MASKEEI: Silakan Produksi Mobil dengan Teknologi Apa Saja, asal Low Carbon
Merdeka.com - Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI) tidak anti terhadap mobil berteknologi internal combustion engine (ICE) yang menggunakan bahan bakar fosil. Sejatinya, MASKEEI berprinsip "win for all" terhadap rencana pemerintah untuk mengembangkan dan memanfaatkan mobil listrik atau electric vehicle (EV) di Indonesia, tanpa menegasikan peran pabrikan otomotif saat ini yang puluhan tahun hadir dan berinvestasi besar di Indonesia.
"Sambil menunggu peraturan presiden tentang mobil listrik, silakan pabrikan otomotif di Indonesia memproduksi mobil sekarang dengan teknologi apa saja. Yang terpenting low carbon. Mau teknologi mesin hybrid dulu silakan, nanti ada seleksi alam terhadap teknologi di sini," ungkap Soedjono Respati, Ketua MASKEEI, usai diskusi bertema Prospek dan Tantangan Kendaraan Listrik di Indonesia, di BSD City, Tangerang, Banten, Rabu (30/1).
Menurutnya, sebenarnya mobility masa depan adalah menggunakan energi listrik. Ini strategis bagi Indonesia, yang banyak mengonsumsi bahan bakar bensin, sehingga pemerintah harus impor bahan bakar minyak dalam jumlah besar dengan nilai yang sangat mahal. Apalagi mobil saat ini bukan lagi simbol status sosial, tapi merupakan kebutuhan alat transportasi.
Jadi, mobil listrik (EV) menjadi solusi terhadap masalah tersebut (impor bahan bakar minyak). Selain itu, komunitas ini juga peduli terhadap sisi permintaan (demand) energi di Indonesia yang besar, karena selama ini kita bicara hanya sisi pasokan (supply) seperti peningkatan pembangkit listrik oleh PT PLN. Kita cenderung melupakan sisi demand, padahal jumlahnya besar seperti demand energi dari sektor industri transportasi, manufaktur, rumah tangga, dan bangunan.
"Maka itu, kami fokus di sisi demand, supaya seimbang antara supply dan demand. Sebab kita harus cermat dan efisien mengelola ini (energi)," ujarnya.
Era mobil listrik di Indonesia, lanjut dia, akan memberikan kesempatan sama besar bagi pemain lokal untuk bersaing dengan pemain global. Hal yang tidak mungkin terjadi di mobil berbahan bakar minyak (ICE). Sebab pemain lokal punya kemampuan dalam teknologi listrik dan Indonesia juga mempunyai pssar otomotif yang besar.
"Jadi Indonesia tidak perlu mengekor di teknologi mobil listrik, karena kita bisa sejajar dengan pemain global," tegasnya.

masyarakat konservasi dan efisiensi energi indonesia (MASKEEI) ©2019 Merdeka.com
Menurut MASKEEI, pemanfaatan mobil listrik adalah keniscayaan di abad 21 ini, guna mengatasi dampak negatif perubahan iklim global yang disebabkan pemanfaatan energi fosil. Salah satu pemicu gas rumah kaca di atmosfer adalah konsumsi energi fosil oleh kendaraan bermotor, yang tumbuh eksponensial sejak ditemukannya mesin internal combustion engine (ICE) pada akhir abad 19.
Dalam forum United nation Conventuon on Climate Change (UNFCCC) disepakati bahwa pemanfaatan energi fosil di sistem transportasi global harus dikurangi secara drastis, bahkan harus dihentikan. Karena itu, negara-negara penghasil kendaraan bermotor untuk pasar global diminta mengganti kendaraan bermotor menggunakan mesin ICE menjdi kendaraan tenaga listrik (EV).
Berbagai negara sudah mulai membuat kebijakan untuk menggantikan kendaraan berbasis ICE dengan EV, dengan tenggang waktu bervariasi, antara 2030-2040, tergantung kesiapan masing-masing negara. Indonesia sebagai negara kepulauan punya peran penting dalam konteks global tersebut. (mdk/sya)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya