Tinggal di Desa, Rezeki Kota dan Bisnis Mendunia

Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat Jumat, 29 Juli 2022 11:56
Tinggal di Desa, Rezeki Kota dan Bisnis Mendunia Anak-anak bermain di areal sawah Sukamakmur. ©2022 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Perempuan itu Raudiyatul Zannah Anggarini namanya. Sedang berusia 31 tahun. Tinggal di Desa Plawangan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu. Kini, dia lebih banyak tersenyum. Bahagia.

Padahal, setahun sebelumnya, duka lebih sering menggelayut di wajahnya. Bagaimana tidak, usaha ikan lele yang digelutinya, merugi. Angkanya pun tak main-main. Sampai Rp200 juta.
Kebetulan atau tidak, Anggarini menemukan jalan yang tepat. Dia bergabung dengan Petani Milenial Juara. Mendapatkan akses permodalan yang tak rumit berkat kredit usaha rakyat (KUR) Bank BJB. Mendapatkan bimbingan dari dinas terkait di Jawa Barat.

Kini, dia jadi direktur Kelompok Tani Ikan Lele Marissa Jaya Saksi. Anggotanya 48 orang. Jumlah kolamnya mencapai 180 unit. Jika dulu omsetnya Rp10 juta perbulan, kini jadi Rp570 juta. Setahun, dalam hitungan sederhana, bisa Rp6,8 miliar. Sekali lagi, dalam hitungan sederhana, jika keuntungan 10% saja, dia bisa mengantongi Rp57 juta perbulan, Rp680 juta pertahun.

Dia telah menjadi apa yang dicita-citakan program petani milenial Jawa Barat. Tinggal di desa, rezeki kota, dan bisnis mendunia. Sejauh ini, bisnis Anggraini memang baru menyentuh DKI Jakarta, Kabupaten/Kota Bekasi, dan kawasan Bandung Raya.

Petani milenial? Ini memang program baru di Pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Diperkenalkan pada 2020, diluncurkan tahun berikutnya. Dia ditujukan kepada anak-anak muda Jawa Barat, berusia 19-39 tahun, yang berminat jadi petani.

Program ini diluncurkan untuk regenerasi petani, memanfaatkan lahan tidur, mengatasi ancaman krisis pangan, dan dampak-dampak turunan yang signifikan. Ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat.

Saat ini, regenarasi petani di Jawa Barat berada di bawah ancaman. Terbanyak di kelompok usia 45-49 tahun sebanyak 36,30%. Yang masih muda, dalam rentang usia 30-44 tahun hanya 24,06%. Jika ditarik garis tegas lagi, 75% petani di Jawa Barat berusia 45 tahun ke atas.
Tak mungkin mengharapkan produktivitas yang terus meningkat dari mereka. Selain karena faktor tenaga yang secara alamiah berkurang oleh usia, penerapan teknologi pada kelompok mereka lebih lambat ketimbang kalangan milenial.

Kenapa anak muda ogah jadi petani? Penelitian LIPI pada 2019 menyebut generasi muda melihat profesi petani tidak menguntungkan dan tak membanggakan. Maka, pilihan anak muda saat ini, terutama yang di desa, hijrah ke kota mencari penghidupan.

Itu sebabnya, tingkat urbanisasi Indonesia begitu tinggi. Sebanyak 56,7% penduduk pada 2020 ada di wilayah perkotaan. Tahun 2035 diperkirakan naik jadi 66,6%. Bahkan Bank Dunia memperkirakan tahun 2045, seabad setelah merdeka, penduduk perkotaan di Indonesia bisa mencapai 220 juta jiwa.

Jawa Barat pun begitu. Delapan besar kawasan terpadat penduduk semuanya di kota. Merujuk data 2018, tiap satu kilometer wilayah di Kota Bandung dihuni 14.625 orang, Kota Cimahi 13,964 orang, Kota Bekasi 11.783 orang. Jika pun ada kabupaten masuk 10 besar, maka itu juga wilayah industri.

Tidaklah mengherankan jika kondisi semacam itu membawa kita berada di bawah ancaman krisis pangan. Saat-saat seperti ini, kita merasakan betapa ketergantungan ekspor pangan semakin meningkat.

