KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Begini cara Risma menata Surabaya

Selasa, 14 Februari 2017 10:36 Reporter : Mohamad Taufik
Tri Rismaharini. ©2017 merdeka.com/mohammad taufik

Merdeka.com - Berbicara tentang Walikota Surabaya Tri Rismaharini memang tidak ada habisnya. Wanita yang telah menjadi Walikota Surabaya selama dua periode ini kerap melakukan terobosan yang gaungnya sampai ke Nasional. Bahkan, Risma pernah menyabet sebagai salah satu walikota terbaik dunia, bersama dengan Presiden Joko Widodo, yang saat itu masih menjadi Walikota Solo.

Merdeka.com memperoleh kesempatan wawancara dengan Risma di kantornya, belum lama ini. Risma bicara panjang lebar tentang prioritas yang telah dan akan dia lakukan dalam dua periode memimpin Kota Surabaya. Tak lupa Risma juga bicara tentang kawasan Dolly, yang telah dia tutup beberapa tahun lalu.

"Saya mengubah Dolly itu bukan semata menutup pelacuran, tapi saya ingin menyelamatkan anak-anak yang berada di situ. Saya bukan tokoh agama, saya bukan ulama. Saya ini adalah umaro, pemimpinnya pemerintahan. Saya menutup itu tujuannya untuk menyelamatkan anak-anak," kata Risma.

Berikut wawancara lengkap Tri Risma Harini bersama wartawan merdeka.com Mohamad Taufik:


Apa prioritas Anda di periode kedua memimpin Kota Surabaya ini?

Saya konsentrasi di masalah sumber daya manusia (SDM). Karena, apa namanya, enggak ada gunanya juga saya bangun kota ini kalau warga saya enggak bisa dapat apa-apa. Makanya saya kejar di SDM-nya. Makanya tahun ini, kita lebih dari 500 orang nambahnya, jadi saya tambah 100 persen. Sekarang ini anak kuliah di Surabaya, yang sudah kami beri beasiswa itu jumlahnya hampir 500-an, jumlahnya 484 kalau enggak salah. Tahun 2017 ini saya tambah sebesar itu, 500-an. Jadi memang kita mengejar untuk peningkatan sumber daya manusia.

Di samping itu kita juga mengadakan pelatihan-pelatihan, nonformal, tapi lebih cenderung untuk vokasional, misalkan kita beri pelatihan alat berat khusus. Di Kementerian ESDM pelatihan boring (pengeboran) kayak gitu, khusus untuk perminyakan. Dan sejak 2016 kemarin kita juga punya program namanya Pejuang Muda. Kalau 2010 saya membuat program Pahlawan Ekonomi untuk pengentasan ibu-ibu dari gakin (keluarga miskin) itu kita ajarkan untuk bisa wiraswasta, membuat UKM.

Dari 89 kelompok UKM sekarang menjadi 5000 kelompok. Itu untuk perempuan. Tahun 2016 saya mulai untuk anak-anak muda. Tapi kalau anak-anak muda ini memang lebih luas cakupannya. Kalau ibu-ibu itu hanya food, fesyen, kemudian handycraft. Tapi kalau anak-anak muda itu ada jasa, jadi IO (Ivent Organizer), jadi kontraktor kayak gitu. Seperti itu, kita training mereka.

Artinya untuk pembangunan fisik kota, misalnya ikon kota dianggap sudah cukup?

Endak, endak. Ya belum. Sebetulnya itu bukan ikon itu. Menurut saya infrastruktur itu bukan ikon. Itu adalah memang strukturnya kota ya di situ. Kalau saya membangun jalan itu bukan ikon, kalau membangun taman itu juga bukan ikon, itu kebutuhan. Jadi saya mencoba untuk tidak membangun ikon. Itu kebutuhan gitu. Kebutuhan masyarakat Surabaya.

Data BPS Jatim pada pertengahan 2016 lalu menyebut angka pengangguran di Jawa Timur sebanyak 849 ribu. Sebanyak 83 ribu pengangguran ada di Kota Surabaya. Menurut Anda?

Saya benar-benar tidak tahu, apa namanya, mereka surveinya itu kalau enggak salah ada sekian jam kerja, satu minggu sekian jam kerja baru kemudian disebut pengangguran. Padahal orang Surabaya kerjanya enggak kayak gitu. Kenapa Surabaya itu strukturnya, perdagangan itu 98 persen kecil-menengah. Jadi yang besar-menengah itu hanya 2 persen. Dari 98 persen tadi, itu 92 persennya mikro kecil. Kenapa ada krisis ekonomi kita enggak terpengaruh? Ya karena itu tadi. Itu yang akan saya bangun, saya akan bertahan di situ.

