Pesan sarat makna dari Benua Amerika

Keinginan membangun bisnis sosial bagi tuna rungu muncul ketika Dissa menjadi relawan di Nicaragua, Amerika Latin.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pesan sarat makna dari Benua Amerika
Kafe dan cuci mobil penyandang disabilitas. ©2016 Merdeka.com/Muhammad Zul Atsari

Pemilik Fringetalk Deaf Cafe and Car Wash, Dissa Syakina Ahdanisa memimpikan memiliki banyak kafe dan pencucian mobil yang hanya mempekerjakan mereka yang berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas khususnya tuna rungu. Dia menyebutnya sebagai bisnis sosial. Mengedepankan pemberdayaan terhadap penyandang disabilitas tapi tetap memperhitungkan pundi-pundi uang sebagai pemasukan untuk menggaji mereka.

Keinginan membangun bisnis sosial bagi tuna rungu muncul ketika Dissa menjadi relawan di Nicaragua, Amerika Latin. Di sana ada sebuah cafe yang semua pegawai tuna rungu dan tuna wicara. Dia berdecak kagum, ada orang yang mempekerjakan penyandang disabilitas. Lantas dia mulai berpikir mencoba menerapkan ide serupa di Tanah Air.

Pada 2015, dara kelahiran 26 Februari 1990 itu kembali ke Indonesia. Dissa berdiskusi dengan keluarga tentang keinginannya membuka kafe yang seluruh pekerjanya tuna rungu. Kedua orangtua sempat meragukan ide Dissa. Mereka lebih senang jika anak sulungnya itu kembali bekerja di Singapura.

"Saya tetap keukeuh mau bikin kafe itu, akhirnya mereka support saya. Ini bisnis sosial. Tampilan sosial, bisa mempekerjakan banyak orang, tapi ada sisi bisnisnya," ujar Dissa kepada merdeka.com di Cinere, Tangerang Selatan, akhir pekan lalu.

Akhirnya kafe pertama mulai berdiri di Jalan Pinang Raya No 37, RT 001 RW 014, Pamulang Timur, Kota Tangerang Selatan. Tempat itu milik ketua gerakan kesejahteraan tuna rungu. Dia mempersilakan Dissa menggunakan tempat itu untuk dijadikan Deaf Cafe Fringetalk. Modal awal sekitar Rp 50 juta. Modal itu merupakan uang tabungannya saat masih bekerja di Singapura. Tanggapan positif bermunculan dari pengunjung Deaf Cafe Fringetalk. Dalam kurun waktu satu tahun, Dissa sudah mempekerjakan 20 orang yang semuanya tuna rungu.

Berbekal semangat kerja yang tinggi, salah satu pegawainya menyarankan agar Dissa membuka tempat pencucian mobil. Lalu mereka bersama-sama mencari lokasi yang sekiranya strategis agar banyak pengunjung. Setelah survei ke beberapa lokasi, dipilih lah di Jalan Cinere Raya. Selain tempat yang strategis, di wilayah sekitar jarang ditemukan tempat pencucian mobil dan motor. Untuk melengkapi tempat pencucian mobil dan motor, Dissa juga mendirikan kafe agar pengunjung dapat menikmati sajian yang diolah oleh para pekerja difabel. Sampai saat ini, omzet kafe miliknya sekitar Rp 30 juta per bulan.

"Modal Deaf Cafe and Car Wash ini sekitar Rp 100 juta. Kami buka dari jam 07.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB," kata Dissa.

Dissa tidak kesulitan merekrut pegawai. Kebanyakan, mereka yang melamar pekerjaan di kafenya atau pencucian mobil, mendapat informasi dari rekan-rekannya sesama penyandang disabilitas. Apalagi Dissa mengenal ketua gerakan kesejahteraan tuna rungu yang memiliki jaringan luas dengan para penyandang disabilitas. Dissa juga memanfaatkan media sosial untuk mencari karyawan. Kebanyakan pelamar diterima sebagai karyawan. Dissa pun tidak mengharuskan calon karyawannya harus memiliki pengalaman kerja. Terpenting, mereka punya keinginan bekerja dan belajar.

"Mereka datang ke sini, kita interview kalau cocok kita suruh datang lagi, kalau nggak ya mohon maaf," ucapnya.

Dissa selalu memperhatikan cara kerja pegawainya satu per satu. Dengan sabar Dissa berulang-ulang memberi tahu tugas mereka masing-masing serta berpesan agar mereka memperhatikan keinginan dan pesanan pelanggan. Selain di kafe, Dissa juga rajin memantau pegawai di bagian pencucian mobil yang baru mulai aktif beroperasi sepekan lalu. Sejauh ini, pegawai pencuci mobil cukup semangat. Agar teratur tertib, Dissa mempercayakan satu orang sebagai leader di bagian pencucian mobil.

Dissa memperhatikan betul hak para pegawainya. Salah satunya soal gaji yang harus sesuai upah minum regional (UMR). Mereka juga diberikan uang transportasi. Bahkan, disediakan kamar bagi pekerja yang datang dari luar kota. Dia bersyukur bisa ikut memberdayakan penyandang disabilitas. Sebab, selama ini mereka hanya dipandang sebelah mata. Padahal mereka memiliki banyak kemampuan.

Rekomendasi