Maka, petani milenial adalah salah satu solusi. Strateginya tentu tidak bisa dengan cara-cara biasa. Dia harus mengikuti perkembangan zaman. Petani milenial tak hanya dituntut memiliki kemauan, modal, tenaga, dan lahan, tapi juga pikiran. Dia harus inovatif, penuh gagasan, dan memiliki kreativitas.

Bertani, tentu saja, aktivitas yang secara tradisi, melekat dengan kebanyakan masyarakat. Tapi, dia tak bisa berhenti sampai di situ. Dia harus memanfaatkan segala bentuk kemajuan zaman, termasuk teknologi digital di era saat ini.

Jangan heran jika petani milenial yang berbisnis tambak lele di Indramayu kini tak perlu keliling kolam lagi menebar pakan ternak. Sebagian mereka sudah bisa mengatur pemberian pakan secara otomatis melalui e-Fisehry, memanfaatkan ponsel pintar.

Jangan heran pula, petani milenial yang mengusahakan tanaman kembang di Kabupaten Bogor, tak perlu keliling pasar –apalagi berurusan dengan tengkulak—dalam memasarkan produknya. Mereka sudah menggunakan market place, termasuk untuk kepentingan ekspor.

Begitu banyaknya aspek pertanian zaman ini membuat Pemprov Jawa Barat melibatkan begitu banyak dinas, instansi, lembaga, BUMD, baik yang terkait langsung dengan pertanian dalam arti luas maupun pendukung. Untuk hal-hal teknis, terutama dalam pembinaan petani, dilibatkan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, hingga Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan.

Petani Milenial Juara juga melibatkan Dinas Kominfo dan Jabar Digital Service untuk membangun entitas digitalisasi. Melibatkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta BUMD Agro Jabar dalam pemasaran. Menggandeng Bank BJB sebagai lembaga penyalur KUR untuk petani.

Bank BJB, misalnya, menyalurkan kredit melalui dua skema yang memudahkan petani milenial. Mereka bisa mengajukan kredit secara langsung (direct) jika feasible dan bankable. Jika tidak? Mereka bisa memanfaatkan skema closed loop, yakni berbudi daya sesuai dengan pasar yang tersedia dari offtaker.

Setahun lebih berjalan, program Petani Milenial Juara menghasilkan 1.249 orang anak muda yang melabuhkan pilihannya jadi petani. Tak semua peserta program yang lulus. Bahkan angka kelulusan itu pun hanya sekitar 55% dari mereka yang lolos tahap pertama, dari 9 ribu yang mendaftarkan diri.

Yang menggembirakan, di antara mereka yang lulus adalah petani-petani yang diharapkan bisa menghindarkan ancaman ketahanan pangan masa depan. Ada yang berusia 19-24 tahun sebanyak 19%, 25-29 tahun sebesar 26%, dan paling banyak berusia 30-39 tahun di angka 55%.
Banyak dinamika selama setahun perjalanan Petani Milenial Juara. Sebagian di antaranya kandas di tengah jalan. Kita memahami itu karena program ini bukanlah karpet merah bagi petani pengusaha, melainkan jembatan yang harus dititi dengan upaya secermat mungkin. Ada yang kurang cermat dalam memilih komoditas, ada pula yang gagal panen.

Petani Milenial Juara adalah program seperti mendaki gunung. Dia cukup terjal, karena itu perlu pendampingan, baik teknik maupun modal. Kemampuan dan inovasi petani perlu terus diasah.

Sebagai sebuah upaya meningkatkan kesejahteraan, kebahagiaan, dan memberi pengharapan warga, program ini akan tetap berjalan. Pemprov Jabar memasang target menghadirkan 5 ribu petani milenial sampai akhir 2023.

Kita ingin, ribuan petani muda itu, mengikuti jejak sukses rekan-rekannya. Seperti Yoga Tri Herlambang, yang sukses mengembangkan hobi jadi bisnis peternak kelinci, dengan nilai ekspor Rp1,5 miliar ke Filipina. Atau, laksana Irfan Rahadian yang meraup Rp100 juta per bulan dari lahan kopi seluas 3 hektare di Cimenyan, Kawasan Bandung Utara.

[has]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini