Ini strategi Presiden Direktur baru Nissan Indonesia

Sang Presideng Direktur juga akan bertanggung jawab terhadap tiga brand, yakni Nissan, Datsun, dan Infiniti.

Syakur Usman
Oleh Syakur Usman - Reporter
Ini strategi Presiden Direktur baru Nissan Indonesia
Presiden Direktur Nissan, Antonio Zara. ©2016 Merdeka.com

Dianggap berprestasi di pasar Filipina, Antonio Zara, Presiden Direktur Nissan Philippines Inc, dipindahkan menjadi orang nomor satu di Nissan Motor Indonesia per 1 April ini.

Berdasarkan data Nissan Group of Asia, Zara berhasil meningkatkan penjualan Nissan Filipina lebih dari 65% hanya dalam waktu satu tahun sejak menjadi presiden direktur di 2014.

Di Indonesia, pria yang juga biasa disapa Toti ini akan bertanggung jawab terhadap tiga brand, yakni Nissan, Datsun, dan Infiniti. Lalu bagaimana strategi Zara di Indonesia dan mampukah kunci suksesnya di Filipina diterapkan di Indonesia?

Dijumpai dalam perkenalan dengan media di Jakarta, Rabu (27/4) sore, pria yang memiliki pengalaman 25 tahun lebih di industri otomotif ini, mengaku dirinya terobsesi terhadap inovasi, sehingga ini menjadi gaya kepemimpinannya di mana pun dirinya memimpin perusahaan otomotif termasuk di Nissan Indonesia.

Kata dia, tidak ada perbedaan antara pasar otomotif di Filipina dan Indonesia. Keduanya pasar yang tidak mudah. Untuk itu, strateginya adalah tidak hanya mengandalkan pengembangan brand Nissan dengan meluncurkan model-model baru. Yang lebih penting adalah menyiapkan brand Nissan supaya memiliki awareness lebih baik, kemudian prepare dealer networks, aftersales Service, dan lain-lain.

Presiden Direktur Nissan, Antonio Zara ©2016 Merdeka.com

Saat ini dealer Nissan sebanyak 120 outlet. Per kuartal I 2016, penjualan Nissan tercatat 5.460 unit dengan pangsa pasar 2,09% terhadap pasar nasional. Sementara Datsun tercatat sekitar 9.000 dengan pangsa pasar 3,5%.

"Intinya pada tiga hal, yakni hardware, software, dan humanware. Saya fokus pada dua hal, yakni brand dan kualitas. Jika semuanya dipersiapkan dengan baik, profit will follow," ujar Zara menjawab pertanyaan Merdeka.com.

Strategi ini sudah dilakukan Zara saat berkarir di pabrikan otomotif lain di Thailand, Korea, hingga tanah airnya sendiri, Filipina.

"Nissan bukan lagi perusahaan Jepang yang bergaya tradisional. Nissan sudah memiliki apa yang dibutuhkan untuk menjadi merek global dengan mengaplikasikan karakter 50:50, gaya timur dan barat. Dengan keanekaragaman ini, Nissan masih bisa mempertahankan DNA Jepang yang membuat Nissan mampu beradaptasi di berbagai kultur tanpa kehilangan identitas," ucap dia sambil tersenyum ramah.

Rekomendasi