Ratusan warga Afghanistan yang terdampak gempa bumi dahsyat di wilayah timur kini menghadapi tantangan baru seiring mendekatnya musim dingin. Mereka, para pengungsi gempa Afghanistan, telah dipindahkan ke desa-desa tenda yang didirikan di Provinsi Kunar, sebuah langkah darurat untuk menyediakan tempat berlindung sementara.
Gempa bumi yang mengguncang Afghanistan pada Minggu lalu ini menyebabkan kerusakan parah, menewaskan lebih dari 2.200 orang dan melukai sekitar 4.000 lainnya. Provinsi Kunar menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak dengan kehancuran infrastruktur yang meluas.
Pemindahan ini dilakukan karena kehidupan di daerah terdampak, seperti Mazar Darah, menjadi mustahil akibat gempa susulan yang terus-menerus. Tim penyelamat bahkan kesulitan mencapai area tersebut untuk menyalurkan bantuan esensial, mendorong keputusan relokasi massal.
Advertisement
Advertisement
Kondisi Pengungsi di Desa Tenda dan Tantangan Bantuan
Najeebullah Hanif, seorang pejabat lokal dari pemerintahan sementara Afghanistan, mengonfirmasi pemindahan ratusan Pengungsi Gempa Afghanistan ke desa-desa tenda di wilayah aman Kunar. Kondisi para pengungsi gempa Afghanistan di desa tenda ini membutuhkan perhatian serius, meskipun upaya ini telah dilakukan, Hanif menekankan bahwa bantuan lebih lanjut sangat dibutuhkan, terutama mengingat musim dingin yang akan datang.
Daerah Mazar Darah, yang menjadi lokasi terparah, tidak memungkinkan tim untuk menyalurkan bantuan dan kebutuhan pokok secara langsung. "Mazar Darah adalah daerah yang paling parah terdampak, kehidupan di sana menjadi mustahil karena gempa susulan yang terus terjadi dan menyulitkan tim kami," ujar Hanif pada Sabtu (6/9).
Pemerintah sementara, dengan dukungan badan-badan PBB, telah berupaya menyediakan tenda, makanan, air minum yang aman, dan layanan kesehatan darurat. Bantuan makanan dan kebutuhan pokok juga dijatuhkan melalui udara ke daerah terpencil yang akses jalannya terblokir.
Advertisement
Namun, tantangan masih besar. Abdul Wahid, seorang warga lokal di Kunar, mengungkapkan pada Jumat (5/9) bahwa para korban sangat membutuhkan barang-barang penting seperti pemanas gas dan peralatan dapur. Kebutuhan ini krusial untuk bertahan hidup di tenda selama musim dingin.
Advertisement
Ancaman Musim Dingin dan Seruan Internasional
Musim dingin yang hanya tinggal beberapa minggu lagi menjadi ancaman serius bagi para Pengungsi Gempa Afghanistan. Hanif menegaskan bahwa masyarakat sangat membutuhkan tempat tinggal yang layak untuk melindungi mereka dari suhu ekstrem. "Masyarakat membutuhkan tempat tinggal untuk melindungi mereka dari dingin karena musim dingin hanya tinggal beberapa minggu lagi," katanya.
UNHCR juga menyoroti kondisi memprihatinkan ini, menyatakan bahwa gempa bumi telah menghancurkan seluruh komunitas, membuat para penyintas tidur di tempat terbuka. Badan tersebut memperingatkan bahwa nyawa akan berada dalam risiko serius tanpa dukungan mendesak.
Lebih dari 8.000 rumah hancur akibat gempa bumi tersebut, sebuah angka yang mengkhawatirkan. Sebagian besar korban selamat adalah orang miskin yang tidak akan mampu membangun kembali rumah mereka tanpa dukungan dan bantuan dari luar.
Advertisement
Oleh karena itu, Hanif secara khusus meminta komunitas internasional untuk segera membantu masyarakat Afghanistan. UNHCR juga menyerukan, "Bantu kami menyediakan bantuan darurat dan tempat tinggal sekarang juga," pada Jumat lalu, menekankan urgensi situasi kemanusiaan ini.
Sumber: AntaraNews