Benarkah Baterai Jadi Penyebab Utama Kebakaran Mobil Listrik?
Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) mengungkapkan bahwa banyak insiden kebakaran pada mobil listrik disebabkan oleh faktor eksternal.
Isu kebakaran pada mobil listrik terus menimbulkan kekhawatiran di masyarakat, terutama dengan meningkatnya adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
Berbagai insiden kebakaran sering kali langsung dikaitkan dengan baterai mobil, meskipun penyebab pastinya tidak selalu berasal dari komponen tersebut.
Menanggapi hal ini, Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) menegaskan bahwa tidak semua insiden kebakaran kendaraan listrik disebabkan oleh baterai. Berdasarkan pengamatan mereka, sumber kebakaran sering kali dipicu oleh faktor eksternal.
Ketua Umum KOLEKSI, Arwani Hidayat, menjelaskan bahwa mayoritas produsen baterai mobil listrik saat ini telah mendapatkan sertifikasi internasional dengan standar keselamatan yang tinggi.
Ia menekankan bahwa penyebab kebakaran perlu dianalisis secara lebih komprehensif.
"Kalau baterai yang terbakar, gejalanya berbeda. Biasanya seperti petasan ke bawah dan tidak berhenti, tapi di beberapa kejadian yang kami lihat, kebakaran justru bermula dari instalasi listrik luar," ujarnya pada Sabtu (24/1) di TMII, Jakarta.
Ia juga menjelaskan bahwa pemasangan perangkat tambahan seperti audio dan lampu modifikasi, serta sistem kelistrikan yang tidak sesuai standar, sering menjadi pemicu kebakaran.
Selain itu, sumber api juga dapat berasal dari wall charger atau instalasi listrik di rumah yang tidak tersertifikasi.
Ia pun memberikan contoh insiden kebakaran mobil listrik di Bandung, di mana secara kasat mata kondisi baterai kendaraan terlihat aman, namun bagian lain dari mobil tersebut terbakar.
Temuan serupa juga terlihat dalam beberapa video kebakaran mobil listrik yang beredar di kalangan komunitas.
"Yang terbakar itu instalasi di atas, bukan baterainya. Bisa dari wall charger, bisa dari listrik, dan ada juga mobil listrik yang tidak dibekali wall charger, akhirnya pengguna membeli yang murah tanpa sertifikasi," jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran tenaga instalatir yang kompeten dalam pemasangan wall charger. Pemasangan oleh tenaga non-profesional, ditambah dengan penggunaan perangkat yang tidak memenuhi standar keselamatan, berpotensi menimbulkan risiko serius.
"Kalau barangnya tidak kompeten, yang masang juga tidak kompeten, risikonya besar. Di situ awalnya api muncul," kata Arwani.
Fenomena Thermal Runaway dan Ekosistem Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU)
Terkait fenomena thermal runaway, Arwani menjelaskan bahwa kondisi ini lebih dari sekadar kebakaran, melainkan merupakan pelepasan energi listrik dari baterai akibat suhu yang sangat tinggi.
Meskipun kejadian ini tergolong sangat jarang, thermal runaway menjadi sulit untuk dipadamkan setelah terjadi.
"Thermal runaway itu problem. Ada yang harus diceburkan ke air, ada juga metode pakai blanket khusus, tapi itu jarang terjadi," ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa beberapa produsen baterai kini sedang mengembangkan teknologi untuk mencegah penyebaran energi ke sel baterai lainnya jika terjadi kerusakan.
Dalam kesempatan tersebut, Arwani mengajak pengguna mobil listrik, termasuk insan media, untuk lebih teliti dan tidak terburu-buru dalam menyimpulkan penyebab kebakaran kendaraan listrik.
"Sering kali kita hanya heboh di beritanya saja. Padahal, mobil listrik itu pada dasarnya aman. Yang perlu diperhatikan adalah instalasi di rumah dan cara penggunaannya," tegasnya.
Dari segi penggunaan sehari-hari, Arwani merekomendasikan pola pengisian daya yang lebih bijak, yaitu menjaga kapasitas baterai di kisaran 10 hingga 80 persen untuk pemakaian harian.
Selain aspek keselamatan, Arwani juga membahas perkembangan ekosistem pengisian daya di Indonesia.
Ia menyatakan bahwa jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) saat ini sudah cukup memadai untuk kebutuhan harian, meskipun antrean masih mungkin terjadi saat musim liburan.
"Jadi kalau normal day tidak ada masalah, di manapun kalau ada peak season akan ngantri, tetapi kita harapannya semakin banyak populasinya (SPKLU)," jelas Arwani.
Sebagai komunitas, KOLEKSI terus mendorong edukasi publik terkait penggunaan mobil listrik yang aman dan bertanggung jawab, mulai dari pemahaman bahwa area pengisian bukanlah tempat parkir, hingga pentingnya segera mencabut charger setelah proses pengisian selesai.