Pagebluk Covid-19 memukul industri otomotif di Indonesia. Penjualan mobil dan sepeda motor anjlok.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan ritel mobil turun 45 persen menjadi 509.667 unit per November tahun ini dibandingkan periode sama tahun lalu.
Sementara Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) juga memperkirakan pasar kendaraan roda dua drop sekitar 45 persen menjadi 3,8 juta unit.
Selain penjualan terpuruk, industri otomotif RI juga terpukul akibat volume produksi ikutan merosot. Penyebabnya, banyak pabrik menghentikan produksi beberapa kali lantaran kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) demi mencegah penularan Covid-9 di kalangan pekarja pabrik.
Alhasil jumlah produksi mobil ‘made’ in Indonesia merosot. Data Gaikindo menyebutkan, volume produksi mobil ‘made in’ Indonesia drop 47,8 persen menjadi 621.873 unit periode Januari-November tahun ini.
Penurunan volume produksi ini berdampak pada kinerja ekspor otomotif RI terutama model utuh atau completely built up (CBU). Volume ekspor mobil CBU ‘made in’ Indonesia turun 33 persen menjadi 206.685 unit per November lalu.
Kalangan industri memperkirakan pasar otomotif tahun ini paling tinggi mencapai 560 ribu unit, turun sekitar 45 persen dibandingkan tahun lalu.
Ini juga akibat nihilnya pameran otomotif besar sepanjang tahun ini, seperti IIMS dan GIIAS, akibat tak mendapat izin pemerintah karena menciptakan kerumunan. Hal yang paling dihindari demi melawan pagebluk ini.
Advertisement
Toyota Tetap No 1 di Tahun Pandemi
Toyota masih merajai pasar dengan menduduki peringkat pertama dengan penjualan 159.450 unit dan pangsa pasar 31,3 persen. Daihatsu berada di peringkat kedua dengan penjualan 90.823 unit (17,8 persen).
Peringkat tiga hingga lima masing-masing diisi oleh Honda (13,6 persen), Suzuki (12,5 persen), dan Mitsubishi Motors (9,4 persen).
Toyota mencatat penjualan tertinggi di tahun pandemi ini berkat strategi produknya. Ya, Toyota paling agresif memasarkan mobil baru meski ekonomi RI dilanda resesi. Sejak Maret, Toyota sudah meluncurkan 13 model baru. Menurut catatan Merdeka.com, merek otomotif asal Jepang ini meluncurkan model perdananya adalah New Astra Toyota Agya. Kemudian disusul model baru lainnya, seperti New Toyota Yaris, Fortuner, Kijang Innova, Hilux, Corolla Cross Hybrid, dan mobil sport Toyota Supra GR.
New Lexus UX 300e yang diluncurkan pada 25 November lalu tampaknya menjadi model terakhir Toyota Indonesia pada tahun ini. Menariknya, ini mobil listrik baterai yang dibanderol Rp 1,245 miliar di Jakarta.
"Pasar otomotif tahun ini memang berat akibat pandemi, tapi Toyota selalu berkomitmen memberikan solusi dan alternatif ke pasar," ujar Anton Jimmi Suwandy, Direktur Pemasaran PT Toyota-Astra Motor (TAM), saat jumpa pers daring akhir November lalu.
Seperti Toyota, merek lain yang tetap meluncurkan mobil baru di tahun pandemi ini adalah Nissan, Kia, Hyundai, BMW, dan Mercedes-Benz. Bahkan Nissan cukup menggebrak pasar dengan meluncurkan mobil SUV kompak murah, harga Rp 200 jutaan, All New Nissan Magnite, dan mobil elektrifikasi Nissan Kicks e-Power.
Kia di bawah Indomobil Group juga tak mau kalah, dengan memasarkan SUV kompak dengan harga bersaing seperti All New Kia Seltos dan Kia Sonet. Merek otomotif asal China seperti Wuling dan DFSK, juga tak mau kalah. Tetap meluncurkan mobil baru seperti New Wuling Cortez Type S dan Almaz Limited Edition.
Advertisement
Mobil Listrik di Kuartal Akhir
Menariknya, laju mobil baru makin cepat di kuartal IV tahun ini. Ya, di kuartal terakhir, beberapa merek justru aktif meluncurkan mobil baru khususnya teknologi elektrifikasi, seperti battery electric vehicle (BEV).
Hyundai mengambil inisiatif pasar BEV dengan memasarkan dua model sekaligus, yakni Hyundai Kona Electric dan Ioniq Electric. Ioniq Electric tersedia dalam 2 tipe, sedangkan Kona Electric hanya satu ipe. Masing-masing dijual di kisaran Rp 600 jutaan, Mobil listrik murni termurah yang dipasarkan di Indonesia selama ini.
"Hyundai ingin menjadi game charger di industri otomotif Indonesia dengan memaasrkan mobil listrik murni. Era baru mobilitas bebas emisi yang diwujudkan melalui pengembangan teknologi inovatif secara terus-menerus, guna meningkatkan standar efisiensi bahan bakar," ujar Makmur, Managing Director PT Hyundai Motors Indonesia.
Makmur meyakini pilihan pabrikan asal Korea Selatan ini tepat. Apalagi ekosistem mobil listrik di Indonesia semakin baik berkat Perpres No 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.
Dengan regulasi itu, mobil listrik murni akan mendapat sejumlah insentif dan fasilitas dari pemerintah. Misalnya pajak kepemilikan kendaraannya lebih murah di pembelian awal, bebas uang muka (DP 0 persen), tarif pajak kendaraan tahunan lebih rendah, dan insentif nonfiskal seperti bebas dari pembatasan area lalu lintas ganjil genap.
“Untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap mobil listrik, Kementerian Perindustrian mengusulkan sejumlah insentif fiskal kepada Kementerian Keuangan. Seperti diskon Pajak Penghasilan (PPh) produsen mobil listrik hingga keringanan beamasuk bagi komponen impor. Sedangkan di sisi konsumen, diusulkan diskon pajak 0 persen untuk pembelian mobil listrik,” ujar Taufiek Bawazier, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian RI.
Demikianlah, tahun suram bagi industri otomotif RI pada tahun ini. Peluang tetap ada bila melihat antusiasme pabrikan memasarkan mobil hybrid dan listrik di ujung tahun ini. Tentu dengan memperhitungkan variabel pandemi, vaksin, dan resesi/tidaknya ekonomi nasional. Ketidakpastian di depan mata!