Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Banyak ular berbisa, Indonesia cuma punya satu jenis antibisa

Banyak ular berbisa, Indonesia cuma punya satu jenis antibisa Ilustrasi ular. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/KAMONRAT

Merdeka.com - Indonesia yang memiliki sekian jenis ular berbisa dari Sabang sampai Merauke ternyata hanya memiliki satu jenis antibisa saja. Padahal setiap antibisa diproduksi dengan peruntukan jenis ular tertentu saja.

Selama ini gigitan jenis ular jenis apapun, selalu menggunakan antibisa bernama Sabu, singkatan dari Serum Anti Bisa Ular. Padahal Sabu hanya untuk tiga jenis ular saja.

"Sabu sesuai petunjuknya sebenarnya hanya digunakan untuk naja sputatrix (cobra), bungarus fasciatus (weling atau belang) dan agkistrodom rho-dostoma (ular tanah)," kata Tri Maharani, dokter spesialis emergency di Universitas Brawijaya, Minggu (30/8).

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, Indonesia kalah jauh dalam urusan antibisa ular. Thailand dan Malaysia memiliki antara 9 sampai 10 antibisa, sementara jumlah jenis ular berbisanya sangat dimungkinkan lebih banyak Indonesia.

Karena hanya memiliki satu jenis antibisa, maka yang dipakai satu-satunya hanya Sabu. Apapun jenis ularnya tetap saja yang digunakan antibisa warna kuning, produksi perusahaan farmasi BUMN.

"Itupun belum tentu Puskesmas atau rumah sakit umum daerah (RSUD) punya stok. Sehingga harus dirujuk ke rumah sakit di atasnya," katanya.

Tri yang juga dokter spesialis kedaruratan di Rumah Sakit Daerah di Bondowoso mengaku dalam 5 bulan terakhir menerima 51 Pasien korban gigitan ular. Beberapa kali, dirinya harus membeli secara mandiri ke teman kenalannya saat tidak memiliki stok.

Sementara, Rudi Rahadian dari Yayasan Sioux Ular Indonesia menyatakan kalau tidak semua rumah sakit di Indonesia memahami prosedur penanganan pasien digigit ular berbisa. Tidak jarang dirinya harus bersitegang dengan pelayanan medis, karena penanganan yang belum maksimal.

Rudi sendiri mencatat, data di Kabupaten Lebak, Propinsi Banten, menurut dalam 18 bulan terjadi 121 kasus gigitan ular berbisa. Kasus tersebut yang ditangani oleh puskesmas dan rumah sakit, dengan asumsi banyak juga yang tidak dibawa ke rumah sakit.

"Kita sudah bawa korban ke Puskesmas selanjutnya penanganannya bagaimana, belum dipahami," katanya.

Tri Maharani dan Rudy Rahadian dengan dasar keilmuan berbeda, tetapi memiliki kesamaan perhatian dalam penanganan korban gigitan ular berbisa. Keduanya menjadi pembicara dalam Symposium South East Asia and Envenomation (Seashe) sekaligus Kongres Herpetologi Indonesia ke-4.?

Selain Tri Maharani dan Rudy Rahadian juga tampil Ruth Sabrina bt Safferi dari Malaysia, Taksa Vasaruchapong dari Thailand serta Tan Choo Hock asal Malaysia. Mereka bertukar pikiran seputar penanganan korban dan penggunaan antibisa ular di negara masing-masing. (mdk/eko)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP