Rekanan Berakhir Dalam Coran
Merdeka.com - Heriyanto (48) kebingungan karena tidak mendapat kabar dari Yusi (45). Dia semakin was-was karena istrinya itu tidak pulang ke rumah. Padahal, sebelumnya Yusi berpamitan pergi untuk menghadiri pengajian.
Yusi pamit kepada suaminya pergi ke pengajian pada Minggu (26/2) sore. Saat itu, tidak ada yang janggal dari kepergian Yusi. Dia pergi bersama Heni Purwaningsih (48), temannya dengan mengendarai sepeda motor matik.
Hingga malam tiba, Yusi tidak kunjung pulang ke rumahnya di Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Heriyanto semakin khawatir. Terlebih nomor handphone-nya tidak bisa dihubungi. Kekhawatiran itu pun terus menghantui. Dia pun berinisiatif melacak keberadaan istrinya melalui GPS.
Usaha Heriyanto sedikit menemukan titik terang. Keberadaan istrinya terlacak. Saat itu, titik terakhir yang dikunjungi Yusi berada di Kota Bekasi, tepatnya di Jalan Nusantara 3, RT 11 RW 22 Kelurahan Jaksampurna, Kecamatan Bekasi Utara.
Keesokan harinya Heriyanto pergi menuju titik terakhir lokasi yang dikunjungi istrinya. Dia mendatangi lokasi itu bersama temannya. Namun setibanya di lokasi pada Senin (27/2) siang, dia tidak mendapati istrinya.
Heriyanto mulai mencari ke sana ke mari. Tiba-tiba, geraknya terhenti ketika melihat dua sepeda motor yang terparkir di teras rumah dengan dinding berwarna kuning. Dia pun menghampiri rumah tersebut.
Saat diamati, ternyata salah satu motor tersebut yang dipakai istrinya saat pergi meninggalkan rumah. Dia juga melihat sandal yang biasa digunakan istrinya. Perasaan Heriyanto campur aduk. Khawatir, cemas sekaligus penasaran. Dia menduga istrinya berada di dalam rumah tersebut.
Heriyanto kemudian mendatangi ketua RT setempat dan berkoordinasi dengan pihak Kepolisian. Dia menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada petugas. Proses pencarian pun berlanjut. Untuk membuktikan rasa penasarannya, pencarian dilakukan dengan melihat rekaman CCTV.
Dugaan Heriyanto mulai terbukti. Dari rekaman CCTV yang terpasang di lingkungan kompleks, istrinya bersama temannya terlihat masuk ke dalam rumah tersebut sekira pukul 17.02 WIB pada Minggu (26/2). Sejak saat itu hingga pukul 17.40 WIB tidak ada aktivitas yang terlihat.
"Dari situ sampai terakhir jam 17.40 WIB tidak ada aktivitas ke luar, dari situ dicek sama suaminya dinyatakan benar," ungkap Ketua RT 11 Purwo Darmanto, Selasa (28/2).
Heriyanto bersama pengurus RT, Kepolisian dan warga setempat mendatangi rumah tersebut. Mereka mengetuk pintu rumah, namun tidak ada jawaban dari dalam. Setelah ditunggu beberapa saat, mereka akhirnya mendobrak pintu rumah itu pada malam hari.
Warga yang berada di lingkungan itu seketika geger. Karena di dalam rumah, ditemukan seorang lelaki tergeletak berlumuran darah di dalam kamar. Pada lengan kirinya juga ditemukan luka sayatan.
Lelaki bernama Permana itu kemudian dilarikan ke rumah sakit. Namun saat di perjalanan, dia meninggal dunia.
Heriyanto tetap bingung dan cemas. Karena di dalam rumah itu, dia tidak mendapati istrinya. Namun dia tetap yakin istrinya berada di rumah tersebut. Karena, beberapa barang milik Yusi seperti handphone dan tas ditemukan di dalam rumah tersebut.
Setelah mencari di berbagai ruangan, Yusi tidak juga ditemukan. Begitu juga dengan Heni, temannya. Tiba-tiba polisi menemukan sesuatu yang mencurigakan, tepatnya di bawah tangga. Saat diamati, ternyata itu gundukan coran yang masih basah.
Gundukan coran itu berada di lantai keramik. Tingginya sekitar 40 sentimeter dan memanjang. Corannya juga tampak masih basah dan tidak rapi. Saat didekati dan diamati, terlihat ada kain menyembul keluar di antara lubang coran.
Heriyanto tersentak melihat itu. Karena kain warna biru yang menyebul keluar itu mirip pakaian yang dikenakan istrinya saat pergi dari rumah. Untuk memastikannya, polisi kemudian membongkar gundukan coran itu pada Selasa (28/2) pagi.
