Fenomena Citayam Fashion Week (CFW) berawal dari aktivitas nongkrong remaja asal pinggiran Jakarta di kawasan Dukuh Atas. Dianggap norak, para remaja urban itu menciptakan tren mereka sendiri.
Gaya berpakaian mereka nyentrik dan unik. Harga outfit pun cukup puluhan ribu. Jajan mereka cukup minuman serbuk rasa jeruk dari pedagang kopi keliling. Tak perlu gengsi, yang penting eksis.
Sosiolog Universitas Padjadjaran, Yusar menilai, CFWmerupakan suatu produksi budaya, yakni pertunjukan kekuatan kaum muda atas 'ruangan-ruangan' yang mereka bangun dengan penampilan secara visual. Aktor-aktornya adalah kaum muda.
Yusar menambahkan, fenomena ini merupakan sebuah contoh yang relevan dengan pandangan dari Abercrombie dan Warde (2000) tentang budaya kaum muda yang jika dirangkum terdiri atas tiga hal.
Pertama, maraknya budaya santai yang bukan bekerja. Kedua, hubungan-hubungan sosial kaum muda berada di sekitar kelompok pertemanan sebaya, baik secara kolektif maupun individual. Ketiga, ditandai dengan kepedulian terhadap gaya.
"Ketiga hal tersebut dihasilkan dari kegiatan nongkrong yang kemudian melahirkan ide-ide kreatif khas budaya kaum muda," kata Yusar.
Lebih jauh, Yusar menyebut, ada andil kaum muda kelas menengah yang turut memviralkan CFW jika dikaitkan dengan perkembangan teknologi informasi. "Fenomena tersebut merupakan ejawantah dari budaya kaum muda kontemporer yang sangat mungkin bersifat egaliter tanpa memandang kelas sosial," ujarnya.
Advertisement
Artis Baim Wong mendapat hujatan dari netizen. Penyebabnya, melalui PT Tiger Wong, dia diam-diam mendaftarkan hak cipta merek 'Citayam Fashion Week' ke pangkalan Data Kekayaan Intelektual (PDKI) Kemenkum HAM.
Setelah ramai diprotes, Baim akhirnya menyatakan mencabut pendaftaran merek CFW. Dia beralasan hanya ingin membantu anak muda Indonesia untuk terus bisa berkarya.
Dalam sebuah acara podcast yang tayang di Youtube, Baim mengakui kesalahannya.
"gue mendaftarkan atas nama PT yang sebenarnya awalnya gue tidak tahu. Harusnya Yayasan atau... Yayasan tuh enak lebih ke arah, dia tidak bisa ambil profit cuma gue enggak ngerti, Bro," ucap Baim.
Baim sebelumnya sempat mencari tahu apakah sudah ada pemilik nama Citayam Fashion Week dan ternyata belum ada yang memilikinya. Namun, Baim tidak bisa mendaftarkan HAKI Citayam Fashion Week dengan nama para remaja yang mempoloporinya karena usia mereka yang masih di bawah umur.
Meski mendapatkan hujatan dari berbagai kalangan, artis bernama lengkap Muhammad Ibrahim ini mengaku tidak peduli. Bahkan hingga kini Ia msih tetap terus berkomunikasi dengan Bonge dan kawan-kawan.
"Gue sampai sekarang masih mau bantu, mau itu orang bilang benar atau tidak, bodo amat. Gue sampai sekarang, gue masih komunikasi sama mereka. Masih kayak duh kan diusir sama Satpol PP. Kalau gue tidak peduli buat apa semikirin ini gue," ucap Baim Wong.
Advertisement
Sunyoto Usman, Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut Citayam Fashion Week sebagai fenomena generasi muda urban.
"Semakin menarik banyak orang, murah-meriah, bebas tanpa penyelenggara, gratis. Disambut positif oleh pejabat teras pemerintahan," ujarnya kepada merdeka.com.
Tetapi di lain sisi, Sunyoto melihat ada hak-hak publik terutama pengguna transportasi yang terganggu. Fasilitas publik berubah fungsi alias dimanipulasi dan dimonopoli oleh remaja CFW.
Soal munculnya upaya mengklaim mereka CFW dengan mendaftarkan HAKI, Sosiolog Universitas Padjadjaran, Yusar menilai ada motif mengambil keuntungan.
"Suatu hal yang viral dan dibicarakan oleh masyarakat luas, di atas kertas merupakan bahan potensial untuk pasar yang bisa dimanfaatkan," kata Yusar.
Dan tentu saja, untuk memanfaatkan 'bahan' tersebut, Yusar mengatakan, pihak tersebut harus memiliki hak patennya agar bisa menjadi merek dagang.
"Motifnya keuntungan, terlepas dari apapun retorika yang disampaikan oleh pihak yang mendaftarkan," pungkasnya.