Bahaya Gunakan Ponsel Saat Pesawat Sedang Mengisi Bahan Bakar

Sabtu, 15 Agustus 2020 02:03 Reporter : Merdeka
Bahaya Gunakan Ponsel Saat Pesawat Sedang Mengisi Bahan Bakar Ilustrasi Pesawat. Ilustrasi shutterstock.com

Merdeka.com - Putra politikus Amien Rais, Ahmad Mumtaz Rais, terlibat cekcok dengan Wakil Ketua KPK, Nawawi Pomolango, saat keduanya menjadi penumpang pesawat maskapai Garuda Indonesia. Keduanya terbang menuju Jakarta Rabu (13/8) kemarin.

Adu argumen bermula ketika Mumtaz bertelepon saat pesawat dalam kondisi refueling sewaktu transit di Makassar. Mumtaz kemudian ditegur petugas kabin sebanyak dua kali, namun tak mengindahkan. Saat ditegur ketiga kalinya, Mumtaz marah dan membentak petugas tersebut.

Nawawi yang duduk di sebelah lantas mengingatkan Mumtaz agar mematuhi peraturan dan tak memarahi petugas. Namun peringatan itu dibalas Mumtaz dengan berbalik memarahi Nawawi dan menantangnya.

Pengamat penerbangan, Alvin Lie, memberikan penjelasannya terkait insiden tersebut. Menurutnya, menggunakan telepon saat pesawat dalam keadaan berhenti sebenarnya boleh. Tetapi aktivitas bertelepon itu tidak berlaku jika pesawat berhenti untuk mengisi bahan bakar.

"Nah pada kasusnya Mas Rais itukan pesawat dalam kondisi berhenti, dalam kondisi berhenti biasanya boleh. Tapi, karena itu sedang mengisi bahan bakar, itu memang dilarang. Bahkan ketika pesawat sedang mengisi bahan bakar, itu penumpang yang ada di pesawat justru dilarang menggunakan sabuk pengaman, karena apabila terjadi kebakaran itu evakuasinya cepat," jelas Alvin Lie saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (14/8).

Alvin menambahkan, penggunaan ponsel saat pesawat mengisi bahan bakar juga berpotensi membahayakan penumpang dan awak pesawat. Sebab gelombang elektromagnetik pada ponsel dapat memicu terbakarnya uap bahan bakar itu sendiri.

"Ketika pesawat itu sedang mengisi bahan bakar, itu dilakukan langkah-langkah pengamanan apabila ada uap bahan bakar itu sampe masuk ke dalam ruang pesawat dan gelombang yang dipancarkan oleh handphone, gelombang elektromagnetik itu berpotensi memicu terbakarnya uap bahan bakar itu," jelasnya.

"Sama seperti ketika kita di SPBU itu kita juga dilarang menghidupkan handphone karena berpotensi dapat memantik uap bahan bakar sehingga terjadi kebakaran dan meledak. Itu secara teknisnya," sambung Alvin.

2 dari 3 halaman

Berikut kronologi peristiwa yang terjadi di dalam maskapai Garuda Indonesia dengan rute Gorontalo-Makassar-Jakarta pada Rabu (14/8) lalu versi KPK:

1. Wakil Ketua KPK, Nawawi Pomolango melakukan perjalanan dinas ke Gorontalo dalam rangka menjalankan tugas kegiatan koordinasi pemberantasan korupsi dengan APH dan APIP di wilayah Provinsi Gorontalo yang dilaksanakan pada tanggal 9 Agustus sampai 12 Agustus 2020.

2. Nawawi kembali ke Jakarta pada Rabu, 12/8/2020 dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Perjalanan pesawat transit di bandara di Makassar untuk pengisian bahan bakar.

3. Pada saat pengisian bahan bakar, petugas pramugari sudah mengingatkan beberapa kali secara langsung ataupun secara umum melalui pengeras suara agar kepada para penumpang tidak berjalan serta tidak menggunakan alat komunikasi dst.

4. Nawawi saat itu melihat penumpang yang bersangkutan tidak mengindahkan imbauan pramugari hingga sekitar 3 kali. Karena yang bersangkutan masih terus bicara melalui telepon, sementara Nawawi melihat dari jendela di samping tempat duduknya ada kendaraan pengisi bahan bakar di sekitar pesawat, maka dengan pertimbangan keselamatan seluruh penumpang, Nawawi mengingatkan pada yang bersangkutan untuk mematuhi aturan yang berlaku di penerbangan.

5. Namun demikian, yang bersangkutan tidak merespons dan tetap bicara melalui telepon. Nawawi kembali ke kursi, namun dikejutkan ketika penumpang yang diingatkan tadi justru kemudian mengatakan "Kamu siapa?". Hal ini dijawab Nawawi: "Saya penumpang pesawat ini dan oleh karenanya wajib mengingatkan sesama demi keselamatan bersama".