Seketika Heriyanto lemas ketika melihat coran dibongkar. Ternyata, gundukan coran tersebut berisi dua jasad wanita. Mereka adalah Yusi dan Heni. Jasad mereka dikubur dengan cara dicor bertumpuk saling membelakangi.
Berangkat dari situ, polisi mulai melakukan penyelidikan. Rumah kontrakan yang disewa oleh Permana itu dipasang garis polisi. Sejumlah saksi dimintai keterangan, dan polisi juga mengumpulkan bukti-bukti.
Beberapa bukti yang dikumpulkan seperti sepeda motor korban, handphone korban dan pelaku, sisa material coran di halaman rumah kontrakan pelaku, dua bilah pisau serta rekaman CCTV.
"Ada juga barang bukti yang kita jumpai seperti handphone milik yang ngontrak rumah, handphone korban, sidik jari serta rekaman CCTV, itu semua masih dipelajari penyidik," kata Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Hengki, Rabu (1/3) lalu.
Hari demi hari penyelidikan terus berjalan. Selama penyelidikan ini, Permana berstatus sebagai terduga pelaku pembunuhan dua wanita tersebut. Dia diduga dua jasad wanita tersebut dikubur dengan cara dicor pada Senin (27/2) pagi.
Namun saat itu polisi belum mengetahui motif dari pembunuhan sadis ini, karena pelaku dan korban sudah meninggal dunia.
Sebanyak 14 saksi sudah dimintai keterangan oleh polisi. Hasil autopsi dua wanita tersebut juga sudah terungkap. Dari hasil keterangan saksi-saksi, polisi menyimpulkan motif dari pembunuhan ini karena persoalan utang dalam investasi jual beli besi.
"Motifnya utang. Berjalannya penyelidikan ini dari digital forensik baik handphone, CCTV dan keterangan saksi sejumlah 14 orang, termasuk istrinya P (Permana) udah semua," kata Kasi Humas Polres Metro Bekasi Kota Kompol Erna Ruswing Andari, Rabu (8/3).
Persoalan utang hingga berujung maut ini berawal ketika Yusi meminta kepada suaminya untuk berinvestasi bisnis jual beli besi kepada Permana.
Saat itu, Yusi dan suaminya dijanjikan keuntungan dari investasi tersebut.Yusi juga mengajak Heni untuk berinvestasi kepada Permana yang bekerja di perusahaan jual beli besi. Karena tergiur keuntungan, Heni pun ikut menyerahkan sejumlah untuk bergabung dalam bisnis tersebut.
"Kurang lebih Rp100 juta. Dijanjiin keuntungan, investasi bisnis besi, jadi kaya kirim besi gitu. Jadi suami Y (Yusi) itu pernah menyimpan duit juga atas permintaan Y, jadi inilah kenapa suami Y itu curiganya sama P," kata Erna.
Dari investasi ini, Yusi dan Heni pernah mendapat keuntungan satu kali sebesar Rp20 juta. Keuntungan itu dibagi-bagi. Masing-masing mendapat Rp5 juta.
"Sempat untung sekali Rp20 juta, Rp5 juta dikasih ke temannya Y, Rp5 juta disimpan Y, Rp5 juta lagi sepakat untuk dimasukan ke P. Baru sekali menerima keuntungan habis itu habis," ungkap Erna.
Setelah itu, Yusi dan Heni tidak pernah lagi mendapatkan keuntungan. Dua wanita yang merupakan teman semasa SMP ini pun gelisah. Karena, keuntungan yang selalu dijanjikan tidak pernah terwujud. Beberapa kali Heni menagih keuntungan melalui Yusi, namun tetap saja nihil.
"Ada teman SMP-nya Y yang WhatsApp juga minta tagih ke P, Y juga disuruh lapor aja ke polisi kasus penipuan. Jadi ada juga duit dari teman SMP Y, ditarik oleh Y untuk disimpan ke P dan Y ini punya beban terhadap itu," ungkap Erna.
Dari hasil penyelidikan dan penyidikan, Permana diduga tewas karena bunuh diri usai membunuh dua wanita tersebut. Dia nekat mengakhiri hidupnya dengan cara menyayat pergelangan tangan. Dia melakukan itu karena dalam posisi terjepit saat warga berkumpul hendak mendobrak pintu kontrakannya.
Kasus pembunuhan dua wanita yang jasadnya dicor ini kemungkinan dihentikan, karena kedua korban dan pelaku sudah meninggal dunia.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya