Azan Terakhir Bilal yang Membuat Semua Orang Menangis

Minggu, 26 April 2020 03:31 Reporter : Ramadhian Fadillah
Azan Terakhir Bilal yang Membuat Semua Orang Menangis ilustrasi ramadan. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Tak ada hari paling menyedihkan bagi Bilal bin Rabah selain hari itu. Bukan saat dia dicambuki oleh majikannya Ummayah bin Khalaf, hingga punggungnya hancur. Bukan pula ketika dia dibakar terik gurun dan ditimpa batu besar. Atau saat lehernya diikat dan diarak keliling Makkah bagai hewan.

Hari itu, 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah, atau 8 Juni tahun 632 Masehi. Rasulullah SAW wafat. Bilal merasa kehilangan semuanya. Sosok seorang Nabi, pemimpin umat, pembebas, dan sahabat terbaiknya.

Semasa Rasulullah SAW hidup, setiap hari Bilal mengumandangkan azan. Suaranya merdu. Mengalun di atas langit Madinah. Seakan mengetuk setiap pintu rumah. Mengajak orang untuk sujud bersama menghadap Rabbnya.

Cuma tiga hari Bilal sanggup mengumandangkan Azan setelah Rasulullah SAW wafat. Bilal selalu berhenti pada kalimat "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah". Betapa sedihnya Bilal saat mengucapkan kalimat itu. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dia selalu menangis tersedu-sedu sebelum bisa menyelesaikan azan.

Bilal kemudian menghadap Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq. Dia meminta izin untuk tidak lagi mengumandangkan azan. Bilal tak sanggup menjadi muazin selain untuk salat yang diimami Rasulullah SAW.

Sejak saat itu, tak pernah lagi terdengar kumandang azan yang merdu dari Bilal bin Rabah.

2 dari 4 halaman

Pindah ke Syam

syam rev9

Beberapa waktu kemudian, Bilal meminta izin Khalifah kedua Umar bin Khattab, untuk ikut dalam rombongan pasukan Muslim. Dengan berat hati Umar pun mengizinkan Bilal berangkat.

Dalam Buku Para Sahabat Nabi yang ditulis Dr Abdul Hamid as-Suhaibani yang diterbitkan Penerbit Darul Haq Jakarta, disebutkan suatu ketika, Khalifah Umar mengunjungi Syam. Di sana dia bertemu Bilal kembali.

Para sahabat meminta Umar membujuk Bilal agar mau mengumandangkan azan walau hanya untuk satu kali salat di Syam. Maka Bilal kemudian memenuhi permintaan Sang Khalifah. Dia naik ke atas menara dan mengalunlah azan dari muazin kesayangan Rasulullah itu di Syam.

Umar bin Khattab menangis tersedu-sedu. Begitu juga para sahabat dan orang-orang Muslim di sana tak kuasa menahan tangisnya mendengar suara Bilal yang begitu dirindukan. Mengingatkan mereka kembali ke zaman Rasulullah SAW yang sangat mereka cintai.

3 dari 4 halaman

Azan Terakhir Bilal

bilal rev9

Suatu hari Bilal yang telah tinggal di Syam bermimpi bertemu Rasulullah. Kerinduannya memuncak. Dia segera pulang ke Madinah.

Bilal menangis di Makam Rasulullah. Dia kemudian mengunjungi cucu Nabi, Hasan dan Husein. Dipeluknya dua pemuda kesayangan Nabi itu dengan penuh haru. Keduanya meminta Bilal mengumandangkan azan.

"Kami ingin mendengarkan azan-mu, hai muazin Nabi, sebagaimana pada masa Rasulullah." 

Dalam artikel berjudul Azan Kerinduan Bilal yang dikutip dari nu.or.id. Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wan Nihayah, menuliskan Bilal mengabulkan permintaan Hasan dan Husein. Dia naik ke menara dan berkumandanglah suara azan yang sangat indah.

Suara khas Bilal yang dulu mampu menggetarkan Madinah. Penduduk kota tersentak kaget. Hampir semua keluar dari rumah dan berlari menuju ke masjid.

Puncaknya ketika sampai pada kalimat "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah". Bilal tak sanggup melanjutkannya.  Dia kembali menangis. Betapa rindunya dia dengan Rasulullah SAW.

Orang-orang yang tiba di masjid juga menangis. Mereka merasakan kesedihan yang begitu dalam. Hari itu Bilal kembali membuka kenangan mereka akan Rasulullah.

4 dari 4 halaman

Meninggal Karena Wabah

wabah rev9

Tahun 20 Hijriah, wabah penyakit menjangkiti penduduk Syam. Bilal bin Rabah salah satu yang terkena penyakit tersebut. Wajahnya pucat dan matanya terlihat sangat cekung.

Saat kematiannya sudah dekat, Bilal berbisik pada istrinya. "Besok kita akan bertemu dengan orang-orang yang kita cintai, Muhammad dan golongan orang-orang yang bersamanya," 

Bilal menyambut kematiannya dengan kepasrahan dan kebahagiaan akan bertemu dengan Rasulullah. Budak yang dulu dimerdekakan oleh Islam. Muazin pertama dalam Islam. Sahabat yang mulia.

Dialah pria yang disebut Rasulullah, telah terdengar suara langkah sandalnya di surga. [ian]

Baca juga:
Kisah Jujurnya Pemimpin Negeri Muslim Takut Makan Suap Walau Sebutir Apel
Kisah Kejujuran Gadis Penjual Susu Hingga Dinikahkan dengan Putera Khalifah
Kisah Mirip Sahabat Nabi Salman Al Farisi Pernah Terjadi di Yogyakarta
Alasan Khalifah Umar Larang Pejabat Berbisnis, Masih Relevan Setelah 1.300 Tahun
Mengunjungi Makam Sunan Bonang, Ulama Pencipta Tembang Tombo Ati

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini