Di sudut timur Flores, sebuah kota kecil bernama Larantuka menyimpan cerita yang jarang terdengar tentang tiga pria muda yang setiap hari menyusuri jalan-jalan sempit dan berbukit, bukan sekadar mengantarkan barang, tetapi juga membawa pesan dan harapan dari satu tangan ke tangan lainnya.
Marianus Peten Opu Sogen (33), Paulus Sula Hewen (21), dan Ferdinandus Salu (23) adalah wajah-wajah yang akrab di antara masyarakat Larantuka. Mereka adalah kurir pengantar paket Lion Parcel, pekerjaan yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja. Namun di tempat dengan tantangan geografis seperti Larantuka—di mana akses tidak selalu mudah dan kondisi alam bisa berubah drastis dalam sekejap—pekerjaan itu menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar profesi.
“Kalau kita lambat, ada anak yang mungkin menunggu kiriman dari ibunya. Ada pedagang kecil yang menunggu barang dagangan. Saya merasa itu tanggung jawab saya,” kata Marianus, yang sudah menjalani pekerjaannya selama beberapa tahun terakhir.
Setiap hari, ketiganya menjalani rutinitas yang hampir sama: berangkat pagi untuk mengantarkan paket, menjemput kiriman baru dari pelanggan, lalu ke bandara untuk menerima barang masuk. Menjelang sore, pengantaran dilanjutkan ke pelosok-pelosok kota, dengan segala risiko medan dan cuaca.
Di tengah cuaca yang kerap tak menentu, atau ketika jalur distribusi terganggu karena erupsi Gunung Lewotobi, para kurir ini tetap berangkat, sejauh keselamatan mereka tidak terancam. Bahkan ketika harus kembali dua kali karena penerima tidak berada di tempat, mereka menghadapinya dengan sabar.
“Bagi saya, pengantaran bukan sekadar cepat sampai. Tapi juga tentang bisa dipercaya,” ujar Ferdinandus, yang akrab disapa Baim.
Advertisement
Hari Logistik Nasional
Sementara itu, Paulus atau Olan, justru menemukan semangatnya saat jumlah kiriman meningkat, terutama menjelang hari libur atau perayaan keagamaan.
“Biasanya banyak paket dari anak yang kuliah di luar kota buat orang tuanya, atau sebaliknya. Rasanya kayak saya ikut menyampaikan rasa rindu itu,” katanya.
Cerita mereka juga mengungkap potensi besar di wilayah seperti Larantuka. Masyarakat yang aktif berkirim barang, baik untuk keperluan pribadi maupun usaha kecil, mencerminkan kebutuhan logistik yang semakin tumbuh di daerah-daerah yang selama ini kerap dianggap pinggiran.
Di balik operasional yang berjalan rapi, ada Vonny Lamoren, mitra pengelola layanan di kota ini. Ia melihat ketiga kurirnya bukan sekadar tenaga kerja, tapi penggerak penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
“Kami mungkin tidak punya infrastruktur selengkap kota besar. Tapi semangat dan konsistensi mereka justru jadi fondasi kami,” ujar Vonny.
Meski peran mereka kerap luput dari sorotan, kurir seperti Marianus, Olan, dan Baim menyimpan satu hal yang tak bisa diukur dengan angka: komitmen untuk tetap hadir, bahkan ketika kondisi tidak ideal.
Di Hari Logistik Nasional ini, kisah dari Larantuka menjadi pengingat bahwa rantai pasok Indonesia bukan hanya soal bandara, gudang, dan armada. Ia juga tentang manusia—yang setiap hari melintasi batas-batas keterbatasan untuk memastikan satu hal sederhana: bahwa kiriman sampai.
Dan di balik kiriman itu, ada rindu, ada kebutuhan, ada kepercayaan. Hal-hal yang tak selalu terlihat, tapi selalu ditunggu.