Jelang regulasi DP, Viar makin optimis

Banyak pelaku industri otomotif roda dua merasa waswas terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menetapkan besaran down payment (DP) pembelian sepeda motor 25 persen.

Otosia.com
Oleh Otosia.com - Reporter
Jelang regulasi DP, Viar makin optimis
A.Z Dalie, GM Marketing PT Triangle Motorindo (dan) Produk Baru Viar (Foto: Nazar Ray)

Banyak pelaku industri otomotif roda dua merasa waswas terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menetapkan besaran down payment (DP) pembelian sepeda motor 25 persen. Selain dinilai memberatkan, kebijakan ini dapat mempengaruhi daya beli masyarakat.

"Meski diakui masyarakat terkejut, tapi ini tidak memberikan banyak pengaruh terhadap penjualan kami. Karena motor niaga Viar mayoritas atau 50 persen dibeli secara cash. Yang jelas berbeda dengan yang membeli secara kredit dengan uang muka 25 - 30 persen. Jadi kami tidak takut, dan tetap optimis," kata A.Z Dalie, GM Marketing PT Triangle Motorindo kemarin di Jakarta, Rabu (21/3). Motor niaga sendiri mengisi 43 persen penjualan Viar secara keseluruhan.

Dalie menyatakan, kebijakan ini hanya masalah penyesuaian uang muka dan tidak berdampak langsung bagi penjualan Viar karena regulasi DP pernah mencapai 25 persen namun dalam praktiknya di lapangan berbeda karena ada persaingan bisnis roda dua. "Dulu pernah terjadi DP sampai 25 persen, tapi karena ada kompetisi ketat terjadi perubahan-perubahan, lalu kemudian direvisi kembali," ujarnya

Ia melihat, justru yang paling terkena dampak adalah motor-motor reguler merek Jepang yang bermain di rentang harga Rp 12 - 13 jutaan. "Yang paling kena dampak adalah produk-produk reguler yang masuk di segmen generik. Yang sudah 'berdarah-darah' di pasar akan masuk ke trek ini," tandasnya.

Dalie melihat, kenaikan BBM dan regulasi DP untuk setiap pembelian mobil di sisi lain memberi hikmah bagi penjualan sepeda motor terutama Viar, karena produk-produk karya anak bangsa ini dari segi harga lebih ekonomis dibandingkan merek lain. "Kami punya keunggulan dari segi efektif cost dibandingkan yang lain," jelasnya.

Menurut Dali, akan terjadi efek migrasi dari calon pembeli mobil beralih ke sepeda motor, walau harga yang ditawarkan sepeda motor juga cukup mahal. "Ini secara efektif akan berubah. Efektif cost bertujuan untuk mengencangkan ikat pinggang dan beralih ke motor," kata Dalie.

Sementara di sisi lain, lanjutnya, migrasi juga terjadi antar pasar sepeda motor. Artinya, konsumen roda dua yang sebelumnya memberi motor mahal karena memikirkan gaya (style) akhirnya beralih ke produk reguler yang lebih murah. Yang diuntungkan adalah segmen yang memiliki harga jual relatif terjangkau dari pasar kebanyakan.

"Viar tidak mengubah style, tapi cost. Viar menampung potensi konsumen yang demikian dengan moge baru yang kami luncurkan sekarang. Moge kami tidak juga murah, tapi terjangkau," ucap Dali berpromosi. Viar sendiri baru saja memperkenalkan motor kelas premium seharga 20 jutaan berkapasitas 200cc dengan desain dan tampilan menarik.

Sementara itu, menghadapi kemungkinan penerapan aturan emisi Euro 3 bagi setiap produk roda dua yang dijual di Indonesia, Viar mengaku siap melakukan perubahan teknis pada model-modelnya untuk mencapai regulasi tersebut. "Euro 3 kami siap. R&D kami sudah siap menciptakan komponen-komponen pendukung Euro 3 dengan ciri khas lokal," paparnya.

Dalam kesempatan yang sama Dalie mengungkapkan, sejak beberapa tahun Viar berhasil mengekspor ke Timor Leste dan Afrika untuk model tertentu. "Kami akui secara kuantitas tidak banyak karena kami tidak rutin mengekspor karena permintaan di negara-negara tersebut tidak stabil. Tapi ini setidaknya membuktikan kualitas produk anak bangsa tidak kalah dengan merek lain," tukas Dalie. (kpl/nzr/bun)

Rekomendasi