6. Akan tetapi penumpang tersebut tidak mengindahkan dan menyampaikan beberapa hal, hingga terucap salah satu kalimat yang kurang lebih mengatakan bahwa ia di sini bersama wakil ketua komisi III DPR dengan mengarah ke salah satu kursi kedua di belakang Nawawi.

7. Atas jawaban tersebut kemudian Nawawi merespons bahwa ini adalah kewajiban kita sesama penumpang untuk mengingatkan demi keselamatan bersama. Tidak ada hubungannya dengan posisi sebagai pejabat di mana pun, termasuk di DPR-RI. Hal ini berangkat dari pemahaman, bahwa Pak Nawawi memahami mitra kerja di Komisi III DPR-RI adalah orang-orang yang memahami hukum sehingga tidak mungkin akan bersifat arogan membela jika ada pelanggaran aturan di penerbangan tersebut. Apalagi mengingatkan penumpang lain yang menelepon saat pesawat mengisi bahan bakar adalah demi keselamatan bersama seluruh penumpang.

8. Setelah akhirnya diketahui bahwa Nawawi adalah Pimpinan KPK, ada upaya dari penumpang lain yang tadi disebut salah satunya dari unsur Pimpinan Komisi III DPR untuk meredakan persoalan. Namun tentu saja kita memahami persoalannya bukan pada aspek pribadi Nawawi, tetapi bagaimana kita memahami dan mematuhi aturan penerbangan yang berlaku dan bersedia diingatkan jika keliru.

9. Kemudian, Pak Nawawi mengatakan kalau begitu nanti setelah di bandara saya akan menginformasikan hal ini pada petugas yang berwenang di bandara. Setelah turun di Bandara Soekarno Hatta, lalu NP memberikan informasi adanya kejadian tersebut kepada Kapospol Terminal 3F.

10. Sampai sore ini, pihak PT Garuda juga telah menghubungi Pak Nawawi dan menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas apa yang dilakukan selaku penumpang Garuda Indonesia yang mendukung aturan keselamatan penerbangan terkait turut mengingatkan sesama penumpang demi keselamatan bersama.

11. Demikian juga pihak Polres Bandara juga sudah datang menemui Pak Nawawi di kantor KPK dan sudah disampaikan pada prinsipnya bahwa penyelesaian kejadian tersebut diserahkan sepenuhnya kepada petugas yang berwajib.

12. Atas kejadian ini tentu menjadi pembelajaran bahwa setiap penumpang pesawat agar mematuhi aspek etika dan aturan penerbangan untuk keselamatan bersama dan tentu apa yang dilakukan NP harus pula diikuti oleh setiap penumpang untuk saling mengingatkan sesama penumpang lain dalam penerbangan demi keselamatan bersama.

3 dari 3 halaman

Penjelasan PAN

Wakil Ketua Umum PAN Yandri Susanto menjelaskan kronologi insiden antara putra Amien Rais, Ahmad Mumtaz Rais dan Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango di penerbangan Garuda GA 643 Rute Gorontalo-Makassar-Jakarta pada Rabu (13/8). Kronologi tersebut didapat usai mendapat klarifikasi dari Mumtaz.

Yandri mengakui ketika itu, Mumtaz memang menghidupkan telepon genggamnya. Namun, itu dilakukan ketika pesawat sudah berhenti dan penumpang keluar bagi mereka yang melakukan transit ke Makassar. Mumtaz bersama dua kader PAN, Pangeran Khairul Saleh dan Irvan dari Gorontalo menuju Jakata.

"Memang kejadian seperti itu tapi Mumtaz ini menghidupkan handphone ketika pesawat sudah berhenti dan penumpang semua sudah keluar dan yang transit di Makassar tidak keluar," kata Yandri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).

Yandri mengatakan, saat itu belum ada pengumuman dari pihak pramugari. Penumpang yang naik dari Makassar juga belum masuk. Sehingga, apa yang dilakukan Mumtaz dianggap hal yang biasa.

Menurutnya, perdebatan terjadi karena ada kesalahpahaman dan ego masing-masing. "Saya kira itu sering terjadi di pesawat karena pemahaman penumpang berbeda, maunya kru kabin juga beda," ucap Ketua Komisi VIII ini.

Yandri mengatakan, berdasarkan informasi dari Mumtaz, insiden tersebut sudah diselesaikan dengan baik-baik. Dia kaget, jika Mumtaz bakal dilaporkan ke polisi.

"Dari klarifikasi mumtaz dan kawan-kawan sebenarnya sudah selesai di atas, sudah saling memaafkan dan saling bercanda dan saling memahami satu sama lain," jelasnya.

Reporter magang: Maria Brigitta Jennifer


[lia]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini