Dalam sebuah kesempatan, almarhum Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Widjajono Partowidagdo, pernah menyampaikan bahwa opsi bagi pengguna pertamax adalah menggunakan LGV. LGV sendiri merupakan liquified gas for vehicle atau yang juga disebut Vi-Gas, berupa bahan bakar gas untuk kendaraan bermotor spark ignition engine yang terdiri dari campuran propana (C3) dan butana (C4).
Vi-Gas punya keunggulan antara lain lebih ramah lingkungan, pembakaran bersih, beroktan lebih dari, atau sama dengan, 98 yang dengan kata lain cocok untuk mobil berbahan bakar pertamax dan pertamax plus atau sejenisnya. Suara mesin yang menggunakan Vi-Gas lebih halus dan bebas knocking atau kelitik mesin, serta bebas sulfur dan timbal.
Keunggulan lainnya adalah mobil berbahan bakar Vi-Gas butuh tabung dengan ukuran lebih kecil ketimbang mobil berbahan bakar CNG. Namun, seperti juga dilema premium versus pertamax, yang lebih bagus sedikit lebih mahal dengan kisaran harga Rp 5.100 per hitungan liter seperti perbandingan bahan bakar cair.
Bagaimana dengan CNG? Bahan bakar yang pada dasarnya merupakan gas alam terkompresi ini (atau compressed natural gas dan disingkat (CNG) punya harga lebih murah, sekitar Rp 3.600 jika dihitung per liter.
Namun, CNG biasanya digunakan untuk kendaraan niaga yang dalam perhitungannya biasa menggunakan bahan bakar premium. Jadi, siap-siap memilih, apakah Anda akan pakai CNG atau LGV, jika nanti seperti yang dirumorkan bahwa mobil baru produksi ATPM akan menggunakan perangkat konversi gas atau converter kit BBG. (kpl/why/bun)