Tri Rismaharini ©2017 merdeka.com/mohammad taufik


Artinya secara garis besar pengangguran di Surabaya kecil?

Iya. Jadi BPS kemarin menyampaikan jumlah pengangguran kita ini memang paling kecil di antara kota-kota besar di Indonesia. Saya memang geraknya di situ. Saya tidak peduli orang omong apa kok banyak pengusaha kecil, saya tidak peduli itu. Itu yang akan saya perbanyak.

Bagaimana peluang industri kreatif bidang teknologi, misalnya usaha rintisan atau startup?

(Tersenyum) Kemarin kita, Surabaya, juara dua di dunia untuk startup nation. Jadi nomor satu kena Kolombia, nomor dua Surabaya.

Lalu soal MEA, setelah dievaluasi di 2017 ini Surabaya sudah siap?

Itu sudah saya mulai di 2016. Kan start-nya (MEA) di 2016, kita mulai 2015, makanya saya membuat rumah bahasa. Jadi sejak 2016 kita berikan free (gratis) untuk mengurus izin-izin, mengurus merek, hak cipta, untuk gitu-gitu itu free di Surabaya. Setahun antara 800 sampai 1000 UKM kita berikan free untuk mengurus izin-izin sama merek dan hak cipta. Makanya kita dapat penghargaan dari Menkumham untuk kepatuhan terhadap merek dan paten.

Setelah MEA, sekarang tenaga asing banyak masuk ke Indonesia, bagaimana dengan Surabaya?

Kalau itu, menurut saya begini, saya mencoba yang kebutuhan sehari-hari itu jangan sampai diambil orang luar. Makanya saya ajari untuk membuat sabun, untuk membuat pengepel, pewangi, pokoknya untuk kebutuhan sehari-hari, untuk cuci piring, itu kita buat sendiri. Kemudian digunakan untuk ibu-ibu, mereka membuat sendiri kemudian dijual di antara mereka. Saya mencoba yang untuk kebutuhan sehari-hari itu enggak boleh dipegang orang lain. Itu sudah kita pegang sekarang. Kecil sekali itu yang dikonsumsi oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Tapi untuk konsumsi menengah ke bawah itu sudah produk kita.

Nah, berkaitan dengan orang asing di Surabaya, itu biasanya geraknya di sektor-sektor perdagangan dan jasa. Tapi kita kenceng di situ, kalau tidak salah, selama aku jadi wali kota, 149 orang asing kita pulangkan.

Pemulangan WNI itu bagian dari proteksi?

Sebetulnya kan enggak boleh, saya tidak boleh omong seperti itu (memproteksi). Karena kita sudah sepakat dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Tapi mereka (149 WNA) kan enggak bisa memenuhi aturan. Saya enggak bisa bicara ilegal, karena bukan kewenangan saya. Tapi kalau sesuai aturan, mereka yang tidak bisa memenuhi ya kita deportasi.

Bagaimana penanganan banjir di Kota Surabaya?

Ya Alhamdulillah kita getting better-lah.

Tapi pertengahan tahun lalu sempat banjir lumayan parah, sempat ramai juga di media sosial?

(Tertawa), kalau kamu menjatuhkan saya ya caranya seperti itu. Wartawan-wartawan kecelek (tertipu) kok, "bu itu kok enggak ada ya (banjirnya)". Saya sih ketawa saja. Ya biarlah yang suka seperti itu. Tanya sajalah ke warga Surabaya. Nanti kalau saya omong seperti itu (ada banjir) katanya saya bohong. Bagaimana mereka bisa seperti itu, wong saya bisa mengawasi 24 jam.

Sebenarnya berapa persentase antara wilayah serapan air dengan permukiman di Surabaya?

Kita paling baik se-Indonesia. Kita sudah 32 persen wilayah serapan airnya, 23 persen dikelola pemerintah, 10 persen dikelola oleh swasta.

Sementara permukiman di Kota Surabaya ini terus tumbuh, bagaimana menjaga wilayah serapan airnya?

Ya kita kan sudah ada tata ruangnya. Kalau selama tata ruangnya boleh (mendirikan permukiman), itu ya enggak apa-apa. Tapi yang kita lakukan di Surabaya adalah, memang ada kawasan yang kita protek. Ada lahan mangrove 1300 hektare itu memang tidak bisa kita apa-apain. Sudah kita tetapkan, malah mau ditetapkan sebagai kebun raya mangrove. Itu 2300 hektare mau kita tetapkan sebagai kebun raya mangrove. Tapi kita terus tambah setiap tahun.

