Batik Janda Bolong, Kreasi Pengusaha Batik Garutan di Tengah Pandemi
Merdeka.com - Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap sejumlah sektor usaha masyarakat, baik yang skala besar, kecil, hingga mikro. Pelbagai upaya dilakukan para pengusaha untuk bisa bertahan di tengah pandemi, agar usahanya tetap jalan dan karyawannya bisa makan.
Kabupaten Garut menjadi salah satu wilayah penghasil batik terbaik di Indonesia dengan nama khas batik Garutan. Para pengusaha batik Garutan ini pun rupanya tidak lepas dari dampak pandemi, beberapa di antara mereka bahkan ada yang memilih tidak berproduksi.
Namun di balik mereka yang memilih tidak beroperasi, ada juga pengusaha batik garutan yang memilih untuk menciptakan kreasi batik baru agar bisa bertahan di tengah pandemi. Langkah tersebut dilakukan agar belasan pekerja yang dimiliki bisa tetap menghidupi anak anak istri.
Adalah Batik Pudini, tempat batik garutan yang masih berjuang di tengah pandemi. Batik Pudini yang berada di Kelurahan Kota Kulon, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, 15 pekerjanya masih bisa menghidupi anak dan istrinya masing-masing karena mereka tidak dirumahkan karena tetap memproduksi batik.
Ani (53) pemilik Batik Pudini bercerita bahwa salah satu caranya bertahan di tengah pandemi adalah dengan tetap berkreasi. Salah satu kreasi batik yang dibuatnya adalah batik janda bolong.
"Kreasi ini saya buat saat tanaman janda bolong sedang rame banget di masyarakat. Melihat potensi itu, saya berinisiatif untuk membuat batik tersebut,” kata Ani, Selasa (16/11).
Kreasi batik yang dibuat Ani, diakuinya memang cukup membantu usahanya tetap bertahan di tengah pandemi. Setidaknya, dengan penjualan batik tersebut ia masih bisa membayar upah para pekerjanya agar tetap bisa menghidupi anak istrinya.
“Karena memang kalau yang batik ini kan bukan batik tulis, jadinya bisa dijual lebih murah dibanding batik tulis. Alhamdulillah respon pembeli juga bagus. Jadinya hasil penjualan bisa digunakan untuk membayar upah pekerja,” sebutnya.
Dipasarkan Lewat Media Sosial
Dia menjelaskan bahwa selama pandemi juga ia lebih sering main di media sosial untuk menjual produk batik tulis garutan. Langkah tersebut pun rupanya cukup mendapat respon yang baik dari pengguna media sosial.
Dirinya tidak menampik bahwa media sosial menjadi sarana yang cukup baik untuk menjual batik garutan. “Saya biasanya main di Instagram saja, tidak di media sosial lainnya,” ungkapnya.
Berkat keaktifannya di media sosial, ia pun mengaku bersyukur karena bisa tetap menjual batik yang diproduksinya. Kebanyakan mereka yang membeli batik tulis garutan adalah warga luar Garut, baik untuk koleksi atau acara-acara tertentu.
Tidak jarang juga, diakui Ani, ia menerima pesanan batik tulis garut yang motifnya sama dengan yang digunakan oleh artis-artis. “Seperti kemarin itu ada yang pesan batik tulis yang motifnya sama dengan yang digunakan oleh artis yang menikah kemarin-kemarin. Tapi sayangnya yang dipakai artis itu bukan garutan asli,” ucapnya.
Untuk batik tulis Garutan, ia biasa menjual per kainnya Rp1,2 juta. Kebanyakan, mereka yang membeli batik tulis garutan dengan motif Kipas, Lereng Eneng, dengan Merak Ngibing.
“Kalau batik tulis kejual, biasanya uangnya akan saya gunakan untuk modal lagi. Saya memang tidak bisa memproduksi banyak batik tulis, kalau jumlah pekerja saya ada 15, ya sebulan itu paling hanya 15 lembar batik saja yang bisa kita buat, tapi dengan kualitasnya tentu saja,” jelasnya.
Ani berharap agar pandemi Covid-19 segera berakhir agar aktivitas usahanya bisa lebih normal lagi. Sejak ia menekuni dunia batik Garutan sejak tahun 2000an, dua tahun ini menjadi tahun yang terberat.
Meski baru mulai di tahun 2000an, Ani mengatakan usaha batiknya sudah dirintis oleh keluarganya di tahun 40an. Ia adalah generasi kelima, meneruskan usaha batik tulis yang sebelumnya dijalankan oleh ibunya.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya