Alasan 2 siswa di Solo ciptakan 'The Survivor', robot pencari korban bencana alam

Salma menambahkan, saat bekerja sampai di titik penemuan korban, robot itu akan mengitarinya. Sensor dalam robot tersebut kemudian akan berbunyi. Robot akan menandai titik tersebut agar bisa dilihat oleh tim SAR agar korban bisa diselamatkan.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Alasan 2 siswa di Solo ciptakan 'The Survivor', robot pencari korban bencana alam
Robot karya dua orang siswa Madrasah Aliyah di Solo. ©2018 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Dua orang siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Solo menciptakan sebuah robot yang mampu mencari keberadaan korban bencana alam yang masih hidup. Kedua siswa itu adalah Amadeo Ahnaf dan Salma Sonia Jneina Sagiri.

Siswa kelas 11 IPA itu menamai robot buatan mereka dengan The Survivor. Mereka berharap peralatan tersebut bisa membantu meringankan tugas tim SAR saat terjadi bencana alam.

Kedua siswa dibimbing oleh pendamping ekstrakulikuler robotik sekolah setempat, Prihantoro Eko Sulistyo.

Salma bercerita, pembuatan robot tersebut dilatarbelakangi oleh sering terjadinya bencana gempa bumi di Indonesia. Bersama temannya, dia kemudian terpanggil untuk berpikir bagaimana cara membantu tim evakuasi mencari korban gempa. Terutama korban selamat namun tak dapat ditemukan karena tertimpa reruntuhan.

"Dari hasil riset kami, korban bencana alam meninggal paling banyak disebabkan pascabencana. Sebenarnya ada korban yang masih hidup, tapi tak kunjung diselamatkan," ujar Salma, Rabu (7/11)

Berangkat dari kondisi tersebut, Salma dan Amadeo terinspirasi membuat sebuah robot yang mempu melewati medan berat untuk menemukan lokasi korban bencana. Mereka kemudian melakukan riset lanjutan untuk merealisasikan pembuatan robot itu.

Salma menjelaskan, tim eskul membutuhkan waktu selama dua bulan untuk merakit The Survivor. Dia mengaku mulai mengerjakan robot sejak pertengahan tahun ini.

"Jadi robot ini kita bekali dengan sensor termal yang bisa mendeteksi suhu tubuh manusia. Sensor ini bisa mendeteksi suhu tubuh manusia hidup, 31 hingga 40 derajat celcius," terangnya.

Salma menambahkan, saat bekerja sampai di titik penemuan korban, robot itu akan mengitarinya. Sensor dalam robot tersebut kemudian akan berbunyi. Robot akan menandai titik tersebut agar bisa dilihat oleh tim SAR agar korban bisa diselamatkan.

"Kita pakai lampu, light stick, apapun yang bercahaya. Itu kemudian akan dijatuhkan robot tersebut sebagai penanda bahwa di titik itu ada korban yang masih selamat dan harus segera ditolong," terangnya lagi.

Masih kata Salma, robot itu dibekali juga dengan baterai 12 volt yang tahan selama 1 jam. Sensor yang dipasang di robot juga mampu mendeteksi suhu manusia dalam radius 7 meter.

Setelah itu pada Oktober lalu, pendamping ekskul, Prihantoro, membuat proposal untuk diikutsertakan di Kompetisi Robotik Tingkat Nasional '4th Madrasah Robotic Competition 2018'.

Tak diduga, proposal lolos hingga 20 besar. Robot tersebut diikutsertakan di ajang tahunan itu di Depok Jawa Barat, 3-4 November.

"Kami juara 3 kompetisi tersebut di kategori rancang bangun dengan kategori khusus mitigasi bencana. Karya kami meraih the best original idea," katanya.

Salma dan Amadeo mengaku bersyukur dengan hasil tersebut. Amadeo mengaku setelah ini akan menyempurnakan The Survivor.

"Kami akan coba menambah daya baterai, menambah sensor agar bisa mencari suhu di radius 100 meter dan kita akan coba buat robot ini bisa memanjat dan juga bisa berjalan di dalam air," imbuh Amadeo.

Sebagai pembimbing, Prihantoro mengaku bangga dengan kesuksesan tim robotik meraih prestasi tersebut. Senada dengan Amadeo, Prihantoro akan mendorong mereka untuk membuat robot tersebut lebih bagus lagi. Setelah itu, pihaknya akan coba mematenkan robot tersebut.

"Pertama kita kembangkan dulu model-model yg lebih mutakhir. Kami berharap robot ini di masa depan bisa menjadi pendamping tim evakuasi saat ada bencana alam di seluruh Indonesia," tandasnya.

Rekomendasi