara resmi menjatuhkan sanksi larangan masuk wilayah terhadap Menteri Pertahanan Filipina, Gilberto Teodoro Jr., beserta istri dan anaknya. Keputusan ini diumumkan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, di Beijing pada Jumat (13/6), menyusul pengumuman di laman Kemenlu China pada Kamis (11/6). Sanksi ini juga mencakup larangan bagi organisasi maupun individu di China untuk terlibat dalam transaksi jual-beli, kerja sama, atau aktivitas lain dengan Gilberto dan keluarganya.
Larangan masuk ke wilayah China tidak hanya berlaku untuk daratan utama, tetapi juga mencakup Hong Kong dan Makau. Beijing beralasan bahwa sanksi ini dijatuhkan karena Gilberto Teodoro Jr. berulang kali membuat pernyataan yang dianggap tidak bertanggung jawab tentang China. Pernyataan-pernyataan tersebut dinilai merusak kepentingan sah China serta menyabotase hubungan bilateral antara kedua negara.
Juru Bicara Kemenlu China, Lin Jian, menegaskan bahwa Gilberto Teodoro Jr. adalah salah satu figur paling terang-terangan yang memusuhi China di Filipina. Ia menambahkan bahwa perilaku sembrono seperti ini pada akhirnya akan merugikan kepentingan fundamental Filipina dan rakyatnya. Tindakan ini memperburuk perselisihan dan hubungan bilateral, serta membahayakan kepentingan nasional Filipina.
Advertisement
Advertisement
Latar Belakang Sanksi dan Pernyataan Tidak Bertanggung Jawab
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, secara terbuka menyatakan bahwa Gilberto Teodoro Jr. merupakan salah satu individu yang paling vokal dalam menunjukkan permusuhan terhadap China di Filipina. Menurut Beijing, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh Menteri Pertahanan Filipina tersebut tidak bertanggung jawab. Hal ini dinilai secara langsung merusak kepentingan sah China dan mengganggu stabilitas hubungan antara China dan Filipina.
Sanksi yang dijatuhkan tidak hanya berupa larangan masuk ke wilayah China, termasuk Hong Kong dan Makau, bagi Gilberto Teodoro Jr., istri, dan anaknya. Lebih jauh, pemerintah China juga melarang entitas maupun individu di negaranya untuk melakukan segala bentuk transaksi, kerja sama, atau aktivitas lain yang melibatkan keluarga Teodoro. Lin Jian memperingatkan bahwa "perilakunya yang sembrono akan menjadi bumerang dan kepentingan Filipina serta seluruh rakyatnya yang akan menanggung akibatnya."
Beijing melihat bahwa jika individu seperti Gilberto Teodoro Jr. terus-menerus merusak upaya stabilisasi hubungan kedua negara, hal ini akan merugikan kepentingan fundamental Filipina. Lin Jian secara tegas menyebut bahwa retorika dan tindakan Gilberto "murni sandiwara politik untuk keuntungan politik yang egois," bukan untuk membela bangsanya. Provokasi yang tidak bertanggung jawab ini justru memperburuk perselisihan dan hubungan bilateral.
Advertisement
Advertisement
Tanggapan Filipina dan Implikasi Hubungan Bilateral
Menanggapi sanksi yang dijatuhkan oleh Beijing, Departemen Luar Negeri di Manila menyatakan bahwa meskipun menjatuhkan sanksi adalah hak prerogatif China, Filipina memandang tindakan tersebut sebagai "tindakan tidak ramah." Pemerintah Filipina menilai bahwa langkah-langkah seperti ini justru semakin memperumit hubungan bilateral yang sudah tegang.
Pemerintah Filipina juga menegaskan bahwa sanksi tersebut tidak berkontribusi pada pembangunan kepercayaan timbal balik antara kedua negara. Selain itu, langkah ini dianggap tidak mendukung pengelolaan perbedaan secara bertanggung jawab, maupun menciptakan kondisi yang diperlukan untuk keterlibatan konstruktif. Pernyataan ini menunjukkan kekecewaan Manila terhadap keputusan Beijing yang dinilai kontraproduktif.
Kondisi ini menambah daftar panjang ketegangan antara China dan Filipina, terutama terkait isu Laut China Selatan. Sanksi terhadap seorang pejabat tinggi pertahanan mengindikasikan semakin dalamnya jurang perbedaan pandangan dan pendekatan kedua negara dalam menyelesaikan isu-isu sensitif. Implikasi jangka panjang dari sanksi ini terhadap hubungan diplomatik dan keamanan regional masih perlu dicermati.
Advertisement
Advertisement
Sikap Kritis Gilberto Teodoro Jr. dan Kebijakan Pertahanan Filipina
Gilberto Teodoro Jr., yang diangkat sebagai Menteri Pertahanan oleh Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. pada Juni 2023, dikenal sebagai salah satu kritikus paling vokal terhadap tindakan China. Ia secara konsisten menyuarakan keberatannya terkait klaim China di Laut China Selatan yang disengketakan, serta isu-isu terkait Taiwan.
Menanggapi sanksi China, Gilberto menyatakan bahwa ia akan terus menjalankan tugasnya. Ia juga berkomentar bahwa sanksi tersebut menggarisbawahi "apa yang mereka lakukan terhadap mereka yang berbicara jujur melawan tipu daya mereka." Pernyataan ini menunjukkan sikap tidak gentar Teodoro dalam menghadapi tekanan dari Beijing.
Tahun lalu, Gilberto Teodoro Jr. pernah menyebut klaim China di Laut China Selatan sebagai "fiksi dan kebohongan terbesar." Ia bahkan secara langsung menunjuk Presiden China Xi Jinping dan para pendukungnya di Partai Komunis China atas apa yang disebutnya sebagai kebijakan agresif dan ilegal Beijing.
Advertisement
Selain itu, Gilberto juga menjadi motor penggerak di balik upaya Filipina untuk memperdalam keterlibatan pertahanan dan keamanan dengan Amerika Serikat, sekutu perjanjian lama Manila. Ini termasuk perluasan latihan tempur tahunan dengan pasukan AS yang kini mencakup patroli angkatan laut bersama dan latihan di Laut China Selatan. Ia juga memimpin upaya untuk menjalin perjanjian pasukan tambahan dengan negara-negara sahabat seperti Jepang, Prancis, Kanada, dan Selandia Baru, yang bertujuan meningkatkan pencegahan terhadap sikap agresif China.
Sumber: AntaraNews