Memang target saya wilayah serapan air itu 30 persen yang dikelola pemerintah. Totally target saya 40 persen (wilayah resapan air), 30 persen dikelola pemerintah, 10 persen dikelola swasta.

Tri Rismaharini ©2017 merdeka.com/mohammad taufik

Kemudian persoalan PKL. Anda konsen sekali, ini bagian dari strategi menekan atau menghidupkan mereka?

Nanti silakan ditanya saja PKL setelah kita pindah. Sebetulnya bukan menekan, kita justru mengasih mereka tempat untuk berjualan. Kalau dulu mereka jualannya mungkin malam karena kalau siang enggak boleh sebab tempatnya dipakai jalan atau apa, setelah kita tempatkan mereka jualannya 24 jam, life time-nya. Dan mereka bisa diwawancarai sekarang income-nya berapa. Saya juga punya data, dulu income-nya berapa sekarang menjadi berapa. Naik semua.

Saya bukan menekan, justru semakin banyak PKL saja semakin senang. Tapi kita tempatkan di tempat-tempat tertentu karena bagi saya seperti itulah kehidupan Surabaya. Tidak boleh dipungkiri, ya memang 98 persen kita UKM kecil-menengah. Bagi saya senang sekali karena tidak terdampak ekonomi global, mau di sana harga minyak naik, mau ada apa, tidak ada urusan sama kita. Jangan lupa, omzet mereka sehari bisa sampai Rp 74 juta.

Beberapa daerah lain saat ini mulai gencar membranding kotanya sebagai kota festival, Anda tidak tertarik? Bagaimana dengan Surabaya?

Kalau saya bukan Festival, kota ini saya ciptakan untuk kota belajar. Jadi setiap hari itu ada yang datang ke sini untuk belajar, mereka datang dari luar. Sebentar lagi dari Brunei Darussalam 21 orang. Memang kota ini tempat untuk belajar. Kalau saya mau egois, ya ambil saja Industri semua, tapi saya enggak mau. Sudah Industri biar Sidoarjo sama Gresik. Saya lari ke sini. Karena kalau enggak ambil peran, kota ini jadi serakah. Kalau kota ini jadi serakah, maka yang enggak nyaman itu warganya. Kalau kemudian warganya tidak nyaman, orangnya sakit-sakitan, orangnya stres, untuk apa dibikin kota. Jadi endak bisa, saya tidak mau meniru harus menjadi ini. Saya harus punya gagasan sendiri. Kalau semua harus sama ya rebutan.

Kalau misalnya saya omong mau wisata seperti Bali misalnya. Ya saya harus saingan sama Bali, untuk apa? Itu enggak produktif. Makanya saya lari ke minde, lari ke kota untuk pembelajaran. Ini saya membuat Command Center 112, itu dari Jerman mau datang melihat. Karena kalau dia, 911 itu untuk kecelakaan, bencana, tapi kalau di 112 itu komplet, orang meninggal bisa lapor, lampu mati bisa lapor, semua bisa lapor, semuanya komplet. Sudah dimulai sekarang.

Sekarang soal Dolly, setelah ditutup ada yang bilang mereka justru menyebar ke tempat-tempat lain?

Silakan dilihat sendiri. Kalau menyebar itu memang mereka bukan orang Surabaya. Kalau bukan warga saya kan bukan tanggung jawab saya. Kalau dia memilih terima uang terus pulang ya masak saya melarang. Tapi kalau memang masih ada di situ, ya nanti bisa dilihat lah bagaimana kondisinya. Saya mengubah Dolly itu bukan semata menutup pelacuran, tapi saya ingin menyelamatkan anak-anak yang berada di situ. Saya bukan tokoh agama, saya bukan ulama. Saya ini adalah umaro, pemimpinnya pemerintahan. Saya menutup itu tujuannya untuk menyelamatkan anak-anak.

Ada Menteri omong, itu (dolly) mestinya diprotek. Lho sekarang saya tanya, kalau ada PSK di Dolly, dia kena HIV/AIDS, adakah tanda (menunjuk kening) di sini kalau dia kena? Terus kalau ada suami datang ke situ, kemudian kena, itu si suami menularkan ke istrinya. Dan itu banyak terjadi. Adakah tulisannya? Tapi begitu saya tutup, orang-orang ini langsung saya riset. Saya gaji lho ke mereka (PSK pengidap HIV/AIDS) setiap bulan, supaya mereka enggak bekerja di sektor lain. Sampai sekarang. Jumlahnya ada 16 orang. Jadi sekali lagi saya ini bukan tokoh agama, penutupan itu saya lakukan untuk melindungi anak-anak saya. Anak-anak itu hidup di antara mereka. Mereka melihat menit per menit kondisi di lingkungan sekitar mereka.

[war]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.