Ini Rencana Capres Anies Baswedan di Sektor Transportasi dan Kendaraan Elektrifikasi

Inilah visi-misi dan rencana program capres Anies Baswedan di sektor transportasi dalam pilpres 2024.

M Syakur Usman
Oleh M Syakur Usman - Reporter
Ini Rencana Capres Anies Baswedan di Sektor Transportasi dan Kendaraan Elektrifikasi
Ini Rencana Capres Anies Baswedan di Sektor Transportasi dan Kendaraan Elektrifikasi (Merdeka.com)

Di sektor transisi energi dan transportasi.

Pemilihan presiden dan wakil presiden dalam agenda pemilihan umum 2024 memasuki masa kampanye mulai Selasa, 28 November 2023. Pemilihan presiden Indonesia tahun depan diikuti pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (1), Prabowo Subianto-Gibran (2), dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD (3). 

Meski masa kampanye baru dimulai kemarin, sejatinya pasangan calon capres-cawapres sudah sering menyampaikan program, ide, dan gagasannya saat kunujungan ke daear-daerah untuk sosialisasi visi-misi mereka. Terutama di sektor transportasi dan energi bersih. 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Untuk itu, Merdeka.com mulai dengan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar. Inilah visi-misi pasangan dengan sebutan AMIN ini:

"Memastikan nol emisi karbon pada sektor
ketenagalistrikan secara bertahap disertai terwujudnya elektrifikasi pada berbagai sektor utamanya industri dan
transportasi."

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Visi-misi itu sering disosialisasikan calon presiden Anies Baswedan, yang rajin mengunjung berbagai undangan diskusi sebelum masa kampanye, seperti Walhi, Habibie Center, PP Muhammadiyah, dan sebagainya. 

Kami merangkum rencana program pasangan ini tersebut dari acara-acara tersebut:

Membangun armada bus listrik sebagai moda transportasi utama di kota-kota besar di Indonesia. 

Capres Anies meyakini armada bus listrik efektif menjadi solusi polusi udara dan kemacetan yang terjadi di daerah urban.

Dia mencontohkan saat menjadi gubernur DKI Jakarta. 

"Kami membangun transportasi terpadu di Jakarta. Dalam 3 tahun, jumlah pengguna transportasi umum melonjak menjadi 1 juta orang per hari dari 350.000 orang per hari," katanya di acara  Habibie Center.

"Dampaknya positif, peringkat Jakarta sebagai kota macet No 3 di dunia menurun jadi No 7. Lalu turun No 10, No 34, dan No 46 di tahun kelima sebagai gubernur DKI."

Paparan capres Anies Baswedan. 

Penurunan ini akibat integrasi transportasi publik dan upaya konversi ke bus listrik dan mobil (pennumpang) listrik. 
Dok. Istimewa

Kata Anies Baswedan di Habibie Center. 

Menurut Anies, dalam rencana jangka panjang TransJakarta, pada 2030 seluruh armada busnya adalah bus listrik.

"Kami melakukan reformasi transportasi publik di Jakarta, transportasi ramah lingkungan,  dengan pengadaan bus listrik. TransJakarta saat ini mengoperasikan 52 bus listrik, dengan pengurangan emisi karbon: 5,5 juta kg CO2," jelasnya.

Integrasi transportasi publik di Jakarta ini mendapat apresiasi dari C40 dengan penghargaan Sustainable Transport Award 2021.  C40 adalah perkumpulan 70 kota-kota besar di dunia. 


Salah satu program capres No 1 ini juga adalah pengembangan kawasan TOD. 

TOD bermakna kawasan yang memadukan fungsi transit untuk optimalkan akses transportasi publik dan mendukung daya angkut lebih efektif.

Negara yang sukses menerapkan konsep TOD: Jepang dan Hong Kong. Seperti Toyama Light Rail, Olympian City, dan lain-lain.

Jauh sebelum masa kampanye, capres Anies pernah menyampaikan pernyataan yang menimbulkan debat publik:

Emisi karbon mobil listrik berpotensi lebih besar dari transportasi umum seperti bus berbahan bakar minyak (BBM). Disampaikan saat acara Deklarasi dan Pengukuhan Amanat Indonesia, pada 7 Mei 2023.

"Kalau kita hitung, apalagi ini contoh, ketika sampai pada mobil listrik, emisi karbon mobil listrik per kapita per kilometer sesungguhnya lebih tinggi daripada emisi karbon bus BBM," kata Anies, kala itu. 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Hipotesa Anies itu dipatahkan Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa.  

"Hasil kajian IESR, emisi gas rumah kaca dari mobil listrik lebih rendah dari emisi mobil BBM saat ini. Ini mempertimbangkan embedded emission produksi baterai," kata Fabby, dikutip dari CNBC Indonesia.



Dia menjelaskan, emisinya lebih rendah sebab konsumsi energi mobil listrik per km lebih rendah dari mobil BBM. Jika bauran energi terbarukan meningkat di 2030, emisi mobil listrik akan lebih rendah lagi.

Analisis IESR: bila mobil listrik marak digunakan, maka rata-rata emisi karbon per km akan turun  25% menjadi 188 gram CO2 per km dari 252 gram CO2 per km ketika  memakai mobil BBM.

Bahkan, pada 2030 emisi diperkirakan  turun 33% menjadi 169 gram C02 per km. Ini dengan asumsi rata-rata per 200 ribu km operasional.

Rekomendasi