Tak hanya dikenal sebagai orang yang paling jenius, pejuang pendidikan yang satu ini juga memiliki kemampuan istimewa yang tak disadarinya. Beliau mampu menyembuhkan penyakit keras hanya dengan menyentuh dahi sang pasien. Penasaran siapakah sosok tersebut?Beliau adalah kakak dari Raden Adjeng Kartini yang bernama Raden Mas Panji Sosrokartono. Putera dari R.M. Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara ini lahir di Mayong pada hari Rabu Pahing tanggal 10 April 1877 M.Pada tahun 1919 saat didirikan Liga Bangsa-Bangsa (League of Nations) atas prakarsa Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson, RMP Sosrokartono, mampu menjabat sebagai Kepala penerjemah untuk semua bahasa yang digunakan di Liga Bangsa-Bangsa serta berhasil menyisihkan poliglot-poliglot dari Eropa dan Amerika. Jabatan tersebut diembannya sampai dengan tahun 1921, saat Liga Bangsa-Bangsa kemudian berubah nama menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Organization).Tak hanya itu saja, pada tahun 1919 RMP Sosrokartono juga diangkat menjadi Atase Kebudayaan di Kedutaan Besar Perancis di Belanda. Saat itu beliau mendengar kabar buruk tentang anak berumur lebih kurang 12 tahun yang sakit keras. Anak dari kenalannya tersebut sudah diobati oleh beberapa dokter namun tak kunjung sembuh.Memiliki hati yang mulia, Sosrokartono akhirnya menjenguk anak yang sedang sakit keras itu. Di luar dugaan, terjadi sebuah keajaiban saat Sosrokartono meletakkan tangannya di atas dahi anak itu. Tiba-tiba anak kenalannya itu berangsur-angsur membaik dengan hitungan detik dan hari itu juga ia sembuh.Dokter-dokter yang telah gagal menyembuhkan penyakit anak itu dibuat terheran-heran dengan kejadian aneh tersebut. Hingga akhirnya ada seorang ahli Psychiatrie dan Hypnose yang menjelaskan bahwa sebenarnya Sosrokartono mempunyai daya pesoonalijke magneetisme yang sangat besar namun sama sekali tak disadarinya.Mendengar penjelasan dari ahli Psychiatrie dan Hypnose tersebut, akhirnya beliau merenung dan memutuskan untuk berhenti bekerja di Jenewa. Kakak Kartini itu pergi ke Paris untuk belajar ilmu Psychometrie dan Psychotecniek di sebuah universitas. Sayangnya sebagai lulusan Bahasa dan Sastra, beliau hanya diterima sebagai toehoorder. Alasan utamanya karena Perguruan Tinggi tersebut hanya menerima mahasiswa-mahasiswa lulusan medisch dokter saja untuk menimba ilmu di sana.Tentu saja hal ini membuat Sosrokartono merasa kecewa karena harapannya untuk belajar harus pupus di tengah jalan. Ketika sedang dirundung kecewa itulah, beliau akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke Tanah Air di tahun 1925 hingga akhirnya menetap di kota Bandung. Usai membaca kisah Sosrokartono di atas, tak heran jika beliau menyandang gelar sebagai orang paling jenius, kamu juga sependapat?