Gara-gara ini, Isuzu susah jualan Mu-X dan D-Max

Selasa, 24 Januari 2017 07:26 Reporter : Syakur Usman
Gara-gara ini, Isuzu susah jualan Mu-X dan D-Max Isuzu MU-X. © Otosia.com

Merdeka.com - Penerapan standar emisi Euro-2 di Indonesia membuat penjualan kendaraan mobil Isuzu Indonesia di segmen sport utility vehicle (SUV) dan pick-up melempem. Di dua segmen ini, pabrikan diwakili oleh model mu-X dan D-Max yang diimpor secara utuh (CBU) dari Thailand.

Berdasarkan data yang diperoleh Merdeka.com dari PT Isuzu Astra Motor Indonesia, penjualan Isuzu D-Max (double cabin) diproyeksikan hanya terjual 600 unit di 2017. Jumlah ini jauh lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 1.445 unit. Namun, pangsa pasarnya diperkirakan naik menjadi 6 persen dari 3,5 persen. Sementara model Isuzu mu-X ditargetkan 1.000 unit, naik dari tahun sebelumnya yang 321 unit. Meski pangsa pasarnya turun menjadi 1,6 persen dari 2,4 persen.

Edy J Oekasah, Director Product Planning Division Isuzu Indonesia, mengakui penjualan SUV Isuzu mu-X masih tersendat di Indonesia. Padahal secara spesifikasi sudah unggul karena memenuhi standar emisi Euro-4, sedangkan kompetitor masih menggunakan standar emisi Euro-2.

Prinsipnya, ada tiga faktor utama penyebabnya. Pertama, regulasi standar emisi yang masih menggunakan standar Euro-2. kedua, volume penjualan Isuzu di Indonesia yang masih rendah, dan ketiga keamanan. Ketiga faktor tersebut membuat Isuzu harus mencari pasar internasional selain Indonesia supaya lebih ekonomis.

"Jadi kami tidak bisa bersaing dengan kompetitor yang masih menggunakan standar Euro-2. Ini problem besarnya," ujar Edy J Oekasah, Director Product Planning Division Isuzu Indonesia, saat media gathering di Jakarta, Senin (23/1).

Edy mengaku untuk bisa memasarkan mu-X di Indonesia, pihaknya terpaksa harus melakukan down grade produknya dari standar Euro-4 ke Euro-2. Dan untuk itu, bahkan pihaknya harus menambah biaya, seperti penambahan komponen di nozzle karena kadar sulfur di bahan bakar solar Indonesia tinggi, akibat masih menggunakan standar Euro-2. "Mu-X di SUV memenuhi standar Euro-4 tapi terpaksa kami down grade jadi Euro-2."

Menurut Gaikindo, Indonesia tertinggal dibandingkan negara lain dengan masih menggunakan standar emisi Euro-2. Padahal negara jiran seperti Filipina dan Vietnam akan menerapkan Euro-4 pada tahun ini. Sedangkan Malaysia sudah yang menggunakan Euro-4, bahkan Singapura yang sudah mau menerapkan Euro-5.

Dengan menggunakan standar Euro-2, maka kadar sulfur di solar Indonesia masih tinggi, yakni di bawah 500 parts per million (ppm). Sedangkan Euro-3 kadar sulfur di bawah 150 ppm, Euro 4 dan Euro 5 kadar sulfur di bawah 50 ppm. Makin rendah kadar sulfurnya, makin ramah lingkungan. [ega]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini