3 Mahasiswa UNNES bikin dompet mendeteksi uang palsu bagi disabilitas

Kamis, 13 September 2018 10:45 Reporter : Danny Adriadhi Utama
3 Mahasiswa UNNES bikin dompet mendeteksi uang palsu bagi disabilitas Tiga mahasiwa pencipta dompet pendeteksi uang palsu. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Tiga mahasiswa menciptakan inovasi dompet pendeteksi uang (IDOPU) bagi penyandang disabilitas tunanetra. Berkat karya kreativitasnya, tiga mahasiswa itu meraih medali perak kategori Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 31 Kemenristedikti 2018 yang diselenggarakan di Universitas Negeri Yogyakarta.

Tiga penciptanya yakni Rizki Ajie Aprilianto mahasiswa Teknik Elektro Unnes angkatan 2014, Oky Putra Pamungkas, dan Nur Anita. Mereka mahasiswa fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang (UNNES).

"Pembuatannya membutuhkan waktu 2,5 bulan dan riset 4 bulan. Ide itu muncul minimnya alat pendeteksi bantuan keaslian uang untuk transaksi bagi kaum tuna netra," kata Rizki Aji Aprilianto saat memperagakan penggunaan dompet di Fakultas Teknik, Kamis (13/9).

Untuk bahan dasar terdiri dari dompet biasa. Untuk inovasi ditambahkan alat berupa mesin mini sinar UV yang awalnya sudah diprogram, sensor warna, mikro kontroler, mp3 player, hingga baterai. Alat tersebut sebelum disematkan dalam dompet sudah diprogram dulu untuk mendeteksi jenis uang palsu.

"Ini khusus untuk uang kertas saja. Caranya untuk mendeteksi, uang dimasukkan dalam dompet dan dipencet tiga kali. Dalam pencetan ketiga tersebut nantinya pendeteksi bisa membaca keaslian uang itu. Jadi terdengar suara kalau uang itu palsu akan bunyi 'awas uang palsu, tapi kalau asli akan sebut nominalnya," ujarnya.

Untuk tingkat akurasi sendiri bisa capai 93,45 persen. Untuk model saat ini akan dikembangkan agar bentuknya semakin ringkas untuk digunakan. Karya kreativitas tersebut sudah diminati oleh penyandang disabilitas untuk satu dompet sekitar Rp 500 ribu.

"Ini masih terus cari ide biar dompet benar-benar bisa digunakan dan mudah dibawa," ungkapnya.

Rizky memang sering ikut lomba selama kuliah untuk menambah pemasukan. Mahasiswa asal Tegal dari keluarga kurang mampu hanya tinggal ibunya yang masih hidup yakni Taridah kini sakit stroke.

"Ikut lomba sudah 51 kali, banyak yang menang. Pendapatan selama kuliah itu dari lomba-lomba," ujarnya.

Wakil Dekan III Fakultas Teknik Unnes Dr. Wirawan Sumbodo, M.T mengatakan dengan adanya karya dari mahasiswa tersebut akan mengembangkan hasil kreatif agar temuan ini bisa dimanfaatkan masyarakat terutama kaum tuna netra.

"Kita dorong untuk perkenalkan dan memasarkan prodak kreatifitas ke masyarakat. Ini sudah terbukti hasil riset, jadi tidak diragukan lagi khususnya bagi pengguna," kata Wirawan Sumbodo. [gil]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini