Inovasi Terbaru dari Tiongkok, Baterai EV Ini Diklaim Aman Tanpa Risiko Ledakan

Para ilmuwan di Tiongkok telah berhasil menciptakan baterai sodium-ion yang dikatakan dapat mengurangi risiko terjadinya thermal runaway.

Septian Pamungkas
Oleh Septian Pamungkas - Reporter
Inovasi Terbaru dari Tiongkok, Baterai EV Ini Diklaim Aman Tanpa Risiko Ledakan
Baterai sodium-ion generasi terbaru memiliki tingkat keamanan jauh lebih tinggi. (Carnewschina) (© 2026 Liputan6.com)

Industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) mendapatkan kabar baik dari tim peneliti Chinese Academy of Sciences yang telah berhasil menciptakan baterai sodium-ion generasi terbaru. Baterai ini memiliki tingkat keamanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan baterai konvensional.

Menurut laporan dari Carnewschina, penemuan ini dianggap sebagai game changer dalam dunia otomotif elektrifikasi, terutama dalam mengatasi kekhawatiran konsumen mengenai risiko kebakaran baterai. Salah satu kelebihan utama dari baterai ini adalah kemampuannya untuk menghilangkan risiko thermal runaway, yang merupakan reaksi berantai akibat panas berlebih dalam baterai yang dapat menyebabkan kebakaran atau bahkan ledakan.

Berbeda dengan baterai lithium-ion yang hanya dapat memperlambat reaksi berbahaya tersebut, teknologi baru ini diklaim mampu menghentikannya secara total. Pendekatan inovatif yang dilakukan melibatkan penggunaan elektrolit khusus yang tidak mudah terbakar.

Sistem ini bekerja secara adaptif; ketika suhu internal mencapai sekitar 150°C, elektrolit cair akan bertransformasi menjadi lapisan padat. Lapisan ini berfungsi sebagai "firewall" internal yang mencegah penyebaran panas lebih lanjut. Dalam pengujian nyata menggunakan sel baterai silinder berkapasitas 3,5 Ah, hasilnya menunjukkan performa yang impresif, di mana baterai tidak menunjukkan tanda-tanda berbahaya meskipun diuji dalam kondisi ekstrem.

Beberapa poin penting dari hasil pengujian tersebut mencakup tidak adanya asap, tidak terjadi kebakaran, serta tidak ada ledakan, dan baterai tetap stabil hingga suhu 300°C. Bahkan dalam skenario ekstrem seperti uji penetrasi paku, yang biasanya dapat memicu korsleting pada baterai, teknologi ini tetap menunjukkan stabilitas tinggi tanpa reaksi berbahaya.

Menariknya, peningkatan aspek keselamatan ini tidak mengorbankan performa. Baterai sodium-ion terbaru ini tetap menawarkan spesifikasi yang kompetitif untuk kebutuhan kendaraan listrik modern, termasuk densitas energi mencapai 211 Wh/kg, rentang suhu operasional dari -40°C hingga 60°C, dan stabil pada tegangan di atas 4,3V. Dengan spesifikasi tersebut, baterai ini dinilai mampu memenuhi tuntutan performa tinggi sekaligus menawarkan keamanan ekstra.

Produksi Lebih Terjangkau

Selain aspek keselamatan, baterai sodium-ion juga menawarkan keuntungan dari segi biaya produksi. Material sodium memiliki ketersediaan yang jauh lebih melimpah dibandingkan lithium, yang dapat memberikan peluang untuk menekan harga baterai di masa mendatang. Pengembang menargetkan bahwa harga baterai sodium-ion dapat setara dengan lithium-ion pada tahun 2027, dan mulai bersaing secara luas pada tahun 2028. Jika target ini berhasil dicapai, kemungkinan munculnya mobil listrik dengan harga yang lebih terjangkau akan semakin besar.

Pengembangan baterai sodium-ion ini semakin memperkuat tren bahwa teknologi alternatif selain lithium-ion telah semakin matang dan siap untuk dikomersialisasikan. Beberapa produsen bahkan telah mulai melakukan uji coba teknologi ini pada kendaraan komersial, dengan klaim bahwa efisiensinya lebih baik dan jarak tempuhnya lebih panjang. Jika diproduksi secara massal, dampak yang dihasilkan bisa sangat signifikan, seperti mengurangi risiko kebakaran pada kendaraan listrik, menurunkan harga mobil listrik, dan mengurangi ketergantungan terhadap lithium. Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, baterai sodium-ion berpotensi menjadi fondasi baru dalam pengembangan kendaraan listrik di masa depan, yang lebih aman, lebih terjangkau, dan lebih ramah lingkungan.

Rekomendasi