Sebuah jasa kecil, mungkin tak bisa selalu terkenang oleh sejarah. Namun tokoh yang satu ini punya jasa luar biasa di bidang agama. Tokoh ini merupakan pendiri salah satu organisasi Islam yang kini begitu berkembang terutama di tanah Jawa, yaitu Nahdhatul Ulama (NU). Ialah Hasyim Asyari, seorang pahlawan nasional yang gigih melawan penjajah. Hasyim Asyari lahir di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 dengan nama lengkap Mohammad Hasyim Asyari.Kiai karismatik yang dijuluki Hadratus Syaikh yang berarti Maha Guru ini dikenal sebagai ahli ilmu agama, khususnya tafsir, hadits dan fiqih. Dia mengabdi kepada umat dengan mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pada masa penjajahan belanda, Hasyim Asyari ikut mendukung upaya kemerdekaan dengan menggerakkan rakyat melalui fatwa jihad yang kemudian dikenal sebagai resolusi jihad melawan penjajah Belanda pada 22 Oktober 1945. Akibat fatwa itu, meledak lah perang di Surabaya pada 10 November 1945. Semangat dakwah antikolonialisme sudah melekat pada diri Hasyim sejak belajar di Makkah, ketika jatuhnya dinasti Ottoman di Turki. Sikap anti penjajahan juga sempat membawa Hasyim masuk penjara ketika masa penjajahan Jepang. Waktu itu, kedatangan Jepang disertai kebudayaan 'Saikerei' yaitu menghormati Kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan 90 derajat menghadap ke arah Tokyo setiap pagi. Ia menolak, hingga pada akhir April 1942, Hasyim Asyari yang sudah berumur 70 tahun dijebloskan ke dalam penjara di Jombang. Kemudian dipindah ke Mojokerto, lalu ke penjara Bubutan, Surabaya. Selama dalam tawanan Jepang, Kiai Hasyim disiksa hingga jari-jari kedua tangannya remuk tak lagi bisa digerakkan. Kakek almarhum Gus Dur ini meninggal di Jombang, 25 Juli 1947 pada umur 72 tahun.