500 Jukung Meriahkan Festival Pasar Terapung Lok Baintan 2025, Dorong Ekonomi Lokal
Ribuan pengunjung memadati Sungai Martapura saat 500 jukung berpartisipasi dalam Festival Pasar Terapung Lok Baintan 2025, ajang pelestarian budaya dan penggerak ekonomi kreatif.
Ribuan pengunjung dan ratusan perahu tradisional atau jukung memadati Sungai Martapura pada Festival Pasar Terapung Lok Baintan 2025. Acara tahunan ini diselenggarakan di Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Festival ini secara resmi dibuka oleh Pj Sekda H Ikhwansyah pada hari Minggu, menandai dimulainya perayaan budaya yang meriah.
Sebanyak 500 jukung berpartisipasi aktif dalam memeriahkan festival ikonik ini. Kegiatan ini merupakan inisiatif dari Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Banjar. Pembukaan festival ditandai dengan pemutaran tanggul dan pelepasan kembang api asap yang spektakuler.
Tujuan utama festival ini adalah untuk melestarikan tradisi budaya masyarakat Banjar yang telah diwariskan secara turun-temurun. Selain itu, festival ini juga bertujuan untuk mempromosikan pariwisata daerah serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif lokal. Kehadiran berbagai pihak penting menunjukkan dukungan terhadap keberlanjutan acara ini.
Pelestarian Budaya dan Pengakuan Internasional
Pj Sekda H Ikhwansyah menegaskan bahwa Festival Pasar Terapung Lok Baintan bukan sekadar ajang hiburan. Ini adalah bentuk nyata pelestarian budaya dan tradisi masyarakat Banjar yang kaya. Pasar terapung ini merepresentasikan kehidupan masyarakat sungai yang unik dan nilai kebersamaan.
Pasar Terapung Lok Baintan telah diakui sebagai ikon pariwisata unggulan daerah. "Kita patut berbangga karena Pasar Terapung Lok Baintan telah menjadi bagian dari kawasan Geopark Meratus," ujar Ikhwansyah. Ini menunjukkan pengakuan global terhadap kekayaan alam dan budaya Kalimantan Selatan.
Pengakuan penting lainnya adalah penetapan pasar terapung ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 2015. Ikhwansyah menambahkan, "Pengakuan tersebut menegaskan bahwa tradisi jual beli di atas perahu bukan hanya milik masyarakat Banjar, tetapi juga warisan bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan." Ini menekankan pentingnya menjaga tradisi.
Dorong Ekonomi Lokal dan Antusiasme Masyarakat
Festival ini diharapkan dapat meningkatkan promosi pariwisata Kabupaten Banjar di kancah nasional maupun internasional. Pj Sekda berharap, "festival dapat meningkatkan promosi pariwisata Kabupaten Banjar di tingkat nasional dan internasional serta memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat." Ini termasuk pelaku UMKM, perajin, dan pelaku wisata.
Kepala Disbudporapar Banjar, H Irwan Jaya, menyoroti antusiasme masyarakat yang tinggi setiap tahunnya. "Antusiasme masyarakat setiap tahun menunjukkan bahwa pasar terapung memiliki nilai historis dan daya tarik wisata yang kuat," katanya. Pasar terapung dianggap sebagai ekosistem ekonomi budaya yang harus terus dilestarikan.
Berbagai kegiatan menarik diselenggarakan untuk memeriahkan festival. Ini mencakup lomba formasi jukung banjar, balap jukung baanam, kuliner terapung, dan jukung hias tradisional. Ada juga balap jukung acil Lok Baintan, pentas seni budaya panggung terapung, serta lomba fotografi dan videografi.
Irwan Jaya juga mencatat peningkatan jumlah pengunjung selama dua hari pelaksanaan festival. "Selama dua hari pelaksanaan, jumlah pengunjung meningkat menjadi tiga hingga lima ribu orang berdasarkan sirkulasi perahu yang datang," jelasnya. Pedagang yang sebagian besar ibu-ibu mengenakan busana sasirangan, menjual hasil kebun, sayur-mayur, buah-buahan, kue tradisional, hingga kerajinan.
Menjaga Identitas Budaya Sungai
Pelestarian pasar terapung diharapkan terus berlanjut melalui penyelenggaraan festival secara rutin. Irwan Jaya menekankan pentingnya menjaga sistem transaksi manual atau barter sebagai ciri khas budaya sungai. Ini adalah bagian integral dari identitas unik Pasar Terapung Lok Baintan.
Festival ini tidak hanya menjadi ajang jual beli, tetapi juga ruang interaksi sosial dan budaya. Para pedagang, khususnya ibu-ibu, dengan bangga menawarkan produk lokal mereka. Mereka mengenakan busana sasirangan yang khas, menambah semarak suasana festival.
Di penghujung acara, panitia membagikan doorprize kepada para pedagang. Sesi tanya jawab yang dipandu Pj Sekda dan pejabat lainnya turut menambah kemeriahan. Hal ini menjadi bentuk apresiasi kepada para pelaku pasar yang telah menjaga tradisi ini.
Sumber: AntaraNews